Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata bukan cuma soal perut kenyang. Lebih dari itu, inisiatif strategis ini berhasil menciptakan gelombang baru lapangan pekerjaan di seluruh Indonesia, menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa program MBG telah menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja.
Angka fantastis ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pekerja dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga para pemasok bahan baku lokal. Khusus untuk SPPG saja, lebih dari 300 ribu orang telah mendapatkan pekerjaan tetap dan menjadi bagian integral dari program ini.
Dadan menjelaskan, efek domino penciptaan lapangan kerja ini sangat terasa. Setiap satu SPPG membutuhkan setidaknya 15 pemasok bahan baku, mulai dari sayuran, lauk-pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya. Setiap pemasok ini biasanya mempekerjakan antara lima hingga 15 orang, menciptakan rantai ekonomi yang kuat.
Jadi, total sekitar 600 ribu orang sudah bekerja di program MBG, dan ini belum termasuk para petani yang terlibat langsung sebagai penyedia bahan pangan. Ini menunjukkan bagaimana program gizi bisa menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Makan Bergizi Gratis: Lebih dari Sekadar Pangan
Pada awal perencanaannya, program MBG dirancang dengan anggaran Rp71 triliun. Target awalnya adalah membangun 5.000 dapur SPPG untuk melayani sekitar 17,5 juta penerima manfaat di seluruh pelosok negeri.
Namun, target ini kemudian diperluas secara signifikan. Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, program ini kini menyasar 82,9 juta penerima manfaat hingga akhir tahun 2025, sebuah ambisi besar yang membutuhkan kerja keras dan kolaborasi.
Target Ambisius dan Realisasi Mengejutkan
Untuk mencapai target ambisius tersebut, BGN bekerja keras siang dan malam. Hingga saat ini, sudah ada 8.344 SPPG yang beroperasi dan siap melayani masyarakat.
Yang menarik, 100 persen dari SPPG yang sudah berjalan ini didanai oleh dana masyarakat. Ini menunjukkan kontribusi dan semangat gotong royong luar biasa dari berbagai pihak untuk mendukung program gizi nasional.
Meski demikian, pemerintah juga telah menyiapkan anggaran Rp6 triliun untuk membangun 1.542 SPPG lainnya. Namun, pembangunan fisik untuk SPPG yang didanai pemerintah ini masih dalam proses dan terus diupayakan percepatannya.
Strategi Jitu Percepatan Pembangunan Dapur Gizi
Dadan menyebut ada dua strategi utama yang diterapkan untuk mempercepat pembangunan dan operasional SPPG ini. Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Pertama, di wilayah aglomerasi atau perkotaan, pembangunan SPPG dilakukan melalui kemitraan strategis dengan berbagai pihak. Ini melibatkan institusi besar seperti TNI, Polri, Kadin Indonesia, organisasi masyarakat, hingga asosiasi penyedia jasa boga.
Dari target 25 ribu SPPG di wilayah ini, hampir 29 ribu sudah terdaftar dan siap beroperasi. Setiap unit SPPG di wilayah aglomerasi ini dirancang untuk melayani lebih dari 1.000 penerima manfaat.
Kedua, untuk wilayah terpencil dan sulit dijangkau, pembentukan SPPG dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) daerah dengan dukungan penuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Strategi ini memastikan tidak ada wilayah yang terlewatkan.
Strategi di wilayah terpencil ini juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mempercepat pembangunan dapur di lokasi yang sulit dijangkau. Kolaborasi antar kementerian menjadi kunci suksesnya program ini.
Verifikasi Ketat dan Tantangan di Lapangan
Proses verifikasi calon SPPG terus dilakukan secara intensif setiap hari. Tim BGN memeriksa ratusan lokasi dari pagi hingga malam untuk memastikan standar kualitas dan kelayakan terpenuhi.
Hasilnya terlihat jelas: pada 15 Agustus lalu jumlah SPPG baru 5.800, kini sudah meningkat pesat menjadi 8.344. Ini menunjukkan komitmen dan kecepatan BGN dalam merealisasikan program.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menjelaskan bahwa pihaknya bersama BGN dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah melakukan survei di 1.314 lokasi dari 13 Agustus hingga 12 September 2025. Ini adalah langkah krusial untuk identifikasi lokasi.
Dari survei tersebut, 801 lokasi dinilai memenuhi syarat, namun 513 tidak layak. Setelah verifikasi lebih lanjut, hanya 483 lokasi yang benar-benar siap dibangun.
Kementerian PU berkomitmen menangani 264 lokasi, termasuk 11 lokasi yang berada di pos lintas batas negara (PLBN), dengan fokus pada wilayah terpencil. Ini menunjukkan prioritas pemerintah untuk daerah-daerah yang paling membutuhkan.
Namun, Dody menyoroti kendala utama yang dihadapi: masalah lahan. Banyak lahan yang belum bersertifikat atau hanya berstatus keterangan elokasi bangunan (KEB), menghambat proses pembangunan.
Ia berharap Kemendagri dan pemerintah daerah segera menyelesaikan masalah lahan ini agar target pembangunan 1.542 lokasi dapat tercapai sesuai rencana. Dukungan dari pemerintah daerah sangat krusial.
Optimisme Penyerapan Anggaran di Akhir Tahun
Dengan 8.344 dapur yang sudah berjalan, BGN memperkirakan serapan anggaran dapat bertambah Rp8,3 triliun dalam waktu dekat. Ini adalah indikator positif bagi perputaran ekonomi.
Dadan mengakui bahwa penyerapan anggaran di awal mungkin lambat, namun ia sangat optimis akan meningkat pesat di kuartal akhir tahun. Ini adalah pola umum dalam pelaksanaan proyek besar.
"Di bulan September ini, BGN menargetkan bisa mencetak 14 ribu SPPG, meskipun tren menunjukkan kemungkinan hanya akan terisi 10 ribu. Oleh sebab itu, di bulan Oktober nanti, kami akan menyerap Rp10 triliun sendiri untuk bulan September," jelas Dadan.
"Kami sangat optimis, meskipun penyerapan Badan Gizi ini di awal sangat lambat, tetapi di ujung-ujung kami akan bisa menyerap anggaran yang disediakan dan bahkan mungkin kita akan menggunakan dana cadangan," tutup Dadan dengan penuh keyakinan.
Dampak Nyata bagi Perekonomian Lokal
Program Makan Bergizi Gratis ini membuktikan bahwa inisiatif sosial bisa memiliki dampak ekonomi yang masif dan berkelanjutan. Bukan hanya memastikan gizi anak bangsa terpenuhi, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian lokal dan menciptakan ratusan ribu kesempatan kerja baru. Ini adalah investasi ganda untuk masa depan Indonesia.


















