Dunia sepak bola kembali diguncang dengan kabar mengejutkan dari Santiago Bernabeu. Xabi Alonso, sosok yang dielu-elukan sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan, secara mendadak dipecat dari kursi pelatih Real Madrid. Keputusan drastis ini datang tak lama setelah Los Blancos menelan pil pahit, gagal menjuarai Piala Super Spanyol usai takluk 2-3 dari rival abadi, Barcelona.
Namun, benarkah kegagalan di lapangan menjadi satu-satunya alasan di balik perpisahan yang begitu cepat ini? Banyak pihak berspekulasi bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar di balik layar, sebuah skenario yang melibatkan Florentino Perez, sang presiden Real Madrid yang dikenal sangat dominan dan memiliki visi yang tak tergoyahkan.
Nama Alvaro Arbeloa, mantan bek Madrid yang kini ditunjuk sebagai pengganti sementara, langsung mencuat. Penunjukannya memicu perdebatan, dengan banyak yang menyebut Arbeloa bakal menjadi ‘boneka’ baru di tangan Perez, mengikuti jejak pelatih-pelatih sebelumnya yang sukses karena patuh pada sang presiden.
Drama Pergantian Pelatih di Santiago Bernabeu
Perpisahan antara Xabi Alonso dan Real Madrid resmi terjadi pada Selasa (13/1) dini hari WIB, menandai berakhirnya era singkat Alonso di Bernabeu. Periode ini diwarnai ekspektasi tinggi, mengingat reputasi Alonso yang gemilang bersama Bayer Leverkusen, namun berakhir dengan kontroversi yang tak terhindarkan.
Bagi banyak pengamat dan media olahraga, pemecatan Alonso bukan semata-mata keputusan teknis yang didasari performa tim. Lebih dari itu, ini adalah cerminan dari kekuasaan mutlak Florentino Perez, seorang presiden yang tak ragu membuat keputusan besar demi menjaga filosofi dan citra klub sesuai keinginannya.
Xabi Alonso: Korban Kekuasaan Florentino Perez?
Florentino Perez dikenal memiliki filosofi kepelatihan yang sangat spesifik, yang kerap kali menjadi pedoman tak tertulis bagi setiap manajer di Real Madrid. Sayangnya, Alonso, dengan segala idealismenya, tampaknya gagal memenuhi ekspektasi tersebut, bahkan mungkin menentangnya.
Perez, yang membangun era Galacticos, sangat mengagumi pelatih yang mampu mengelola ego para bintang dan memberikan mereka kebebasan penuh di lapangan. Ia tidak menyukai manajer yang terlalu banyak bereksperimen dengan taktik rumit atau yang berpotensi menimbulkan gesekan di ruang ganti.
Taktik Kaku vs. Kebebasan Bintang: Akar Konflik Alonso dan Perez
Menurut laporan dari media Spanyol, Sport, Alonso dianggap terlalu "teknokratis" dan memiliki taktik yang kaku. Ia lebih mengedepankan sistem dan strategi di atas lapangan, bahkan jika itu berarti membatasi kreativitas dan kebebasan para bintang Madrid. Inilah yang menjadi akar konflik utamanya dengan Perez.
Florentino Perez, di sisi lain, menginginkan pelatih yang mampu membiarkan pemain bintangnya berekspresi bebas, mengeluarkan potensi terbaik mereka tanpa terlalu banyak batasan taktis. Ia menyukai manajer yang pandai mengelola ruang ganti, menjaga para pemain tetap senang, dan menghindari segala bentuk eksperimen taktik yang rumit atau dianggap "menyusahkan."
Perez percaya bahwa bintang-bintang Real Madrid adalah aset terbesar klub, dan pelatih harus mampu memaksimalkan mereka, bukan mengikat mereka dalam sistem yang terlalu rigid. Filosofi ini telah menjadi ciri khas kepemimpinannya, yang seringkali memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola.
Jejak Konflik Alonso dengan Para Bintang Madrid
Gaya kepelatihan Alonso yang cenderung kaku ini disebut-sebut memicu gesekan dengan beberapa pemain kunci di skuad. Jude Bellingham, Vinicius Junior, bahkan Rodrygo, dikabarkan sempat merasakan ketidaknyamanan atau berkonflik dengannya terkait peran dan kebebasan bermain.
Alonso juga pernah membuat keputusan kontroversial dengan memaksa Federico Valverde bermain sebagai bek kanan, sebuah posisi yang bukan naturalnya. Keputusan-keputusan seperti ini, yang mengedepankan taktik di atas kenyamanan pemain bintang, jelas tidak disukai oleh Perez.
Situasi ini sangat berbeda jauh dengan pelatih-pelatih sukses di era Perez seperti Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti. Keduanya dikenal adaptif, mampu bergaul baik dengan ide-ide Perez, dan selalu menempatkan kenyamanan serta performa bintang-bintang di prioritas utama. Mereka tahu bagaimana "memanjakan" para pemain kunci tanpa mengorbankan hasil.
Sejarah Pelatih yang Gagal Penuhi Keinginan Perez
Sejarah Real Madrid di bawah kepemimpinan Florentino Perez memang penuh dengan contoh pelatih yang mencoba "melawan arus" dan berakhir dipecat. Rafael Benitez dan Julen Lopetegui adalah dua nama yang pernah mencoba mengintervensi kebijakan sang bos, namun akhirnya gagal total.
Mereka tidak bisa beradaptasi dengan filosofi Perez yang lebih mengutamakan harmoni ruang ganti, kebebasan bintang, dan citra klub secara keseluruhan. Alonso, dengan segala idealismenya yang kuat, tampaknya mengikuti jejak para pendahulunya yang bernasib serupa, sebuah pola yang terus berulang di Bernabeu.
Titik Puncak Kesabaran Perez
Perpisahan ini sebenarnya sudah lama dinanti oleh Perez, yang dikenal tidak sabar dengan hasil buruk dan konflik internal. Kekalahan memalukan dari Atletico Madrid dan Manchester City di Liga Champions pada musim sebelumnya menjadi sinyal awal bahwa posisi Alonso tidak aman.
Meskipun Alonso sempat "selamat" berkat kemenangan penting atas Alaves dan Sevilla, kegagalan di Piala Super Spanyol melawan Barcelona menjadi pemicu terakhir. Kekalahan 2-3 dari rival abadi di Arab Saudi menjadi titik didih kesabaran Perez. Bagi sang presiden, kegagalan di laga penting seperti itu adalah hal yang tidak bisa ditoleransi, terutama jika dikaitkan dengan konflik internal dan taktik yang tidak sesuai seleranya.
Arbeloa, Sang ‘Boneka’ Baru di Tangan Perez?
Kini, sorotan beralih ke Alvaro Arbeloa, mantan bek Real Madrid yang ditunjuk sebagai pengganti sementara. Arbeloa, yang pernah membela Los Blancos selama tujuh musim dan memenangkan Liga Champions, dikenal memiliki loyalitas tinggi terhadap klub dan, secara implisit, terhadap Florentino Perez.
Sebelumnya, Arbeloa melatih tim Madrid Castilla, dan penunjukannya ini langsung memicu anggapan bahwa ia akan menjadi ‘boneka’ baru bagi Florentino Perez. Anggapan ini muncul karena Arbeloa dianggap cocok dengan profil pelatih yang diinginkan Perez: seseorang yang akan mengikuti kemauannya, menjaga stabilitas ruang ganti, dan tidak akan terlalu banyak bereksperimen dengan taktik rumit.
Ini adalah kesempatan emas bagi Arbeloa untuk membuktikan dirinya di level tertinggi, namun dengan bayang-bayang kontrol penuh dari sang presiden. Pertanyaannya, apakah Arbeloa akan mampu menyeimbangkan ambisinya sendiri dengan tuntutan dari Perez?
Jalan Mulus Arbeloa di Awal Kepemimpinan
Beruntung bagi Arbeloa, ia dihadapkan pada jadwal pertandingan yang relatif tidak sulit di awal kepemimpinannya. Madrid akan menghadapi tim-tim seperti Albacete, Levante, dan AS Monaco dalam tiga laga pertamanya. Ini adalah kesempatan bagus untuk membangun momentum dan kepercayaan diri tim tanpa tekanan yang terlalu besar.
Tiga pertandingan ini bisa memberikan kebangkitan bagi Madrid, setidaknya secara moral dan psikologis. Lebih penting lagi, Arbeloa diharapkan bisa membuat para bintang Madrid tetap senang, mengembalikan suasana positif di ruang ganti, dan tentu saja, menenangkan hati Florentino Perez. Keberhasilan Arbeloa mungkin tidak akan diukur dari trofi di awal, melainkan dari kemampuannya menjaga harmoni dan mengikuti arahan sang bos.
Masa Depan Real Madrid di Bawah Bayang-bayang Perez
Pergantian pelatih ini sekali lagi menegaskan bahwa di Real Madrid, Florentino Perez adalah pengambil keputusan utama. Visi dan filosofinya akan selalu menjadi prioritas tertinggi, dan setiap pelatih harus mampu beradaptasi dengan hal tersebut jika ingin bertahan lama di kursi panas Bernabeu.
Klub sebesar Real Madrid memang selalu berada di bawah tekanan besar, baik dari fans, media, maupun dari internal klub itu sendiri. Namun, di bawah Perez, tekanan itu seringkali datang dari satu sumber utama: sang presiden sendiri.
Masa depan Real Madrid kini berada di tangan Arbeloa, namun dengan kendali penuh dari Perez. Apakah Arbeloa akan mampu menjadi "boneka" yang sukses, mampu membawa Madrid meraih kejayaan tanpa menentang kehendak sang presiden, seperti yang dilakukan Zidane dan Ancelotti? Atau, apakah ia akan menjadi korban berikutnya dari kekuasaan absolut Florentino Perez? Hanya waktu yang bisa menjawab teka-teki ini di panggung sepak bola Eropa.


















