banner 728x250

Abadi Nan Jaya: Film Zombi Netflix Kimo Stamboel yang Bikin Kritikus dan Penonton Terpecah Belah, Ada Apa Sebenarnya?

abadi nan jaya film zombi netflix kimo stamboel yang bikin kritikus dan penonton terpecah belah ada apa sebenarnya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Film horor zombi terbaru garapan sutradara Kimo Stamboel, Abadi Nan Jaya atau yang dikenal secara internasional sebagai The Elixir, telah mencuri perhatian sejak tayang perdana pada 23 Oktober lalu di Netflix. Namun, di balik antusiasme penikmat film horor, muncul sebuah fenomena menarik: ulasan para kritikus dan penonton global terbelah secara drastis.

Perdebatan sengit ini paling jelas terlihat di laman agregator ulasan film terkemuka, Rotten Tomatoes. Hingga awal November, Abadi Nan Jaya berhasil mengumpulkan skor 70 persen dari 10 ulasan kritikus film, sebuah angka yang cukup menjanjikan namun belum cukup untuk meraih status "Certified Fresh." Status prestisius ini hanya bisa didapat jika sebuah film mencapai skor Tomatometer minimal 75 persen dari setidaknya lima Top Critics, yang sayangnya belum ada ulasan dari kategori tersebut untuk The Elixir.

banner 325x300

Jeda Skor yang Mencolok: Kritikus vs. Penonton

Kontras yang mencolok justru datang dari penilaian penonton. Di bagian Popcornmeter, Abadi Nan Jaya hanya mendapatkan skor 28 persen dari lebih dari 100 ulasan yang masuk. Jeda hampir 40 poin antara kritikus dan penonton ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar: mengapa ada perbedaan pandangan yang begitu ekstrem terhadap film zombi lokal ini?

Perbedaan skor yang signifikan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari pengalaman menonton yang sangat berbeda. Kritikus cenderung melihat aspek teknis dan visi artistik, sementara penonton seringkali lebih fokus pada pengalaman emosional dan logika cerita. Mari kita bedah lebih dalam apa saja yang menjadi sorotan utama dari kedua belah pihak.

Sisi Gelap dan Terang dari Kacamata Kritikus

Para kritikus film, meski memberikan skor yang lebih tinggi, tidak sepenuhnya satu suara dalam pujian. Catatan utama yang seringkali muncul adalah mengenai pengembangan cerita dan karakter dalam film ini. Beberapa kritikus menyoroti bagaimana film ini berhasil dalam aspek visual dan teknis, namun gagal membangun karakter yang kuat.

JK Sooja dari Common Sense Media, misalnya, memberikan apresiasi tinggi terhadap visual dan aspek teknis Abadi Nan Jaya. Namun, ia secara tegas menyatakan kekecewaannya terhadap pengembangan karakter yang terasa kurang mendalam dan tidak realistis. Ini menjadi titik krusial yang banyak disetir oleh kritikus lainnya.

Senada dengan Sooja, John Serba dari Decider juga mengkritik keras pengorbanan karakter demi menonjolkan unsur sadisme yang berlebihan dalam genre zombi. Menurutnya, sutradara seolah-olah mengorbankan baik tubuh maupun kecerdasan karakter hanya untuk menghadirkan aksi dan gore yang nyaris tanpa henti. "Masalahnya, kekurangan ini merupakan dosa utama film zombi: Perilaku karakternya tidak realistis," kritik Serba, menyoroti bahwa logika bertahan hidup seringkali diabaikan.

Namun, tidak semua kritikus memberikan ulasan negatif. Claire Lewis dari Polygon justru memuji penceritaan Abadi Nan Jaya yang dianggapnya mampu membuat penonton benar-benar mengenal setiap karakter utama. Lewis mengapresiasi bagaimana film ini menghabiskan banyak waktu untuk menunjukkan kepribadian dan kontribusi setiap anggota keluarga terhadap disfungsi secara keseluruhan.

"Fokus pada kepribadian yang berbenturan ini memungkinkan penonton cukup terhubung dengan para karakter hingga peduli dengan nasib mereka," puji Lewis. Ia menambahkan bahwa ini adalah sebuah prestasi langka dalam genre yang seringkali hanya memperkenalkan karakter untuk kemudian membunuh mereka tak lama kemudian, menunjukkan bahwa ada upaya mendalam dalam pembangunan narasi.

Suara Penonton: Frustrasi dengan Karakter yang "Bodoh"

Meskipun skornya jauh berbeda, para penonton Abadi Nan Jaya ternyata mengkritik hal yang serupa dengan kritikus, terutama mengenai aksi dan keputusan para karakter. Banyak yang mengaku kecewa dan frustrasi dengan pilihan-pilihan yang diambil oleh tokoh-tokoh dalam film.

Salah satu penonton mengungkapkan kekecewaannya, "Film zombi ini tidak bikin saya takut atau tegang, tapi malah tertawa bahkan memaki kebodohan karakternya. Mereka semua seperti ditulis dengan malas-malasan sehingga tidak punya kepribadian yang jelas. Mereka semua bodoh dan tidak punya naluri bertahan hidup." Komentar ini mencerminkan rasa jengkel yang mendalam terhadap kurangnya logika dalam perilaku karakter.

Kritik lain juga menyoroti hal serupa: "Para karakter terus menerus bikin frustrasi akibat selalu mengambil keputusan yang salah, tapi gore dan special effects-nya bagus." Ini menunjukkan bahwa meskipun aspek visual dan efek khusus diakui kualitasnya, hal itu tidak cukup untuk menutupi kelemahan fundamental dalam penulisan karakter yang dianggap tidak masuk akal oleh sebagian besar penonton.

Mengenal Kimo Stamboel dan Visi Horornya

Kimo Stamboel bukanlah nama asing di industri film horor Indonesia. Ia dikenal sebagai sutradara yang tidak ragu menyajikan adegan-adegan brutal dan gore yang memacu adrenalin. Film-film sebelumnya seperti Rumah Dara (bersama Timo Tjahjanto sebagai The Mo Brothers) dan Sebelum Iblis Menjemput telah membuktikan kemampuannya dalam menciptakan ketegangan dan kengerian yang mendalam.

Dalam Abadi Nan Jaya, Kimo tampaknya tetap setia pada gaya khasnya yang berani dalam menyajikan kekerasan visual. Namun, kritik yang muncul menunjukkan bahwa kali ini, fokus pada gore mungkin telah mengorbankan elemen penting lain, yaitu kedalaman karakter dan konsistensi narasi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang sutradara yang dikenal dengan visinya yang kuat.

Plot dan Latar Belakang yang Menarik

Terlepas dari perdebatan ulasan, Abadi Nan Jaya menawarkan premis cerita yang cukup menarik. Film ini berlatar di sebuah desa terpencil yang terletak dekat Yogyakarta, sebuah lokasi yang kaya akan budaya dan misteri. Di sinilah tinggal sebuah keluarga pemilik usaha jamu ternama, yang menjadi inti dari konflik utama.

Cerita berpusat pada ambisi sang kepala keluarga yang ingin mempertahankan kekuasaannya dan hasratnya untuk tetap awet muda. Namun, ambisi yang berlebihan ini justru memicu keretakan dalam keluarga dan, yang lebih mengerikan, wabah zombi yang tak terduga. Konflik internal keluarga yang berpadu dengan ancaman eksternal dari mayat hidup menciptakan potensi drama dan horor yang kuat.

Tema-tema seperti ambisi yang menghancurkan, konsekuensi dari keinginan abadi, dan disfungsi keluarga menjadi benang merah yang menarik untuk dieksplorasi. Sayangnya, bagi sebagian kritikus dan penonton, potensi ini terasa kurang tergali maksimal karena terhalang oleh karakter yang kurang meyakinkan.

Deretan Bintang Ternama di Balik Kekacauan Zombi

Film ini juga bertabur bintang-bintang ternama Indonesia yang tentu saja menambah daya tarik. Sebut saja Mikha Tambayong, Eva Celia, Donny Damara, Dimas Anggara, Marthino Lio, dan Kiki Narendra. Kehadiran mereka seharusnya menjadi jaminan kualitas akting dan mampu menghidupkan karakter-karakter yang ada.

Mikha Tambayong dan Eva Celia, yang dikenal dengan kemampuan akting mereka yang solid, diharapkan bisa membawa dimensi emosional yang kuat. Sementara itu, aktor senior seperti Donny Damara dan Marthino Lio seringkali berhasil memerankan karakter kompleks dengan sangat baik. Namun, bahkan dengan deretan nama besar ini, kritik terhadap karakter tetap menjadi sorotan utama.

Kesimpulan: Sebuah Film yang Mengundang Diskusi

Abadi Nan Jaya adalah contoh nyata bagaimana sebuah film bisa memicu perdebatan sengit di antara para penikmatnya. Di satu sisi, film ini dipuji karena visual, aspek teknis, dan keberanian Kimo Stamboel dalam menyajikan horor yang brutal. Di sisi lain, film ini dikritik habis-habisan karena pengembangan karakter yang dianggap lemah dan keputusan-keputusan konyol yang diambil oleh para tokohnya.

Perbedaan pendapat yang tajam ini justru membuat Abadi Nan Jaya menjadi film yang menarik untuk didiskusikan. Apakah Kimo Stamboel memang sengaja mengorbankan logika karakter demi intensitas horor? Atau apakah ini adalah sebuah eksperimen dalam genre zombi yang mencoba menonjolkan aspek lain?

Untuk bisa memahami fenomena ini sepenuhnya, tidak ada cara lain selain menontonnya sendiri. Abadi Nan Jaya kini sudah bisa disaksikan di Netflix, memberikan kesempatan bagi Anda untuk membentuk opini pribadi. Apakah Anda akan bergabung dengan barisan kritikus yang memuji aspek teknisnya, atau dengan penonton yang frustrasi dengan karakternya? Hanya Anda yang bisa memutuskan.

banner 325x300