Wacana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, ke Partai Gerindra memicu gelombang penolakan keras dari internal partai berlambang Garuda tersebut. Tunas Indonesia Raya (TIDAR), organisasi sayap kader muda Gerindra, secara tegas menyatakan keberatan mereka. Penolakan ini bukan sekadar riak kecil, melainkan sinyal kuat tentang prinsip dan arah perjuangan partai yang ingin dijaga oleh generasi muda Gerindra.
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat TIDAR, Rocky Candra, menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi ini. Ia dengan lugas menyatakan bahwa Budi Arie bukan sosok yang layak diterima di tubuh Gerindra. Pernyataan ini sontak menjadi sorotan, mengingat Budi Arie adalah tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai pimpinan relawan pendukung presiden petahana.
Gerindra Bukan Partai Persinggahan, Tegas TIDAR
Rocky Candra mengingatkan bahwa Gerindra bukanlah partai persinggahan bagi mereka yang hanya mencari keuntungan politik. "Kami menghormati siapapun yang ingin berjuang bersama, tapi Partai Gerindra bukan tempat persinggahan bagi mereka yang baru datang ketika langit politik sedang cerah," ujar Rocky di Jakarta. Pernyataan ini menyiratkan kekhawatiran akan masuknya figur yang dinilai oportunis.
Kader muda Gerindra merasa perlu menjaga kemurnian arah perjuangan partai. Mereka tidak ingin Gerindra bergeser dari cita-cita awal yang dibangun dengan idealisme, bukan sekadar pragmatisme kekuasaan. Kegelisahan ini, menurut Rocky, bukan bentuk penolakan terhadap individu semata, melainkan upaya fundamental untuk mempertahankan identitas partai.
Kekhawatiran Infiltrasi dan Perpecahan Internal
Rocky Candra menegaskan bahwa sebagian besar generasi muda Gerindra tidak alergi terhadap keterbukaan. Gerindra selalu menjunjung tinggi semangat rekonsiliasi dan kebangsaan yang luas. Namun, ada garis merah yang tidak boleh dilanggar demi menjaga integritas partai.
"Partai ini dibangun dengan idealisme, bukan oportunisme," jelas Rocky, mewakili suara kader TIDAR di 38 provinsi se-Indonesia dan 9 negara. Ia melihat langkah Budi Arie harus dicermati secara hati-hati agar tidak mengaburkan arah perjuangan partai yang telah lama dibangun. Kekhawatiran terbesar adalah potensi infiltrasi yang dapat memecah belah kekuatan dari dalam.
Rocky mengingatkan bahwa sejarah politik Indonesia telah menunjukkan banyak partai besar melemah bukan karena serangan dari luar, melainkan karena perpecahan internal. "Banyak partai besar yang tumbang bukan karena diserang lawan, tapi karena dipecah dari dalam. Kami tidak ingin Gerindra mengulangi kesalahan itu," tegasnya. Aspirasi kader TIDAR saat ini sangat jelas: menolak apabila Budi Arie masuk Gerindra.
Menjaga Marwah Partai: Loyalitas dan Pengorbanan Jadi Kunci
Rocky mengungkapkan bahwa seluruh kader tetap menaruh kepercayaan penuh pada kebijaksanaan Ketua Umum Prabowo Subianto dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Mereka yakin bahwa setiap keputusan DPP akan selalu berorientasi pada kepentingan bangsa dan menjaga keutuhan partai. Namun, kepercayaan ini diiringi dengan harapan agar suara akar rumput didengar.
"Pak Prabowo selalu mengajarkan kami berpikir jernih, berani berkata benar, dan tidak lupa pada akar perjuangan," ungkap anggota DPR RI asal Jambi tersebut. Ia menambahkan, "Kami yakin beliau arif dan tahu siapa yang datang dengan niat tulus, dan siapa yang datang dengan niat mengambil kesempatan." Ini adalah pesan tersirat kepada pimpinan partai untuk lebih selektif dalam menerima anggota baru.
Rocky menekankan bahwa Gerindra bukanlah partai yang dibangun dari kekuasaan, melainkan dari semangat pengorbanan dan kesetiaan kepada rakyat. Banyak kader telah berjuang sejak masa-masa sulit, ketika partai masih kecil dan spanduk mereka disobek. Semangat inilah yang harus tetap dijaga dan diwariskan kepada setiap anggota.
Peran Prabowo Subianto dan Harapan Kader Muda
"Kami menolak Ketua Projo itu. Kami dibesarkan dalam semangat pengorbanan," tegas Rocky. Ia melanjutkan, "Kami berjuang ketika partai masih kecil, ketika spanduk kami disobek, dan suara kami dihitung dengan air mata. Karena itu, kami ingin memastikan bahwa mereka yang datang ke rumah ini juga siap berjuang, bukan sekadar menumpang nama besar Pak Prabowo." Pernyataan ini menyoroti perbedaan filosofi antara kader lama dan potensi anggota baru.
Rocky menilai Gerindra selalu terbuka kepada siapa pun yang datang dengan semangat perjuangan yang sama. Namun, pintu itu tidak terbuka bagi mereka yang hanya mencari tempat di bawah bayang-bayang kekuasaan semata. Menurutnya, Budi Arie dan gerbong Projo tetap dapat mendukung langkah keberhasilan Presiden Prabowo tanpa perlu melakukan infiltrasi di tubuh Gerindra.
"Kami membuka pintu bagi siapa pun yang datang dengan semangat yang sama, namun pintu itu bukan terbuka untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk perjuangan bersama," tutur Rocky. "Gerindra bukan sekadar tempat menumpang kekuasaan, Gerindra adalah rumah perjuangan." Ini adalah penegasan identitas Gerindra sebagai partai ideologis, bukan kendaraan politik semata.
Pentingnya Kaderisasi dan Komitmen Ideologis
Rocky menambahkan bahwa pentingnya kaderisasi adalah agar setiap kader memiliki pemahaman, tanggung jawab, dan loyalitas yang kuat terhadap organisasi. TIDAR, sebagai sayap muda, sangat menekankan proses ini. Setiap kader wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan berjenjang, dari Diklat Tunas satu hingga Tunas empat.
Proses ini dirancang sebagai pematangan ideologis dan penguatan nilai perjuangan. "TIDAR menekankan pentingnya proses, kami ingin memastikan setiap kader yang tumbuh di Gerindra melalui pembinaan yang terukur, disiplin, dan memiliki komitmen ideologis yang jelas," pungkas Rocky. "Itulah cara kami menjaga marwah perjuangan."
Penolakan keras dari TIDAR ini menjadi cerminan dari dinamika internal Gerindra yang kompleks. Di satu sisi, ada keinginan untuk merangkul kekuatan baru, namun di sisi lain, ada kehendak kuat dari kader muda untuk menjaga kemurnian ideologi dan semangat perjuangan yang telah menjadi fondasi partai. Keputusan akhir ada di tangan Prabowo Subianto, namun suara kader muda ini jelas tidak bisa diabaikan.


















