Drama kembali menyelimuti markas Manchester United. Co-owner klub, Sir Jim Ratcliffe, dikabarkan telah menggelar pertemuan krusial dengan pelatih Ruben Amorim di pusat latihan Carrington pada Kamis (18/9) sore waktu setempat. Pertemuan ini disebut-sebut menjadi penentu masa depan sang pelatih di Old Trafford.
Ratcliffe, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan tanpa basa-basi, dilaporkan tiba di Carrington menggunakan helikopter. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan untuk membahas performa buruk tim yang sedang menjadi sorotan tajam.
Pihak Manchester United memang membantah bahwa ini adalah rapat darurat. Mereka mengklaim pertemuan tersebut sudah terjadwal. Namun, kondisi tim yang terpuruk belakangan ini membuat nuansa rapat berubah menjadi sangat serius, bahkan mengarah pada sebuah peringatan keras.
Krisis di Old Trafford: Awal Musim yang Penuh Derita
Awal musim Premier League 2025/2026 menjadi mimpi buruk bagi Setan Merah. Dari empat pertandingan yang sudah dijalani, Bruno Fernandes dan kawan-kawan hanya mampu meraih satu kemenangan. Sebuah catatan yang jauh dari ekspektasi klub sebesar Manchester United.
Puncaknya, mereka baru saja menelan kekalahan telak 0-3 dari rival sekota, Manchester City, di Stadion Etihad pada Minggu (14/9). Kekalahan ini bukan hanya soal poin, tapi juga soal harga diri dan dominasi di kota Manchester yang semakin menjauh.
Derita MU tak berhenti di Premier League. Di ajang Carabao Cup, mereka secara mengejutkan disingkirkan oleh Grimsby Town, sebuah klub dari kasta keempat Liga Inggris. Hasil memalukan ini semakin menambah tekanan besar di pundak Ruben Amorim dan seluruh skuad.
Ultimatum Ratcliffe: 3 Laga Penentu Segalanya
Dengan rentetan hasil buruk ini, Sir Jim Ratcliffe disebut sudah kehilangan kesabaran. Kabar yang beredar di media-media Inggris menyebutkan bahwa Amorim telah menerima ultimatum tegas. Nasibnya sebagai manajer Manchester United akan ditentukan dalam tiga pertandingan ke depan.
Tiga laga ini bukan hanya sekadar pertandingan biasa, melainkan ujian hidup-mati bagi Ruben Amorim. Jika performa tim tidak menunjukkan perbaikan signifikan, bukan tidak mungkin pintu keluar dari Old Trafford akan terbuka lebar untuknya.
Pertandingan pertama yang wajib dimenangkan adalah melawan Chelsea pada Sabtu (20/9). Ini adalah laga klasik yang selalu panas, dan kekalahan di kandang sendiri akan semakin memperburuk situasi. Tekanan akan sangat tinggi bagi para pemain dan staf pelatih.
Selanjutnya, Manchester United akan menghadapi Brentford pada 27 September. Brentford dikenal sebagai tim yang ulet dan bisa menyulitkan tim-tim besar. Amorim harus memastikan timnya tampil solid dan meraih poin penuh di laga ini.
Terakhir, ujian penentu akan datang pada 4 Oktober saat melawan Sunderland. Meski Sunderland bukan tim papan atas, namun dalam kondisi tertekan, laga seperti ini justru bisa menjadi jebakan mematikan. Tiga pertandingan ini akan menjadi penentu apakah Amorim layak melanjutkan proyeknya di Manchester United.
Amorim yang Keras Kepala: Filosofi atau Pemecatan?
Di tengah badai kritik dan tekanan, Ruben Amorim menunjukkan sikap yang mengejutkan. Usai kekalahan dari Manchester City, ia secara terbuka menyatakan tidak akan mengubah filosofi bermainnya. Amorim dikenal dengan skema tiga bek yang menjadi ciri khasnya saat sukses bersama Sporting Lisbon.
Banyak pihak menilai pola tiga bek ini tidak cocok dengan karakteristik pemain Manchester United. Namun, Amorim bersikukuh pada pendiriannya. Ia bahkan melontarkan tantangan kepada manajemen klub.
"Saya tidak akan mengubah filosofi saya. Jika mereka [manajemen MU] ingin perubahan, mereka ganti saja orangnya," ucap Amorim, seperti dilansir dari ESPN. Pernyataan ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan Amorim pada taktiknya, sekaligus menjadi sinyal perlawanan terhadap intervensi.
Sikap Amorim ini bisa diartikan sebagai bentuk kepercayaan diri yang tinggi, atau justru keras kepala yang bisa berujung fatal. Di satu sisi, ia ingin membuktikan bahwa filosofinya bisa sukses di Inggris. Di sisi lain, ia berisiko kehilangan pekerjaannya jika hasil tak kunjung membaik.
Masa Depan Manchester United di Ujung Tanduk
Situasi ini menempatkan Manchester United dalam persimpangan jalan yang krusial. Pergantian manajer di awal musim selalu menjadi keputusan berat, namun sejarah menunjukkan bahwa klub ini tidak ragu mengambil langkah drastis jika performa tim terus merosot.
Era kepemilikan baru di bawah Sir Jim Ratcliffe membawa harapan akan perubahan dan perbaikan. Namun, jika manajer yang ia tunjuk gagal memberikan hasil, kredibilitas proyek baru ini juga akan dipertanyakan. Tiga pertandingan ke depan bukan hanya penentu nasib Amorim, tetapi juga gambaran arah masa depan Manchester United.
Apakah Ruben Amorim akan mampu membalikkan keadaan dan membuktikan filosofinya benar? Atau justru ia akan menjadi korban pertama dari era baru Ratcliffe di Old Trafford? Hanya waktu dan hasil di lapangan yang akan menjawabnya. Satu hal yang pasti, kursi pelatih Manchester United kini terasa lebih panas dari sebelumnya.


















