Kementerian Perdagangan (Kemendag) akhirnya buka suara terkait fenomena harga Minyakita yang kerap melambung tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Ini tentu menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak rumah tangga, terutama para ibu-ibu yang setiap hari berkutat di dapur. Kenaikan harga ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari tantangan distribusi yang kompleks dan dampaknya langsung terasa di kantong masyarakat.
Harga Minyakita di Atas HET: Fenomena yang Bikin Resah
Berdasarkan data terbaru dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) milik Kemendag, harga Minyakita di berbagai daerah terpantau mencapai Rp17.000 hingga Rp19.000 per liter. Angka ini jauh melampaui HET yang seharusnya hanya Rp15.700 per liter. Selisih harga yang signifikan ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa produk yang seharusnya menjadi solusi minyak goreng terjangkau justru sulit didapatkan dengan harga wajar?
Fenomena ini menciptakan keresahan di kalangan konsumen. Minyakita, sebagai program pemerintah untuk menyediakan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga terjangkau, seharusnya menjadi penyelamat di tengah fluktuasi harga komoditas. Namun, kenyataannya, banyak yang harus merogoh kocek lebih dalam, bahkan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa ada celah dalam sistem yang perlu segera ditangani.
Siapa Dalang di Balik Kenaikan Harga Minyakita?
Direktur Tertib Niaga Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kemendag, Mario Josko, akhirnya mengungkap biang kerok di balik harga Minyakita yang kerap ‘bandel’ ini. Menurut Mario, pemicu utama tingginya harga Minyakita adalah faktor distribusi antarpengecer. Ini bukan soal kelangkaan di tingkat produsen, melainkan ‘permainan’ di jalur distribusi yang lebih rendah.
"Di beberapa tempat biasanya harga tinggi itu pengambilan dari pengecer ke pengecer. Jadi, diambil dari toko sebelah, dia jual di tokonya, akhirnya dia naikkan," jelas Mario saat meninjau ketersediaan komoditas minyak goreng jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru di Pasar Pucang Anom, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/12). Pernyataan ini membuka mata kita bahwa masalahnya ada di tingkat yang paling dekat dengan konsumen.
Distribusi ‘Pengecer ke Pengecer’: Celah yang Dimanfaatkan
Modus ‘pengecer ke pengecer’ ini menggambarkan bagaimana sebuah produk yang sudah memiliki HET bisa tetap dijual di atas harga yang seharusnya. Pengecer A membeli Minyakita dari pengecer B (atau bahkan dari distributor yang sama) dengan harga normal, lalu menjualnya kembali ke konsumen dengan harga yang lebih tinggi. Praktik ini, meskipun terlihat sepele, secara kumulatif dapat menciptakan efek domino kenaikan harga di pasar.
Ada beberapa alasan mengapa praktik ini bisa terjadi. Pertama, mungkin ada persepsi kelangkaan di tingkat pengecer, mendorong mereka untuk membeli dari sesama pengecer yang masih memiliki stok. Kedua, ini bisa menjadi upaya untuk mencari keuntungan lebih, memanfaatkan ketidaktahuan konsumen atau kurangnya pilihan di pasar. Ketiga, kurangnya pengawasan yang ketat di setiap mata rantai distribusi memungkinkan celah ini terus dimanfaatkan.
Respons Cepat Kemendag Jelang Nataru
Meskipun menghadapi tantangan ini, Kemendag tidak tinggal diam. Mereka terus melakukan pemantauan dan mengambil langkah antisipasi, terutama menjelang momen krusial seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru). Lonjakan permintaan pada periode ini seringkali menjadi pemicu kenaikan harga, sehingga diperlukan strategi yang matang untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Mario Josko memastikan bahwa stok Minyakita di pasar-pasar Surabaya, Jawa Timur, tergolong aman menjelang Nataru. Bahkan, harganya pun masih terkendali dan tidak melebihi HET Rp15.700. Ini menjadi kabar baik dan menunjukkan bahwa dengan pengawasan yang efektif, harga bisa tetap stabil.
Kondisi Pasar Surabaya: Oase di Tengah Keresahan?
Kondisi di Surabaya yang relatif stabil menjadi contoh bahwa pengendalian harga Minyakita di bawah HET itu mungkin. Keberhasilan ini kemungkinan besar didukung oleh koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, distributor, dan pengecer lokal. Selain itu, Surabaya juga merupakan pusat produksi Minyakita yang menyuplai kebutuhan hingga ke wilayah Indonesia Timur, memberikan keuntungan logistik tersendiri.
"Jadi kalau dari rata-rata nasional memang harga Minyakita relatif stabil dalam sebulan ini. Kami harapkan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) nanti stok tetap terjaga dan harga juga bisa stabil," ucap Mario. Pernyataan ini memberikan sedikit optimisme, namun juga menjadi pengingat bahwa upaya harus terus dilakukan agar stabilitas ini tidak hanya terjadi di satu atau dua wilayah saja.
Strategi Antisipasi Lonjakan Permintaan: Libatkan Bulog dan Pemda
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan minyak goreng kemasan sederhana merek pemerintah itu jelang Nataru, Kemendag telah menyiapkan sejumlah upaya. Salah satunya adalah berkoordinasi erat dengan produsen Minyakita. Produsen yang beroperasi di Surabaya memiliki peran ganda, tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga menyuplai wilayah Indonesia Timur yang seringkali menghadapi tantangan distribusi lebih besar.
Selain itu, Kemendag juga berharap peran Bulog dapat diperkuat. "Kami tetap berkoordinasi terkait dengan kesiapan stok. Artinya Bulog harapannya juga bisa membantu untuk menambahlah, memperkuat pasokan di pasar rakyat, selain dari produsen yang sudah eksisting," ujar Mario. Keterlibatan Bulog diharapkan mampu menjadi penyangga pasokan, memastikan ketersediaan yang cukup di pasar dan mencegah praktik penimbunan.
Peran Konsumen dan Harapan untuk Stabilitas Harga
Tidak hanya produsen dan pemerintah pusat, Kemendag juga meminta agar seluruh pemangku kepentingan, mulai dari produsen hingga pemerintah daerah setempat, untuk dapat turut serta memantau pasokan dan harga Minyakita di pasar. Pengawasan yang komprehensif dari hulu ke hilir sangat krusial untuk mencegah ‘permainan’ harga yang merugikan konsumen.
Konsumen juga memiliki peran penting. Dengan menjadi pembeli yang cerdas dan melaporkan praktik harga yang tidak wajar, kita bisa membantu pemerintah dalam mengawasi pasar. "Mudah-mudahan suplainya (Minyakita) ini sampai dengan HBKN Natal dan Tahun Baru juga bisa tetap continue," pungkas Mario. Harapan ini bukan hanya milik Kemendag, melainkan harapan seluruh masyarakat agar harga kebutuhan pokok tetap stabil dan terjangkau, terutama di momen-momen penting seperti Nataru.


















