Ketegangan geopolitik di Karibia memanas. Venezuela secara terang-terangan menyelenggarakan pelatihan militer satu hari bagi warga sipilnya pada Sabtu (20/9) lalu. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap pengerahan militer Amerika Serikat (AS) di perairan internasional dekat Venezuela dan ancaman terbaru dari Presiden Donald Trump.
Latihan Militer Massal untuk Warga Sipil: Persiapan Hadapi Ancaman AS
Ribuan warga sipil Venezuela, dari berbagai latar belakang, berbondong-bondong mengikuti pelatihan militer ini. Mereka diajari dasar-dasar penggunaan senjata, taktik pertahanan diri, hingga strategi ‘perlawanan revolusioner’. Ini adalah upaya serius Venezuela untuk mempersiapkan rakyatnya menghadapi potensi konflik yang semakin nyata.
Pelatihan ini bukan sekadar simulasi biasa. Di kawasan Petare, Caracas, jalan utama ditutup total demi kelancaran kursus singkat tersebut. Para peserta diajak memahami senjata, pertolongan pertama dasar, dan bahkan ‘pemikiran ideologis’ untuk membangkitkan semangat nasionalisme.
Luzbi Monterola, seorang pekerja kantoran berusia 38 tahun, mengungkapkan tekadnya. "Saya di sini untuk mempelajari apa yang perlu saya pelajari untuk membela apa yang benar-benar penting bagi saya: negara saya, tanah air saya, bangsa saya, Venezuela," ujarnya dengan tegas. "Saya tidak takut pada apa pun dan siapa pun."
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memang telah lama berupaya memobilisasi warga sipilnya. Ia ingin menciptakan kekuatan pertahanan yang solid, melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya militer profesional. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjangnya untuk menghadapi tekanan eksternal.
‘Perang Tak Dideklarasikan’ di Karibia: Tuduhan Venezuela ke AS
Venezuela menuduh AS melancarkan ‘perang yang tidak dideklarasikan’ di Karibia. Tuduhan ini muncul setelah AS mengerahkan kapal perang ke perairan internasional di lepas pantai Venezuela hampir sebulan lalu. Armada ini juga didukung oleh pesawat tempur F-35 yang dikirim ke Puerto Rico, dalam misi yang disebut operasi antinarkoba.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, tidak segan-segan melontarkan kritik pedas. Ia menyatakan bahwa AS telah menewaskan belasan orang terduga pengedar narkoba di lepas pantai Venezuela, yang menurutnya adalah bagian dari agresi terselubung. Venezuela melihat ini sebagai upaya AS untuk memicu perubahan rezim dan menguasai sumber daya alamnya.
Lebih jauh, Venezuela menuduh AS sedang berusaha mendorong perubahan rezim di negara tersebut. Mereka percaya bahwa tujuan utama di balik operasi antinarkoba ini adalah untuk mencuri minyak, emas, dan sumber daya lainnya yang melimpah di Venezuela. Ini adalah narasi yang terus-menerus digaungkan oleh pemerintah Maduro.
Ketegangan Memuncak: Ancaman Baru dari Donald Trump
Situasi semakin memanas dengan ancaman baru dari Presiden AS Donald Trump. Pada Sabtu (20/9), Trump memperingatkan Venezuela bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi ‘tak terhitung’ jika menolak menerima kembali migran yang katanya telah ‘dipaksa masuk ke AS’. Pernyataan ini menambah daftar panjang ketegangan antara kedua negara.
Sebelumnya, pada Jumat, sebuah pesawat AS membawa kembali 185 warga Venezuela ke Caracas. Ini menjadikan jumlah total pemulangan lebih dari 13.000 orang sejak Trump kembali menjabat pada bulan Januari. Isu migran ini menjadi salah satu kartu yang dimainkan AS untuk menekan pemerintahan Maduro.
Hubungan AS-Venezuela memang telah lama tegang, terutama sejak era Hugo Chavez. Tuduhan AS terhadap Nicolas Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba semakin memperkeruh suasana. Ini menciptakan lingkaran setan saling tuding dan ancaman yang tak berkesudahan.
Antusiasme Warga dan Realita di Lapangan
Meskipun ada ancaman dan ketegangan, antusiasme warga untuk mengikuti pelatihan militer cukup terlihat. Di Petare, tentara melatih relawan dalam kelompok-kelompok kecil tentang cara menangani senjata. Mereka juga diajari tentang pentingnya memakai masker, pertolongan pertama dasar, dan ‘pemikiran ideologis’ untuk memperkuat semangat revolusi.
John Noriega, seorang remaja 16 tahun yang datang ke acara di Petare bersama orang tuanya, menunjukkan semangat yang sama. "Semua ini tentang minyak, emas, berlian — sumber daya kami," katanya. "Kami akan memperjuangkan apa yang menjadi milik kami." Pernyataan ini mencerminkan sentimen nasionalisme yang kuat di kalangan warga Venezuela.
Namun, di balik semangat tersebut, realita di lapangan menunjukkan tantangan tersendiri. Unjuk kekuatan militer yang diperintahkan Maduro pekan lalu, dengan sekitar 25 kendaraan lapis baja berparade di ibu kota, berlangsung tenang. Jumlah peserta pelatihan di beberapa lokasi, seperti San Cristobal dan Barinas, juga dilaporkan rendah oleh koresponden AFP.
Kawasan Petare sendiri memiliki sejarah penting. Dulunya, Petare pernah menjadi titik awal mayoritas aksi protes terhadap terpilihnya kembali Maduro sebagai presiden pada Juli 2024. Oposisi dan sebagian besar komunitas internasional menganggap pemilihan itu curang, menambah kompleksitas situasi politik internal Venezuela.
Pertarungan Sumber Daya dan Kedaulatan: Masa Depan Venezuela di Ujung Tanduk
Pertarungan antara Venezuela dan AS bukan hanya tentang ideologi atau politik, tetapi juga tentang sumber daya dan kedaulatan. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, serta kekayaan emas dan berlian yang melimpah. Ini menjadi daya tarik sekaligus beban bagi negara tersebut di tengah intrik geopolitik global.
Di pesisir, pemandangan kapal-kapal nelayan yang berlayar berdampingan dengan kapal-kapal angkatan laut, seperti yang ditunjukkan dalam rekaman televisi pemerintah, menjadi simbol. Ini menggambarkan kesiapan Venezuela untuk mempertahankan setiap jengkal wilayahnya, baik di darat maupun di laut.
Menhan Lopez menegaskan kembali semangat perlawanan ini. "Hari ini adalah tonggak sejarah yang kita tandai dalam revolusi militer yang kita semua tulis, rakyat dan Angkatan Bersenjata bersama-sama. Ini adalah revolusi militer sejati!" katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Venezuela tidak akan mundur dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan mereka.
Dengan pelatihan militer sipil ini, Venezuela mengirimkan pesan jelas kepada dunia, terutama AS. Mereka tidak akan gentar menghadapi tekanan dan siap mempertahankan diri dengan segala cara. Masa depan Venezuela, dengan kekayaan sumber daya dan posisi geopolitiknya, kini berada di ujung tanduk, menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.


















