Presiden Prabowo Subianto akan segera menyambut kunjungan istimewa dari Raja Yordania, Abdullah II bin Al-Hussein, di Istana Kepresidenan pada Jumat (14/11) sore ini. Kedatangan Raja Abdullah II yang dijadwalkan pukul 16.30 WIB ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, melainkan sebuah reuni antara dua sahabat lama yang memiliki sejarah panjang dan tak terduga.
Kunjungan ini merupakan balasan atas lawatan Prabowo ke Amman, Yordania, pada April lalu. Kala itu, Prabowo sempat mengungkapkan kedekatannya dengan Kepala Negara Yordania tersebut, menyebutnya sebagai sahabat lama yang telah ia kenal sejak masa muda. Sebuah persahabatan yang terjalin puluhan tahun, melintasi benua, dan melewati berbagai babak kehidupan.
Awal Mula Persahabatan di ‘Kawah Candradimuka’ Militer AS
Kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang presiden Indonesia dan seorang raja dari Timur Tengah menjalin persahabatan yang begitu erat? Kisah ini bermula jauh sebelum keduanya memegang jabatan tinggi. Mereka adalah dua prajurit muda yang sama-sama menimba ilmu di sekolah ranger prestisius Angkatan Darat Amerika Serikat, Fort Benning.
Fort Benning, yang kini dikenal sebagai Fort Moore, adalah pusat pelatihan militer legendaris yang dikenal mencetak pasukan elite dengan kemampuan tempur luar biasa. Di sinilah, di tengah gemblengan fisik dan mental yang keras, Prabowo dan Abdullah II bertemu dan menjalin ikatan persaudaraan yang kuat. Pengalaman bersama di "kawah candradimuka" militer itu menjadi fondasi persahabatan mereka.
Tak hanya itu, keduanya juga kembali dipertemukan pada Desember 1995. Saat itu, Prabowo baru saja dilantik sebagai Komandan Jenderal Kopassus, pasukan khusus kebanggaan Indonesia. Pertemuan ini semakin mempererat ikatan yang telah terjalin sejak masa pelatihan militer di AS.
Ketika Yordania Menjadi ‘Rumah Kedua’ Prabowo
Babak paling menarik dari kisah persahabatan mereka terjadi pada tahun 1998. Saat itu, Prabowo meninggalkan Indonesia dan mengasingkan diri di Yordania. Di negeri gurun tersebut, ia disambut dengan sangat terhormat, sebuah bukti nyata betapa dalamnya ikatan persahabatan antara dirinya dengan keluarga kerajaan Yordania.
Bahkan, Raja Abdullah II, yang saat itu masih berstatus Pangeran, sempat menawarkan kewarganegaraan Yordania kepada Prabowo. Sebuah tawaran yang sangat langka dan menunjukkan tingkat kepercayaan serta rasa hormat yang luar biasa. Namun, Prabowo menolak tawaran tersebut dengan alasan Indonesia tidak mengizinkan kewarganegaraan ganda.
Keputusan Prabowo untuk tetap setia pada kewarganegaraan Indonesia, meskipun dalam situasi sulit, semakin menunjukkan integritasnya. Meski begitu, tawaran dari Raja Yordania ini menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan persahabatan yang mereka miliki, melampaui batas negara dan status.
Persahabatan yang Tak Lekang Waktu
Waktu terus berjalan, namun persahabatan Prabowo dan Raja Abdullah II tetap terjalin erat hingga kini. Meski usia mereka tak lagi muda, semangat dan visi untuk membangun bangsa masing-masing tak pernah padam. "Sekarang masih berjiwa muda," kelakar Prabowo di Amman, April lalu, menggambarkan semangat mereka yang tak pernah pudar.
Raja Yordania pun mengungkapkan hal serupa. Dalam pertemuan di Amman, ia menegaskan bahwa dirinya takkan pernah melupakan persahabatannya dengan Prabowo. "Anda dan saya memiliki persahabatan yang telah terjalin selama berpuluh-puluh tahun sejak kita masih menjadi prajurit muda," ujar Raja Abdullah II, mengutip pernyataan Biro Pers Sekretariat Presiden RI.
Ikatan ini bukan hanya sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah jembatan penting dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Yordania. Persahabatan personal antara pemimpin negara seringkali menjadi katalisator bagi kerja sama bilateral yang lebih erat dan saling menguntungkan.
Raja Abdullah II: Dari Prajurit Menjadi Raja
Raja Abdullah II sendiri naik takhta sebagai Raja Yordania sejak tahun 1999, menggantikan ayahnya, Raja Hussein, yang meninggal dunia pada 7 Februari 1999. Sebelum menjadi raja, ia memiliki karier militer yang cemerlang, sama seperti Prabowo. Pengalaman militer ini membentuk karakternya sebagai pemimpin yang tegas namun bijaksana.
Sebagai seorang raja, Abdullah II dikenal sebagai pemimpin yang progresif, berupaya memodernisasi Yordania dan memainkan peran penting dalam stabilitas regional Timur Tengah. Latar belakang militernya memberikan perspektif unik dalam kepemimpinannya, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan dan geopolitik yang kompleks.
Kunjungan Raja Abdullah II ke Indonesia kali ini diharapkan tidak hanya mempererat tali persahabatan pribadi, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara kedua negara. Mulai dari bidang pertahanan, ekonomi, pendidikan, hingga isu-isu global yang menjadi perhatian bersama.
Masa Depan Hubungan Indonesia-Yordania
Kehadiran Raja Yordania di Istana Kepresidenan Indonesia adalah simbol kuat dari hubungan bilateral yang kokoh, dibangun di atas fondasi persahabatan yang tulus antara kedua pemimpin. Ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak hanya tentang protokol formal, tetapi juga tentang koneksi personal yang mendalam.
Dari bangku pelatihan militer di Fort Benning hingga kursi kepemimpinan di istana negara, kisah Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II bin Al-Hussein adalah bukti nyata bahwa persahabatan sejati dapat melampaui batas-batas geografis dan politik. Sebuah kisah inspiratif yang patut kita ketahui dan hargai.
Semoga kunjungan ini membawa dampak positif yang signifikan bagi kemajuan hubungan Indonesia dan Yordania di masa mendatang. Dengan adanya ikatan personal yang kuat di tingkat tertinggi, diharapkan kerja sama bilateral akan semakin erat dan saling menguntungkan bagi kedua bangsa.


















