Indonesia, dengan ribuan perguruan tinggi dan jutaan mahasiswa, seharusnya menjadi lumbung inovasi yang tak ada habisnya. Namun, sebuah fakta mengejutkan terungkap: hanya segelintir kecil dari hasil riset di kampus-kampus kita yang berhasil menembus pasar dan menjadi produk komersial. Angka ini jauh di bawah standar global, menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan inovasi di Tanah Air.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Yos Sunitiyoso, baru-baru ini menyoroti permasalahan krusial ini. Menurutnya, masih banyak sekali hasil penelitian dari civitas akademika yang berakhir di meja laboratorium tanpa pernah menyentuh dunia industri atau usaha. Ini adalah sebuah ironi yang patut menjadi perhatian serius.
Yos Sunitiyoso mengungkapkan bahwa persentase riset yang berhasil menjadi produk komersial sangatlah minim, hanya berkisar satu hingga dua persen saja. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan rata-rata global yang bisa mencapai 10 persen. Artinya, potensi inovasi yang luar biasa besar di Indonesia banyak yang terbuang sia-sia.
"Kalau kita lihat sebenarnya banyak (hasil riset yang tak terserap ke dunia industri). Kalau kita lihat, riset yang menjadi sebuah produk, semakin lama semakin kecil," ungkap Yos saat diwawancarai awak media. Pernyataan ini disampaikannya di sela-sela acara Sosialisasi Program Ajakan Industri 2026 di Semarang, yang justru bertujuan untuk mendorong hilirisasi riset.
Mengapa Riset Kampus Sulit Berujung Produk Komersial?
Pertanyaan besar yang muncul adalah, apa sebenarnya yang menjadi penghalang utama bagi riset-riset brilian di perguruan tinggi untuk bisa diadaptasi oleh industri? Yos Sunitiyoso menjelaskan bahwa ada beberapa faktor fundamental yang berperan dalam fenomena ini, mulai dari tantangan teknis hingga pertimbangan pasar yang ketat.
Salah satu faktor utamanya adalah tantangan teknologi itu sendiri. "Apakah teknologinya cukup andal, cukup bagus, dan bisa menjawab permasalahan?" ujar Yos. Seringkali, sebuah riset mungkin sangat inovatif di tingkat laboratorium, namun belum matang atau belum siap untuk diaplikasikan dalam skala industri yang membutuhkan keandalan tinggi dan efisiensi.
Selain itu, aspek daya saing produk juga menjadi penentu krusial. Sebuah produk hasil riset, meskipun secara teknologi canggih dan inovatif, harus mampu bersaing di pasar yang kompetitif. "Kadang (produk hasil riset) sudah andal, bagus, tapi mahal. Karena terlalu mahal, tidak ada yang mau beli," kata Yos. Biaya produksi yang tinggi seringkali menjadi batu sandungan utama, membuat produk sulit diterima konsumen atau industri.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kelayakan bisnis dan profitabilitas. Pada akhirnya, dunia industri beroperasi dengan logika ekonomi yang jelas. "Kalau misalnya sudah komersialisasi, menguntungkan atau tidak? Itu kan ujung-ujungnya bisnis," tambah Yos. Sebuah inovasi harus memiliki model bisnis yang berkelanjutan dan menjanjikan keuntungan agar menarik minat investor dan pelaku industri.
Perjalanan sebuah riset hingga menjadi produk yang layak dikomersialisasikan memang diibaratkan seperti seleksi alam yang sangat ketat. Hanya riset-riset yang benar-benar kuat dari segi teknologi, daya saing, dan kelayakan bisnis yang mampu bertahan dan berkembang. Di Indonesia, jumlah yang lolos dari seleksi alam ini masih sangat rendah, hanya satu hingga dua persen.
Angka yang mengkhawatirkan ini bukanlah asumsi belaka, melainkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2021/2022. Data ini menjadi alarm keras bagi ekosistem inovasi di Indonesia, menunjukkan bahwa kita harus segera bertindak untuk meningkatkan kapasitas hilirisasi riset. Targetnya, angka ini bisa naik setidaknya menjadi tiga sampai empat persen dalam waktu dekat, sebuah peningkatan yang signifikan.
Terobosan Kemendiktisaintek: Menjembatani Kampus dan Industri
Menyadari urgensi permasalahan ini, Kemendiktisaintek tidak tinggal diam. Berbagai upaya strategis telah dirancang untuk meningkatkan persentase riset perguruan tinggi yang bisa berujung pada produk komersial. Pendekatan yang diambil adalah dengan menjembatani kebutuhan riil dunia usaha dengan potensi inovasi yang ada di kampus.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah dengan menampung secara aktif kebutuhan dari dunia usaha. "Jadi kami memberikan kesempatan kepada industri, kepada perusahaan-perusahaan, apa sih produk, solusi, atau teknologi yang mereka butuhkan," jelas Yos. Pendekatan ini memastikan bahwa riset yang didorong untuk hilirisasi memang relevan dan memiliki pasar yang jelas.
Setelah kebutuhan industri terkumpul dan terseleksi, Kemendiktisaintek kemudian membuka ‘call for proposal’. Ini adalah kesempatan emas bagi para peneliti di perguruan tinggi untuk mengajukan riset yang telah mereka kembangkan, yang sesuai dengan kebutuhan spesifik dunia usaha. Dengan demikian, riset tidak lagi berjalan sendiri, melainkan berorientasi pada solusi nyata.
"Jadi kami undang peneliti-peneliti di perguruan tinggi untuk menyampaikan riset yang sudah mereka kembangkan, yang bisa memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan dunia usaha," tambah Yos. Proses ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat antara akademisi dan praktisi industri, mempercepat proses transfer pengetahuan menjadi nilai ekonomi.
Tidak hanya menunggu proposal, Kemendiktisaintek juga akan proaktif melakukan sosialisasi ke berbagai perguruan tinggi. Mereka akan menyampaikan secara langsung kebutuhan-kebutuhan industri, sehingga peneliti bisa mengarahkan riset mereka agar lebih relevan. "Industri butuhnya ini, apakah Anda punya penelitian yang bisa memenuhi kebutuhan ini?" ujar Yos, menggambarkan pendekatan yang lebih terarah.
Namun, bagaimana jika ada peneliti yang sudah berhasil mengembangkan purwarupa produk dengan teknologi mumpuni, namun tidak ada industri yang tertarik mengadopsinya? Dalam kasus seperti ini, Kemendiktisaintek tidak akan lepas tangan. Mereka akan turun tangan membantu melakukan studi kelayakan atau feasibility study.
Studi kelayakan ini akan menganalisis secara mendalam berbagai aspek. "Kenapa ini tidak ada yang mau pakai? Pasarnya kenapa tidak ada? Kemudian kalau investasi butuh berapa?" kata Yos. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang ada dan mencari solusi agar produk hasil riset tersebut benar-benar bisa terpakai dan memberikan manfaat.
Dengan berbagai inisiatif ini, harapan besar diletakkan pada peningkatan jumlah riset yang tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah. Lebih dari itu, riset-riset tersebut diharapkan dapat bertransformasi menjadi produk nyata yang memberikan manfaat luas. Manfaat ini tidak hanya terbatas pada keuntungan finansial bagi dunia usaha, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan.
Mulai dari solusi teknologi untuk masalah lingkungan, inovasi di bidang kesehatan, hingga pengembangan produk-produk yang meningkatkan kualitas hidup, potensi riset kampus sangatlah besar. Dengan dukungan dan fasilitasi yang tepat dari pemerintah, ekosistem inovasi di Indonesia bisa tumbuh lebih subur. Meningkatnya angka hilirisasi riset akan menjadi indikator kemajuan bangsa dalam menciptakan kemandirian teknologi dan ekonomi. Ini adalah langkah krusial menuju Indonesia yang lebih inovatif, kompetitif, dan sejahtera di kancah global. Mari kita dukung terus upaya-upaya ini demi masa depan inovasi Indonesia yang lebih cerah.


















