banner 728x250

Emas Bikin Kaget! Inflasi November 2025 Stabil, Kok Bisa?

emas bikin kaget inflasi november 2025 stabil kok bisa portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Inflasi Indonesia pada November 2025 menunjukkan stabilitas yang patut diapresiasi, di tengah berbagai dinamika harga menjelang akhir tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka inflasi bulanan yang cukup rendah, yakni 0,17 persen. Capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah sinyal positif yang memberikan ketenangan.

Artinya, pergerakan harga barang dan jasa masih dalam batas aman, siap menyambut periode belanja dan liburan akhir tahun tanpa drama. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,72 persen, sementara inflasi tahun kalender berada di angka 2,27 persen.

banner 325x300

Inflasi November 2025: Angka-Angka Penting yang Perlu Kamu Tahu

Angka inflasi bulanan sebesar 0,17 persen ini menunjukkan bahwa kenaikan harga secara umum sangat terkendali. Ini adalah kabar baik, mengingat November seringkali menjadi bulan transisi menuju lonjakan permintaan di Desember, yang berpotensi memicu kenaikan harga.

Dengan inflasi tahunan 2,72 persen, Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga di level yang sehat dan sesuai target. Angka ini berada dalam rentang yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, menunjukkan efektivitas kebijakan ekonomi yang diterapkan.

Inflasi tahun kalender sebesar 2,27 persen juga menegaskan bahwa sepanjang tahun 2025, perekonomian Indonesia mampu mengelola tekanan harga dengan baik. Ini adalah indikator penting bagi investor dan masyarakat umum mengenai daya beli yang relatif terjaga.

Bukan Pangan, Emas Justru Jadi ‘Biang Kerok’ Utama!

Yang menarik, pemicu inflasi bulanan terbesar justru datang dari kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,21 persen, menyumbang andil inflasi sebesar 0,09 persen dari total inflasi bulanan.

Siapa sangka, di tengah fokus kita pada harga pangan, justru emas perhiasan yang menjadi ‘biang kerok’ utama inflasi bulanan ini. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa emas perhiasan sendiri menyumbang andil inflasi sebesar 0,08 persen.

Kenaikan harga emas perhiasan ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan peningkatan harga emas sepanjang tahun. Imbasnya, pasar domestik pun merasakan dampaknya, membuat harga perhiasan emas ikut melambung dan memberikan tekanan pada inflasi.

Komoditas Pangan Penyelamat: Harga Beras Hingga Daging Ayam Turun

Di sisi lain, beberapa komoditas pangan justru berperan sebagai penahan laju inflasi, bahkan mengalami deflasi. Ini adalah kabar baik yang langsung terasa di kantong masyarakat, terutama untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

BPS mencatat bahwa daging ayam ras, beras, dan cabai merah mengalami deflasi, alias penurunan harga. Beberapa komoditas lain seperti telur ayam dan kentang juga menunjukkan penurunan harga, meskipun kontribusinya terhadap deflasi lebih kecil.

Penurunan harga komoditas pangan ini sangat membantu menyeimbangkan kenaikan harga di sektor lain, menjaga inflasi tetap stabil. Ini juga mengindikasikan bahwa pasokan pangan cukup terjaga di tengah permintaan pasar, mencegah gejolak harga yang tidak diinginkan.

Komponen Lain yang Ikut Berkontribusi: Dari Inti Hingga Tiket Pesawat

Jika dilihat berdasarkan komponennya, inflasi inti menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi keseluruhan. Inflasi inti mencerminkan tekanan harga yang lebih fundamental dan tidak dipengaruhi oleh gejolak harga pangan atau energi yang sifatnya musiman.

Selain itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mencatat kenaikan. Salah satu yang paling signifikan adalah tarif angkutan udara, yang biasanya mengalami penyesuaian menjelang musim liburan akhir tahun. Kenaikan ini wajar mengingat tingginya permintaan.

Kenaikan tarif angkutan udara ini tentu berdampak pada biaya perjalanan, terutama bagi mereka yang merencanakan liburan. Namun, dampaknya masih terkendali dan tidak memicu lonjakan inflasi yang besar secara keseluruhan.

Peta Inflasi Indonesia: Dari Papua yang ‘Panas’ Hingga Aceh yang ‘Dingin’

Secara regional, gambaran inflasi di Indonesia cukup bervariasi dan menarik untuk dicermati. BPS mencatat bahwa 28 provinsi mengalami inflasi bulanan, sementara 10 provinsi lainnya justru mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Papua, mencapai 1,69 persen. Angka ini menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup signifikan di wilayah tersebut, mungkin dipicu oleh faktor logistik, kondisi geografis, atau permintaan lokal yang tinggi.

Sebaliknya, deflasi terdalam terjadi di Aceh, dengan angka 0,67 persen. Penurunan harga di Aceh bisa jadi disebabkan oleh melimpahnya pasokan atau penurunan permintaan di beberapa sektor, menciptakan kondisi harga yang lebih rendah.

Kabar Gembira untuk Pecinta Nasi: Harga Beras Terus Menurun!

Salah satu poin penting yang juga disampaikan BPS adalah penurunan rata-rata harga beras, makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Ini terjadi di semua tingkatan, mulai dari penggilingan, grosir, hingga eceran.

Harga beras di tingkat penggilingan turun 0,88 persen, di grosir turun 0,93 persen, dan di eceran turun 0,59 persen (month-to-month). Ini adalah tren positif yang sudah berlangsung selama dua bulan terakhir, memberikan harapan akan stabilitas harga beras jangka panjang.

Penurunan harga beras ini tentu menjadi angin segar bagi setiap rumah tangga. Beras sebagai makanan pokok utama, harganya yang stabil bahkan cenderung turun, sangat membantu menjaga daya beli masyarakat dan menekan biaya hidup sehari-hari.

Apa Artinya Inflasi Ini Bagi Kamu?

Secara keseluruhan, data inflasi November 2025 ini memberikan gambaran yang cukup melegakan. Stabilitas harga terjaga, meskipun ada beberapa komoditas yang perlu diperhatikan, terutama jika kamu berencana membeli emas atau bepergian dengan pesawat.

Bagi kamu yang berencana membeli perhiasan emas, ada baiknya memantau tren harga global dan mempertimbangkan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Sementara itu, untuk kebutuhan pangan sehari-hari, kamu bisa sedikit bernapas lega karena harga beberapa bahan pokok cenderung stabil atau bahkan turun.

Ini adalah waktu yang tepat untuk merencanakan keuangan akhir tahun dengan lebih cermat. Dengan informasi inflasi ini, kamu bisa lebih bijak dalam mengatur pengeluaran, terutama menjelang musim liburan yang identik dengan peningkatan konsumsi dan potensi kenaikan harga di beberapa sektor.

banner 325x300