Pernahkah kamu membayangkan bagaimana UMKM lokal bisa "naik kelas" hingga menembus pasar global? PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI ternyata punya jurus ampuh untuk mewujudkan impian itu. Komitmen BNI ini bahkan disaksikan langsung oleh Ratu Maxima, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Inklusi Keuangan, dalam acara National Financial Health Event (NFHE) 2025 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhir November lalu.
Acara bergengsi ini, yang berlangsung di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, bukan sekadar seremoni biasa. NFHE menjadi panggung strategis bagi pemerintah, lembaga keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang kesehatan finansial. Tujuannya jelas: mendorong perilaku keuangan yang lebih bijak, terutama di kalangan kelompok rentan yang seringkali luput dari perhatian.
BNI: Agen Perubahan untuk Ekonomi Inklusif
Direktur Operations BNI, Ronny Venir, menegaskan bahwa keikutsertaan BNI dalam NFHE 2025 adalah bukti nyata kontribusi mereka. BNI ingin menghadirkan ekosistem keuangan yang tidak hanya inklusif dan sehat, tetapi juga berkelanjutan untuk jangka panjang. Ini bukan hanya tentang profit, melainkan juga dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
"BNI hadir untuk memberikan edukasi keuangan dan mendorong pemanfaatan layanan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat," ujar Ronny. Ia menambahkan bahwa fokus BNI mencakup perempuan, pelaku UMKM, pekerja migran, hingga komunitas peduli lingkungan. Ini menunjukkan bahwa BNI melihat inklusi keuangan sebagai fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
Booth Interaktif BNI: Jembatan UMKM ke Pasar Lebih Luas
Dalam gelaran NFHE, BNI tak hanya sekadar hadir sebagai peserta. Mereka membuka sebuah booth interaktif yang menarik perhatian banyak pengunjung. Di booth ini, berbagai produk kerajinan tangan, tas, dan dompet hasil karya UMKM binaan BNI dipamerkan dengan bangga.
Kehadiran booth ini memiliki dua fungsi krusial. Pertama, sebagai sarana edukasi yang menunjukkan potensi UMKM Indonesia. Kedua, dan yang tak kalah penting, sebagai media untuk memperluas akses pasar bagi para pelaku UMKM lokal. Dengan begitu, produk-produk berkualitas mereka bisa ditemukan dan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas, termasuk para pembuat kebijakan dan investor.
Tiga Jurus Jitu BNI: Go Productive, Go Digital, Go Global
Ronny Venir juga menjelaskan bahwa partisipasi BNI di NFHE sejalan dengan strategi pemberdayaan UMKM yang mereka usung. Strategi ini dirancang secara komprehensif dalam tiga tahapan, yaitu Go Productive, Go Digital, dan Go Global. Ketiga pilar ini menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas penetrasi pasar UMKM, bahkan hingga ke kancah internasional.
- Go Productive: Tahap ini fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk UMKM. BNI memberikan pendampingan, pelatihan manajemen usaha, hingga akses permodalan yang sesuai. Tujuannya agar UMKM bisa menghasilkan produk atau layanan yang lebih berkualitas dan efisien, siap bersaing di pasar.
- Go Digital: Di era serbadigital ini, UMKM wajib melek teknologi. BNI memfasilitasi digitalisasi operasional UMKM, mulai dari penggunaan QRIS untuk pembayaran, integrasi dengan platform e-commerce, hingga pelatihan pemasaran digital. Dengan begitu, UMKM bisa menjangkau pelanggan lebih banyak dan mengelola bisnis dengan lebih modern.
- Go Global: Ini adalah puncak dari strategi BNI. Bank pelat merah ini membantu UMKM untuk menembus pasar ekspor. BNI menyediakan layanan pembiayaan ekspor, menghubungkan UMKM dengan pembeli internasional, serta memfasilitasi partisipasi dalam pameran dagang global. Impian UMKM Indonesia untuk mendunia bukan lagi sekadar angan-angan.
Talkshow Inspiratif: Membuka Akses dan Literasi Keuangan
Tak hanya pameran produk, BNI juga aktif menjadi salah satu narasumber dalam sesi talkshow di NFHE. Diskusi yang digelar sangat relevan dengan kebutuhan pelaku usaha dan masyarakat luas. Topik yang dibahas meliputi dukungan akses pembiayaan bagi pelaku usaha serta edukasi keuangan yang disesuaikan untuk berbagai segmen.
Segmen-segmen yang menjadi target edukasi BNI sangat beragam, mulai dari UMKM, guru, pekerja migran, mahasiswa, hingga komunitas peduli lingkungan. Ini menunjukkan komitmen BNI untuk memastikan bahwa literasi dan inklusi keuangan dapat menyentuh setiap lapisan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing.
Kolaborasi Kunci untuk UMKM Naik Kelas
Menurut Ronny, kolaborasi lintas pemangku kepentingan adalah kunci utama dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan. Sinergi antara pemerintah, OJK, lembaga keuangan seperti BNI, dan berbagai komunitas akan mempercepat proses UMKM untuk "naik kelas." Tanpa kerja sama yang solid, upaya ini akan jauh lebih sulit untuk diwujudkan.
"Partisipasi ini sekaligus menunjukkan peran BNI sebagai Agent of Development," kata Ronny. Ia menekankan bahwa BNI mendukung program pemerintah dengan prinsip kehati-hatian dan berorientasi pada profit yang berkelanjutan. Artinya, BNI tidak hanya fokus pada keuntungan semata, tetapi juga pada pembangunan ekonomi yang stabil dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Melalui kontribusi aktifnya pada NFHE 2025, BNI membuktikan komitmennya untuk memperluas edukasi keuangan, mendorong akses pembiayaan yang adil, serta memfasilitasi digitalisasi dan perluasan pasar bagi UMKM. Semua langkah ini adalah bagian integral dari upaya BNI untuk memperkuat fondasi ekonomi masyarakat yang semakin inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan penuh dari BNI, impian UMKM Indonesia untuk meroket dan mendunia kini semakin dekat dengan kenyataan.


















