Jumat malam di Paris berubah mencekam. Stasiun kereta api Montparnasse, salah satu simpul transportasi tersibuk di ibu kota Prancis, mendadak menjadi saksi bisu insiden penembakan yang memicu kepanikan massal. Seorang pria yang mengacungkan pisau ditembak oleh polisi, memicu gelombang ketakutan yang membangkitkan kembali trauma serangan teror masa lalu.
Peristiwa dramatis ini terjadi pada Jumat, 14 November 2025, menjelang tengah malam waktu setempat. Keheningan malam yang seharusnya menyelimuti stasiun mendadak pecah oleh suara tembakan, membuat ribuan penumpang dan warga yang berada di lokasi berhamburan mencari perlindungan.
Detik-detik Mencekam di Stasiun Montparnasse
Suasana di Stasiun Montparnasse mendadak tegang ketika beberapa petugas polisi terlihat mengejar seorang pria. Pria berusia 34 tahun itu, yang identitasnya belum dirilis secara detail, tampak agresif dan mengacungkan sebilah pisau tajam ke arah petugas.
Menurut laporan awal dari kepolisian Paris, insiden ini bukanlah serangan acak. Beberapa unit polisi memang sudah bersiaga di stasiun tersebut, menunggu kedatangan pria tersebut sebagai bagian dari investigasi kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan dirinya.
Namun, situasi dengan cepat memburuk di luar dugaan. Alih-alih menyerah, pria itu justru menunjukkan perlawanan sengit. Ia mengayunkan pisaunya dengan brutal ke arah para petugas, menciptakan ancaman nyata di tengah keramaian stasiun.
Dalam situasi genting tersebut, petugas polisi tidak punya pilihan lain selain mengambil tindakan tegas. Mereka melepaskan tembakan ke arah kaki pria berpisau itu, berusaha melumpuhkannya tanpa membahayakan nyawa secara fatal.
Tragisnya, setelah ditembak, pria itu justru melakukan tindakan yang lebih mengejutkan. Ia menusukkan pisau yang dipegangnya ke lehernya sendiri, menambah dramatisasi dan kengerian di lokasi kejadian.
Kepanikan Massal dan Trauma Masa Lalu
Suara tembakan yang menggema di dalam stasiun seketika memicu kepanikan luar biasa. Para penumpang dan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung berhamburan, berlari mencari tempat aman, diliputi ketakutan akan kemungkinan terburuk.
Seorang fotografer Reuters yang berada di lokasi menggambarkan bagaimana kerumunan orang panik dan berdesakan, mencoba menjauh dari sumber suara tembakan. Pemandangan ini mengingatkan banyak orang pada insiden-insiden tragis yang pernah melanda Paris di masa lalu.
Elvire Vaisse, seorang saksi mata yang berada di stasiun saat kejadian, mengungkapkan perasaannya. "Ingatan atas serangan 13 November (2015) masih ada," katanya, merujuk pada serangan teror jihadis yang menewaskan 130 orang di Paris sepuluh tahun lalu.
"Saya pikir, ‘Ini terjadi lagi.’ Tiba-tiba saya merasa sangat tertekan," lanjut Vaisse, menggambarkan trauma kolektif yang masih menghantui warga Paris setiap kali ada insiden keamanan yang melibatkan kekerasan di ruang publik.
Peristiwa ini memang terjadi hanya beberapa hari menjelang peringatan 10 tahun serangan teror mengerikan pada 13 November 2015. Momen sensitif ini membuat setiap insiden kekerasan di Paris terasa lebih mencekam dan memicu kekhawatiran yang mendalam.
Kondisi Terkini Pelaku dan Korban Sipil
Setelah melukai dirinya sendiri, pria berpisau itu segera mendapatkan pertolongan pertama. Ia langsung dilarikan ke unit gawat darurat terdekat untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Sumber kepolisian Paris melaporkan bahwa pria tersebut mengalami luka yang mengancam nyawa. Kondisinya kritis dan masih dalam pengawasan ketat tim medis.
Lebih lanjut, insiden ini juga menimbulkan korban tak terduga. Seorang warga sipil yang berada di lokasi kejadian dilaporkan ikut terkena tembakan polisi. Belum jelas bagaimana warga tersebut bisa terluka, apakah karena peluru nyasar, pantulan, atau dalam upaya melarikan diri.
Korban sipil tersebut juga segera mendapatkan perawatan medis. Kepolisian Paris belum merilis detail lebih lanjut mengenai identitas maupun kondisi pasti dari warga yang tidak bersalah ini.
Langkah Keamanan di Tengah Peringatan Tragedi Paris
Insiden di Stasiun Montparnasse ini menjadi pengingat pahit bagi otoritas keamanan Prancis tentang tantangan menjaga ketertiban dan keamanan di ruang publik yang padat. Terlebih, dengan adanya peringatan tragedi 13 November 2015, kewaspadaan di seluruh kota Paris berada pada level tertinggi.
Pihak kepolisian Paris segera memulai investigasi menyeluruh atas insiden ini. Mereka akan mengumpulkan keterangan dari para saksi mata, memeriksa rekaman CCTV, dan menganalisis setiap detail untuk memahami kronologi kejadian secara utuh.
Insiden ini juga memicu pertanyaan tentang protokol keamanan di stasiun-stasiun kereta api Prancis. Meskipun sudah ada peningkatan pengawasan pasca-serangan teror, insiden seperti ini menunjukkan bahwa ancaman bisa datang kapan saja dan dalam bentuk yang tak terduga.
Pemerintah Prancis dan otoritas keamanan diharapkan dapat memberikan jaminan kepada publik bahwa langkah-langkah pencegahan dan respons darurat akan terus ditingkatkan. Tujuannya adalah untuk mengembalikan rasa aman bagi warga dan wisatawan yang menggunakan fasilitas transportasi umum di Paris, terutama di tengah bayang-bayang trauma masa lalu yang masih begitu kuat.
Kejadian ini menegaskan bahwa perjuangan melawan kekerasan, baik yang berakar dari masalah personal maupun ancaman yang lebih besar, adalah tugas yang berkelanjutan. Paris, kota cahaya, sekali lagi diuji ketahanannya dalam menghadapi tantangan keamanan yang kompleks.


















