Manchester United sedang berada di titik terendah pada awal musim 2025/2026. Klub raksasa ini terperosok dalam jurang performa yang mengkhawatirkan, memicu badai kritik dan spekulasi liar di kalangan penggemar serta media. Tekanan besar pun langsung tertuju pada pelatih baru, Ruben Amorim, yang diharapkan membawa angin segar ke Old Trafford.
Namun, di tengah gempuran kritik yang tiada henti, salah satu pemain senior, Harry Maguire, justru tampil membela sang juru taktik. Dengan pernyataan yang blak-blakan dan mengejutkan, Maguire menepis anggapan bahwa Amorim adalah akar masalah dari performa buruk Setan Merah. Ia justru menunjuk jari pada rekan-rekan setimnya sendiri, memicu perdebatan sengit tentang siapa sebenarnya yang patut disalahkan.
Awal Musim yang Penuh Derita bagi Setan Merah
Musim ini dibuka dengan catatan yang sangat mengecewakan bagi Manchester United. Mereka terdampar di peringkat ke-14 klasemen sementara Premier League, sebuah posisi yang jauh dari ekspektasi klub sekelas mereka. Hanya mengoleksi 4 poin dari tiga pertandingan awal, dengan dua kekalahan dan satu kemenangan, menjadi bukti nyata betapa sulitnya awal kampanye mereka.
Pukulan telak lainnya datang dari ajang Piala Liga Inggris. Secara mengejutkan, Manchester United harus angkat koper lebih awal setelah ditumbangkan oleh tim semenjana, Grimsby Town. Kekalahan memalukan ini semakin memperparah luka dan memicu pertanyaan besar tentang arah tim di bawah kepemimpinan Amorim. Para penggemar mulai kehilangan kesabaran, menuntut penjelasan dan perbaikan segera.
Formasi 3-4-3 Amorim Jadi Sasaran Empuk Kritik
Ruben Amorim, yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi setelah kesuksesannya di Sporting Lisbon, langsung menjadi sorotan utama. Skema formasi 3-4-3 yang coba ia terapkan di Old Trafford dianggap sebagai biang keladi di balik rentetan hasil minor. Banyak pengamat dan media lokal menilai formasi tersebut tidak cocok dengan karakteristik dan komposisi pemain yang dimiliki United saat ini.
Para kritikus berpendapat bahwa pemain-pemain kunci United kesulitan beradaptasi dengan sistem baru ini. Mereka merasa formasi tersebut membuat tim kehilangan keseimbangan, baik dalam menyerang maupun bertahan. Lini tengah seringkali kewalahan, sementara lini depan terlihat tumpul dan kurang kreativitas. Tekanan pun semakin memuncak di pundak pelatih asal Portugal itu.
Maguire Pasang Badan: Bukan Salah Formasi, Tapi Pemain!
Namun, Harry Maguire punya pandangan yang sangat berbeda dan berani. Bek jangkung ini mati-matian membela Amorim dan formasi yang ia usung. Menurut Maguire, formasi 3-4-3 justru sangat mudah untuk diterapkan oleh para pemain, dan masalahnya bukan pada sistem itu sendiri.
"Saya pikir formasi ini mudah diterapkan, karena kami memainkan sesuatu yang sedikit berbeda dari tim lain. Bagi saya, formasi ini mudah diterapkan meskipun hasilnya tidak memuaskan," kata Maguire kepada Sky Sports. Pernyataan ini jelas menyoroti kurangnya eksekusi dan pemahaman dari para pemain di lapangan.
Ia melanjutkan dengan tegas, "Formasinya sudah bagus. Seperti yang saya katakan, box to box kami cukup nyaman di setiap pertandingan. Secara taktik, kami selalu nyaman di setiap pertandingan, itu pasti karena para pemain." Maguire menegaskan bahwa masalahnya ada pada performa individu dan kolektif di lapangan, bukan pada taktik yang diterapkan pelatih.
Pemain Gagal Manfaatkan Momen Krusial
Maguire tidak ragu untuk menyoroti tanggung jawab para pemain. Ia merasa bahwa rekan-rekannya belum mampu memanfaatkan momen-momen penting dalam pertandingan. Kegagalan ini, menurutnya, menjadi penyebab utama hasil buruk yang mereka raih, baik dalam menciptakan peluang maupun dalam bertahan.
"Para pemain harus memanfaatkan momen-momen mereka, mereka harus membuat perbedaan di momen-momen itu," tegas Maguire. Ini adalah kritik langsung yang ditujukan kepada kualitas, fokus, dan mentalitas para pemain di lapangan yang gagal tampil maksimal di saat-saat krusial.
Selain itu, Maguire juga mengakui adanya kelemahan dalam aspek pertahanan tim. Meskipun formasi dianggap mudah, ia tidak menampik bahwa mereka belum bertahan dengan cukup baik sebagai sebuah unit. Ini menunjukkan adanya kesadaran akan masalah di lini belakang yang perlu segera diperbaiki, terlepas dari skema formasi.
Fleksibilitas Formasi yang Terabaikan
Maguire juga mencoba meluruskan persepsi tentang formasi yang kaku. Ia menjelaskan bahwa meskipun secara nominal disebut 3-4-3 atau 5-bek, dalam banyak fase permainan, United sebenarnya bermain dengan empat bek. Ini menunjukkan adanya fleksibilitas taktik yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para pemain.
"Formasi ini bukan formasi yang baku, semua orang bilang tiga atau lima, tetapi dalam banyak fase permainan, kami memainkan empat bek," jelasnya. Bekas kapten ini ingin menekankan bahwa sistem yang ada tidak sekaku yang dibayangkan banyak orang, dan adaptasi di lapangan adalah kunci.
Ia menambahkan, "Kami senang sejak manajer datang. Formasi ini mudah ditembus, tetapi semua tergantung pada para pemain untuk mengeksekusinya. Dan jika Anda pemain yang bagus, Anda bisa bermain dalam formasi apapun." Ini adalah tantangan terbuka bagi para pemain untuk membuktikan kualitas dan profesionalisme mereka dalam beradaptasi dengan sistem apapun.
Tekanan Semakin Berat di Pundak Pemain
Pernyataan Maguire ini tentu saja menggeser beban tekanan. Jika sebelumnya Ruben Amorim menjadi target utama dan satu-satunya, kini sorotan tajam beralih ke para pemain. Mereka dituntut untuk segera menunjukkan peningkatan performa, konsistensi, dan membuktikan bahwa mereka layak mengenakan seragam kebesaran Manchester United.
Klub sekelas Manchester United tidak bisa berlama-lama berada di papan tengah klasemen. Ekspektasi untuk kembali ke jalur kemenangan sangat tinggi, baik dari manajemen, penggemar setia, maupun media di seluruh dunia. Performa buruk ini harus segera diakhiri demi menjaga stabilitas tim dan reputasi klub.
Masa Depan Amorim dan United di Ujung Tanduk
Meskipun Harry Maguire membela mati-matian, posisi Ruben Amorim tetap tidak sepenuhnya aman jika hasil buruk terus berlanjut. Kemenangan adalah satu-satunya bahasa yang bisa menyelamatkan kariernya di Old Trafford. Para pemain kini memegang kunci penting untuk menentukan nasib pelatih mereka, serta masa depan klub di musim yang krusial ini.
Pertandingan-pertandingan ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Manchester United. Apakah mereka bisa bangkit, menunjukkan karakter, dan membuktikan bahwa perkataan Maguire benar adanya? Atau justru keterpurukan ini akan berlanjut dan menyeret semua pihak ke dalam krisis yang lebih dalam dan tak berkesudahan? Hanya waktu yang akan menjawab drama di Old Trafford ini.


















