Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, baru-baru ini membuat wacana yang cukup menarik perhatian publik. Ia mengusulkan agar ajaran mulia dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dapat diintegrasikan sebagai kurikulum pembentukan karakter bagi siswa SMA/SMK di seluruh Jatim.
Wacana ini disampaikan Khofifah dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di PP Al Mahrusiyah Lirboyo, Kota Kediri. Sebuah langkah berani yang diharapkan mampu mencetak generasi muda berakhlak mulia dan memiliki fondasi spiritual yang kuat.
Mengapa Ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani Begitu Penting?
Khofifah menegaskan bahwa ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki nilai-nilai luhur yang sangat relevan untuk pendidikan karakter. Terutama yang tertuang dalam Kitab Nashoihul Jailani, yang berisi beragam nasihat fundamental.
Kitab ini, menurut Gubernur Jatim, mencakup pelajaran penting tentang keikhlasan, rasa syukur, kesabaran, hingga akhlak mulia. Nilai-nilai ini menjadi fondasi kuat dalam membangun kepribadian siswa di tengah tantangan zaman.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya keikhlasan dalam setiap tindakan, terutama dalam mengamalkan ilmu. "Ikhlas itu tidak sederhana, maka itu salah satu substansi dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani," ujarnya, menekankan kedalaman ajaran tersebut.
Khofifah percaya bahwa dengan memahami dan mengamalkan ajaran ini, para pelajar akan memiliki bekal moral yang kokoh. Ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jalan Menuju Kurikulum: Kitab Nashoihul Jailani Siap Dicetak Ulang
Untuk mewujudkan wacana ini, Khofifah tak hanya bicara. Ia mengaku telah meminta izin untuk mencetak ulang Kitab Nashoihul Jailani. Ini menunjukkan keseriusan dan komitmennya terhadap implementasi ide ini.
Kabar baiknya, kitab ini sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia, sehingga akan lebih mudah dipahami oleh para pelajar. Rencananya, kitab ini akan dicetak dalam tiga jilid, memastikan kelengkapan materi yang akan diajarkan.
Gubernur berharap besar agar materi dari kitab ini bisa menjadi kurikulum utama dalam pendidikan karakter di jenjang SMA/SMK. Tujuannya jelas, agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang bersyukur, sabar, ikhlas, dan tawakal.
Ia membayangkan sebuah kurikulum yang tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan akhlak. Dengan begitu, generasi muda Jatim akan menjadi individu yang seimbang antara ilmu dan budi pekerti.
Tiga Pilar Utama dalam Menuntut Ilmu: Perspektif Keturunan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Dalam kesempatan yang sama, Syekh Afeefuddin Al-Jailani, keturunan ke-19 Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, turut memberikan pencerahan. Ia menjelaskan tiga prinsip esensial dalam menuntut ilmu yang diwariskan oleh leluhurnya.
Ketiga prinsip tersebut adalah ilmu, amal, dan keikhlasan dalam mencari ilmu. Menurutnya, ketiganya harus saling melengkapi pada diri seorang santri atau pelajar untuk mencapai kesuksesan sejati.
Seorang santri tidak bisa hanya menguatkan ilmu tanpa amal dan ikhlas, atau sebaliknya. "Tiga-tiganya benar harus ada pada diri seorang santri," tegas Syekh Afeefuddin, menekankan pentingnya keseimbangan ini.
Ia mencontohkan kisah sukses Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sendiri. Saat pertama kali tiba di Baghdad, beliau tidak dikenal, namun dengan memegang teguh tiga prinsip ini, pada usia 55 tahun beliau diakui sebagai syeikh para masyayikh di seluruh kota.
Pesan Syekh Afeefuddin jelas: jika para pelajar mampu memegang teguh tiga prinsip tadi, maka itulah jalan yang ditempuh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Jalan menuju kesuksesan yang tidak hanya duniawi, tetapi juga ukhrawi.
Menjadi Duta Toleransi dan Kasih Sayang untuk Dunia
Lebih jauh, Syekh Afeefuddin Al-Jailani juga menyampaikan harapan besar bagi para pelajar. Ia ingin mereka tidak hanya sukses dan bisa mengajarkan ilmunya di Indonesia, tetapi juga mampu menyebarkan ilmunya hingga ke mancanegara.
Yang terpenting, mereka diharapkan bisa mengajarkan budaya toleransi dan kasih sayang yang ada di Indonesia ke negara lain. Dengan demikian, mereka akan dianggap sebagai "duta Rasulullah SAW" dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan universal.
Visi ini menunjukkan betapa luasnya dampak yang diharapkan dari pendidikan karakter berbasis ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia.
Ini adalah panggilan untuk menjadi agen perubahan, membawa pesan damai dan persaudaraan dari Indonesia ke kancah global. Sebuah misi mulia yang dimulai dari bangku sekolah.
Semarak Maulid Nabi di Pesantren Lirboyo
Acara Maulid Nabi Muhammad SAW di PP Al Mahrusiyah Lirboyo sendiri berlangsung meriah dan penuh khidmat. Kegiatan ini juga diwarnai dengan pembacaan Maulid Simtudduror oleh para santri, menambah syahdu suasana.
Berbagai tokoh penting turut hadir, termasuk keluarga besar PP Al Mahrusiyah Lirboyo, perwakilan PCNU Kota Kediri, para alumni pesantren, serta ratusan santri putra dan putri. Kehadiran mereka menambah semarak dan keberkahan acara.
Momen ini menjadi saksi bisu dari sebuah wacana besar yang berpotensi mengubah wajah pendidikan karakter di Jawa Timur. Sebuah pertemuan antara ulama, pemimpin daerah, dan generasi penerus yang penuh harapan.
Wacana Gubernur Khofifah untuk mengintegrasikan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ke dalam kurikulum SMA/SMK Jatim adalah sebuah langkah progresif. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.
Jika terealisasi, inisiatif ini berpotensi besar membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan dan moralitas generasi penerus bangsa. Sebuah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, dimulai dari nilai-nilai luhur para wali.


















