Jakarta, CNN Indonesia – Sebuah drama kemanusiaan dan politik bergejolak di Jalur Gaza. Turki kini menjadi sorotan dunia setelah mengumumkan upaya heroiknya untuk mengevakuasi sekitar 200 warga sipil Palestina yang terjebak di terowongan Rafah. Ironisnya, ratusan orang ini dituduh Israel sebagai "teroris" anggota Hamas.
Pengumuman ini datang di tengah peningkatan peran Turki dalam konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai. Langkah ini bukan hanya tentang penyelamatan nyawa, tetapi juga tentang perebutan narasi dan pengaruh di kawasan yang selalu bergejolak.
Misi Kemanusiaan Turki yang Penuh Tantangan
Pada Selasa, 11 November 2025, dunia dikejutkan dengan kabar dari sumber keamanan Turki. Mereka menyatakan bahwa Ankara tengah berupaya keras memastikan jalur aman bagi sekitar 200 warga Gaza yang terperangkap di bawah tanah Rafah. Bagi Turki, mereka adalah warga sipil biasa yang membutuhkan pertolongan.
Namun, Israel dan sekutunya, terutama Amerika Serikat, memiliki pandangan berbeda. Mereka menganggap orang-orang di terowongan itu adalah bagian dari jaringan Hamas, kelompok yang mereka labeli sebagai organisasi teroris. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan diplomatik yang luar biasa.
Terowongan Rafah: Jalur Hidup atau Sarang Teroris?
Terowongan Rafah telah lama menjadi simbol kompleksitas konflik di Gaza. Selama bertahun-tahun, terowongan ini berfungsi sebagai jalur vital bagi warga Gaza untuk mendapatkan pasokan kebutuhan dasar yang diblokade Israel, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar. Namun, di sisi lain, Israel menuduh Hamas menggunakan terowongan ini untuk tujuan militer, termasuk penyelundupan senjata dan pergerakan pejuang.
Kini, terowongan tersebut menjadi jebakan bagi ratusan orang. Mereka terjebak dalam kondisi yang tidak diketahui secara pasti, mungkin tanpa akses memadai terhadap makanan, air, atau bantuan medis. Situasi ini memunculkan kekhawatiran serius akan krisis kemanusiaan yang bisa semakin parah.
Peran Krusial Turki di Tengah Konflik Gaza
Upaya evakuasi ini bukanlah satu-satunya langkah yang diambil Turki. Sebelumnya, Ankara berhasil memfasilitasi pemulangan jenazah tentara Israel, Hadar Goldin, yang ditemukan di terowongan yang sama pekan lalu. Jenazah Goldin telah hilang selama 11 tahun, dan keberhasilannya dikembalikan ke Israel menjadi bukti kemampuan mediasi Turki.
"Turki berhasil memfasilitasi pemulangan jenazah Hadar Goldin ke Israel setelah 11 tahun," ujar sumber keamanan Turki, dikutip Middle East Monitor, Senin (10/11). "Pada saat yang sama, kami terus berupaya memastikan evakuasi yang aman bagi sekitar 200 warga sipil Gaza yang terjebak di terowongan."
Langkah ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Turki dalam konflik ini. Hubungan dekat Turki dengan Hamas, yang seringkali menjadi sorotan, kini justru dimanfaatkan untuk tujuan diplomatik dan kemanusiaan. Presiden Recep Tayyip Erdogan telah lama dikenal sebagai kritikus vokal terhadap agresi Israel di Gaza.
Tekanan AS dan Dilema Israel
Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, tidak tinggal diam. Washington mengusulkan agar 200 orang yang terjebak di terowongan itu menyerahkan senjata mereka. Setelah itu, mereka akan diizinkan pindah ke wilayah Gaza yang tidak dikendalikan Israel atau bahkan ke negara ketiga.
Proses ini digambarkan sebagai "mekanisme percontohan komponen pelucutan senjata" yang merupakan bagian dari rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump. Ini menunjukkan bahwa AS melihat insiden ini sebagai peluang untuk menerapkan elemen-elemen dari rencana yang lebih besar.
Namun, Israel bersikukuh. Salah satu pejabat Israel menyatakan bahwa Tel Aviv tidak akan mengizinkan ratusan orang itu pergi begitu saja. "Israel tak akan membiarkan 100-200 teroris itu meninggalkan terowongan, bahkan jika mereka meletakkan senjata," kata sumber tersebut, dikutip Huriyet.
Dilema besar kini menghantui Israel. Di satu sisi, mereka memiliki kekhawatiran keamanan yang mendalam dan tidak ingin melihat individu yang mereka anggap teroris bebas. Di sisi lain, mereka menghadapi tekanan diplomatik yang kuat dari Amerika Serikat, sekutu terpenting mereka. Akankah Israel berkompromi demi menjaga hubungan dengan AS?
Implikasi Diplomatik dan Masa Depan Gaza
Misi penyelamatan ini memiliki implikasi yang jauh melampaui nasib 200 orang yang terjebak. Ini adalah ujian bagi diplomasi regional dan internasional. Jika Turki berhasil, ini akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Turki selama ini memang lantang menolak dan mengecam agresi Israel di Gaza. Imbas agresi brutal itu pula, Turki memutus hubungan ekonomi dengan Israel dan melarang maskapai dari negara itu melewati wilayah udaranya. Ini adalah langkah-langkah konkret yang menunjukkan keseriusan Ankara.
Keberhasilan atau kegagalan misi ini akan memengaruhi persepsi dunia terhadap konflik Gaza, peran mediator, dan kemungkinan solusi di masa depan. Akankah ini menjadi preseden bagi negosiasi serupa, atau justru memperdalam jurang ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang bertikai?
Masa depan Gaza, yang telah lama menjadi arena penderitaan dan konflik, kini bergantung pada negosiasi rumit yang terjadi di balik layar. Nasib 200 warga yang terjebak di terowongan Rafah menjadi cerminan dari kompleksitas dan keputusasaan yang melanda wilayah tersebut. Dunia menanti, akankah diplomasi berhasil menyelamatkan nyawa dan membuka jalan bagi perdamaian yang lebih langgeng?
[Gambas:Video CNN]


















