Sebuah temuan mengejutkan dari Indikator Politik Indonesia baru-baru ini menguak fakta menarik di balik tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Bukan hanya janji-janji besar, namun program konkret yang digagas Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menjadi sorotan utama. Program Tiga Juta Rumah yang diinisiasi Maruarar Sirait dinilai memiliki dampak signifikan, secara langsung mendongkrak persepsi positif masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan keberhasilan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.
Terobosan Maruarar Sirait di Tengah Keterbatasan Anggaran
Bagaimana mungkin sebuah program sebesar Tiga Juta Rumah bisa berjalan mulus, bahkan menjadi pendorong kepuasan publik? Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, punya jawabannya. Menurut Burhanuddin, Maruarar Sirait berhasil mewujudkan program ambisius ini dengan pendekatan yang sangat kreatif. Ia berjuang keras mencari pendanaan mandiri, mengingat alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kementeriannya terbilang minim.
Keterbatasan anggaran seringkali menjadi penghalang utama bagi banyak program pemerintah. Namun, kemampuan Maruarar untuk tetap mengimplementasikan kebijakan berskala besar ini menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang luar biasa. Inilah yang membuat dampak sosial dan politik dari program ini begitu luar biasa. Keberhasilan implementasi, meskipun dengan sumber daya yang terbatas, menjadi bukti nyata efektivitas dan dedikasi.
Upaya mencari pendanaan sendiri ini bisa melibatkan berbagai strategi inovatif. Mulai dari kolaborasi dengan sektor swasta, menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga menarik investasi dari lembaga keuangan non-pemerintah atau bahkan skema Public-Private Partnership (PPP). Inovasi semacam ini sangat krusial untuk memastikan program tetap berjalan tanpa terlalu bergantung pada kas negara yang terbatas.
Program Tiga Juta Rumah bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga simbol komitmen pemerintah dalam mengatasi krisis perumahan yang telah lama menjadi masalah pelik di Indonesia. Ini adalah jawaban konkret atas kebutuhan dasar masyarakat akan tempat tinggal yang layak dan terjangkau. Keberanian Maruarar dalam mencari solusi pendanaan alternatif patut diacungi jempol, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berinovasi.
Angka Bicara: Korelasi Kuat dengan Kepuasan Presiden
Hasil survei Indikator Politik Indonesia yang bertajuk "Evaluasi Publik Atas Kinerja Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran" ini dirilis di Jakarta pada Sabtu, 8 November 2025. Temuan utamanya sangat jelas: program Tiga Juta Rumah memiliki korelasi erat dengan tingkat kepuasan terhadap Presiden. Burhanuddin Muhtadi menegaskan, korelasi ini bukan kebetulan semata. Data menunjukkan bahwa dari kelompok responden yang mengetahui program perumahan ini, mayoritas besar menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja Presiden Prabowo.
Secara spesifik, 51,8% responden yang familiar dengan program tersebut menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja Presiden. Angka ini terdiri dari 46,3% yang merasa cukup puas dan 5,5% yang sangat puas, menunjukkan penerimaan yang positif secara keseluruhan dari masyarakat yang mengetahui program tersebut. Ini menandakan bahwa program ini berhasil menciptakan resonansi positif di kalangan warga.
Lebih jauh lagi, survei ini mengungkap hubungan yang lebih mendalam dan krusial. Sebanyak 81,0% responden yang mengetahui program Tiga Juta Rumah merasa puas atau sangat puas terhadap kinerja Presiden. Ini adalah angka yang sangat signifikan, menunjukkan dampak langsung program terhadap persepsi publik terhadap pemimpin negara. Program ini seolah menjadi jembatan penghubung antara kebijakan pemerintah dan rasa puas masyarakat.
Bahkan, korelasi ini semakin kuat ketika dilihat dari sisi lain: 87,1% dari mereka yang secara spesifik menyatakan puas terhadap program Tiga Juta Rumah, juga menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja Presiden. Ini membuktikan bahwa program perumahan ini bukan hanya sekadar kebijakan, melainkan ‘senjata’ ampuh untuk membangun kepercayaan publik dan meningkatkan citra positif pemerintahan. Angka-angka ini tidak bisa diabaikan. Mereka menunjukkan bahwa program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk opini dan meningkatkan kepuasan terhadap pemimpin negara.
Mengapa Program Rumah Rakyat Begitu Krusial?
Perumahan adalah salah satu kebutuhan primer manusia, sejajar dengan pangan dan sandang. Ketersediaan rumah yang layak bukan hanya tentang tempat tinggal, tetapi juga tentang martabat, keamanan, dan kualitas hidup. Ketika pemerintah mampu menyediakan akses terhadap perumahan yang terjangkau, hal itu secara langsung mengurangi beban ekonomi masyarakat. Ini memberikan stabilitas sosial dan menciptakan rasa aman bagi keluarga, yang pada gilirannya berkontribusi pada kesejahteraan umum.
Program Tiga Juta Rumah, dengan skala ambisiusnya, berpotensi besar untuk menggerakkan roda ekonomi nasional. Pembangunan rumah menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor, mulai dari konstruksi hingga industri bahan bangunan, dan mendorong pertumbuhan di sektor terkait lainnya seperti transportasi dan jasa. Ini adalah stimulus ekonomi yang efektif dan berkelanjutan.
Lebih dari itu, program ini juga menjadi simbol kehadiran negara dalam kehidupan rakyatnya. Ini menunjukkan bahwa pemerintah peduli dan berupaya keras untuk memenuhi hak dasar warganya, bahkan di tengah tantangan anggaran dan birokrasi yang kompleks. Kehadiran negara yang terasa nyata ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.
Dampak psikologisnya pun tidak kalah penting. Memiliki rumah sendiri seringkali menjadi impian banyak keluarga Indonesia, sebuah pencapaian besar dalam hidup. Ketika impian itu terwujud berkat program pemerintah, rasa terima kasih dan kepuasan terhadap kinerja pemimpin akan meningkat secara alami. Ini menciptakan ikatan emosional antara rakyat dan pemerintah.
Implikasi Politik dan Masa Depan Program Perumahan
Keberhasilan program Tiga Juta Rumah ini memberikan angin segar bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Ini menjadi bukti konkret bahwa kebijakan yang fokus pada kebutuhan rakyat dapat menghasilkan dampak politik yang positif dan terukur. Temuan survei ini bisa menjadi panduan penting bagi pemerintah dalam merumuskan prioritas kebijakan ke depan. Program-program yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak, seperti perumahan, patut mendapatkan perhatian lebih dan alokasi sumber daya yang memadai.
Tentu saja, tantangan ke depan masih besar. Kebutuhan akan perumahan yang layak di Indonesia masih sangat tinggi, dan program seperti ini harus terus berkelanjutan serta diperluas jangkauannya. Skala masalah perumahan di Indonesia membutuhkan solusi jangka panjang dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak.
Inovasi dalam pendanaan dan implementasi, seperti yang ditunjukkan oleh Maruarar Sirait, akan menjadi kunci keberlanjutan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat sipil akan sangat diperlukan untuk mencapai target yang lebih besar dan memastikan program ini dapat menjangkau lebih banyak keluarga. Sinergi ini akan memperkuat fondasi program.
Pada akhirnya, program Tiga Juta Rumah bukan hanya tentang membangun fisik, tetapi juga membangun harapan dan kepercayaan. Ini adalah investasi jangka panjang dalam stabilitas sosial dan politik negara, serta bukti bahwa dengan kreativitas dan dedikasi, masalah besar sekalipun bisa diatasi. Dengan demikian, temuan Indikator Politik Indonesia ini menegaskan bahwa kinerja Menteri Maruarar Sirait melalui program Tiga Juta Rumah telah menjadi faktor krusial dalam membentuk persepsi positif publik terhadap Presiden Prabowo. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana kebijakan yang efektif dan inovatif dapat benar-benar mengubah pandangan masyarakat.


















