Timnas Futsal Indonesia kembali menunjukkan dominasinya di ajang Four Nations Cup 2025. Kali ini, Belanda menjadi korban keganasan Tim Merah Putih dengan skor telak 5-1 dalam laga yang digelar di GBK Basketball Hall, Jakarta. Kemenangan ini seharusnya disambut euforia, namun tidak bagi sang pelatih, Hector Souto.
Alih-alih puas, juru taktik asal Spanyol itu justru meluapkan kekesalannya. Ekspresi kemarahan Souto terekam jelas usai pertandingan, meninggalkan banyak pertanyaan di benak para penggemar dan pengamat futsal nasional. Ada apa sebenarnya di balik kemenangan besar ini?
Kemenangan Telak yang Penuh Drama
Indonesia memang tampil perkasa, mencetak lima gol ke gawang Belanda dan hanya kebobolan satu. Ini adalah kemenangan kedua beruntun setelah sebelumnya membungkam Tanzania dengan skor 7-1. Hasil impresif ini menempatkan Timnas Futsal di posisi terdepan untuk meraih gelar juara turnamen.
Namun, di mata Souto, skor akhir hanyalah angka. Ia melihat lebih jauh, menyoroti performa tim yang masih jauh dari kata sempurna. Kemenangan telak ini ternyata menyimpan drama dan pelajaran berharga yang membuat sang pelatih murka.
Standar Tinggi Sang Arsitek Spanyol
Hector Souto dikenal sebagai pelatih dengan standar yang sangat tinggi. Baginya, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk menguji dan meningkatkan kualitas tim, bukan sekadar mencari kemenangan. Filosofi ini terlihat jelas dari komentarnya pasca-laga.
"Anda harus belajar dari kesalahan, seperti satu kebobolan dan satu kartu merah di pertandingan pertama, dua kartu kuning dan kartu merah di pertandingan kedua di menit-menit terakhir," tegas Souto dengan nada kecewa. "Ini tidak mungkin [boleh] terjadi di turnamen resmi."
Kartu Merah Beruntun: Momok Timnas Futsal?
Salah satu poin utama yang membuat Souto tidak puas adalah masalah disiplin pemain. Untuk kali kedua secara beruntun, Timnas Futsal Indonesia harus bermain dengan sepuluh orang karena kartu merah. Setelah Mochammad Iqbal di laga kontra Tanzania, kini giliran Firman Adriansyah yang diusir wasit saat melawan Belanda.
Insiden kartu merah ini menjadi sorotan serius bagi Souto. Ia khawatir, jika kebiasaan ini terus berlanjut, akan sangat merugikan tim di turnamen-turnamen yang lebih krusial di masa depan, terutama jika menyangkut mimpi besar Piala Dunia.
Protes Keras di Penghujung Laga
Kartu merah yang diterima Firman Adriansyah menjadi puncak kemarahan Souto. Firman dihadiahi kartu kuning kedua oleh wasit ketika pertandingan hanya tersisa 16 detik. Sebuah keputusan yang sangat disesalkan dan memicu emosi pelatih berusia 43 tahun itu.
"Saya tak suka dengan cara tim kami bermain di 10 menit terakhir. Saya tak mengerti, makanya saya protes kepada wasit," ungkap Souto. Ia mempertanyakan keputusan wasit yang dinilai terlalu keras di momen krusial tersebut, mengingat dampaknya pada pertandingan selanjutnya.
Kehilangan Firman Adriansyah untuk laga penentu melawan Latvia adalah kerugian besar. Souto sangat menyayangkan, "Bagi kami, kehilangan satu pemain berarti sangat penting. Wasit seharusnya mempertimbangkan situasi spesial ini."
Emosi Souto semakin memuncak karena ia tahu bahwa Firman tidak akan bisa bermain lagi bersamanya hingga November. "Itulah mengapa saya sedikit emosi karena sampai November saya tak akan bertemu Firman lagi. Makanya, saya sebenarnya ingin dia bermain besok [Minggu lawan Latvia]," tambahnya, menunjukkan betapa berharganya setiap pemain di mata sang pelatih.
Mimpi Piala Dunia dan Jalan Terjal Tim Merah Putih
Di balik semua kemarahan dan kekecewaan itu, tersimpan ambisi besar Hector Souto: membawa Timnas Futsal Indonesia lolos ke Piala Dunia. Ia tahu betul bahwa untuk mencapai level tersebut, tim harus tampil sempurna, tidak boleh ada kesalahan sepele, apalagi masalah disiplin yang berujung kartu merah.
"Saya tidak akan puas sampai kami lolos ke Piala Dunia," tegas Souto. Kalimat ini menjadi penegas bahwa Four Nations Cup hanyalah batu loncatan, sebuah ajang uji coba untuk melihat sejauh mana kesiapan tim menghadapi tantangan yang lebih besar.
Perjalanan menuju Piala Dunia tentu tidak mudah. Insiden kartu merah beruntun dan kesalahan-kesalahan yang masih terjadi, meski dalam kemenangan telak, menjadi alarm bagi Hector Souto dan seluruh skuad Timnas Futsal Indonesia. Mereka harus segera berbenah, belajar dari setiap detail, agar mimpi besar itu bisa terwujud.
Kemenangan 5-1 atas Belanda memang patut dirayakan, namun kemarahan Hector Souto adalah pengingat penting. Bahwa di level tertinggi, setiap detail sangat berarti. Disiplin, fokus, dan minimnya kesalahan adalah kunci untuk bersaing di panggung dunia. Timnas Futsal Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar, dan sang pelatih tak akan berhenti menuntut kesempurnaan hingga target tertinggi tercapai.


















