banner 728x250

Projo Ganti Logo, Siluet Jokowi Hilang! Ini Makna Baru & Arah Dukungan Prabowo

projo ganti logo siluet jokowi hilang ini makna baru arah dukungan prabowo portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Perkumpulan relawan pendukung Presiden Joko Widodo, Projo, membuat gebrakan signifikan yang menandai babak baru dalam perjalanan politiknya. Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, membocorkan rencana besar ini: perubahan logo organisasi yang selama ini identik dengan siluet wajah mantan Presiden Jokowi. Langkah ini bukan sekadar perubahan visual, melainkan deklarasi arah politik yang tegas dan transformatif.

Transformasi ini, menurut Budi Arie, adalah bagian integral dari upaya Projo untuk memperkuat dan mendukung penuh agenda-agenda politik Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Ini menegaskan komitmen Projo untuk bergerak maju, beradaptasi dengan lanskap politik baru, dan menempatkan diri sebagai pilar penting dalam pemerintahan mendatang. Keputusan ini diperkirakan menjadi topik utama dalam kongres organisasi yang akan datang.

banner 325x300

Transformasi Projo: Dari Jokowi ke Prabowo

Sejak awal kemunculannya, Projo dikenal luas sebagai salah satu organ relawan paling militan dan setia bagi Joko Widodo, terutama selama dua periode kepemimpinannya. Logo Projo yang menampilkan siluet wajah Jokowi telah menjadi simbol identitas yang kuat, merepresentasikan dukungan tak tergoyahkan terhadap figur yang mereka usung. Kini, era tersebut tampaknya akan segera berakhir.

Budi Arie Setiadi menegaskan bahwa perubahan logo ini merupakan bagian dari "transformasi organisasi" yang lebih luas. Ini bukan hanya tentang estetika, melainkan pergeseran fundamental dalam cara Projo memposisikan diri di kancah perpolitikan nasional. Tujuannya jelas: mengokohkan dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan agenda-agenda strategis yang akan diusungnya.

Keputusan menghapus siluet wajah Jokowi dari logo Projo memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Ini bisa diinterpretasikan sebagai upaya melepaskan diri dari bayang-bayang figur sentral dan membangun identitas organisasi yang lebih mandiri, meskipun tetap dalam koridor dukungan politik. Projo ingin menunjukkan bahwa loyalitas mereka kini bergeser penuh kepada kepemimpinan baru.

Langkah ini juga mencerminkan dinamika politik di Indonesia, di mana organisasi relawan seringkali harus beradaptasi dengan pergantian kepemimpinan. Dengan secara eksplisit menyatakan dukungan untuk Prabowo, Projo berusaha tetap relevan dan memainkan peran konstruktif dalam pemerintahan yang akan datang. Ini adalah strategi adaptasi yang cerdas di tengah transisi kekuasaan.

Kongres Ketiga Projo: Momen Penentu Arah Baru

Keputusan final mengenai perubahan logo ini tidak akan diambil secara sepihak, melainkan melalui forum tertinggi organisasi: Kongres Ketiga Projo. Acara penting ini dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu hingga Minggu, 1-2 November 2025. Tanggal ini menjadi penanda krusial bagi masa depan Projo, di mana seluruh anggota akan berpartisipasi dalam menentukan arah baru organisasi.

Budi Arie menjelaskan bahwa kongres ini akan menjadi wadah untuk merumuskan berbagai kebijakan strategis, termasuk finalisasi perubahan logo. Proses demokratis ini penting untuk memastikan setiap keputusan mendapatkan legitimasi dan dukungan penuh dari seluruh elemen Projo. Ini juga menunjukkan komitmen organisasi terhadap prinsip-prinsip musyawarah.

Salah satu alasan utama di balik perubahan logo adalah keinginan Projo untuk menghindari kesan "kultus individu." Dalam politik, kultus individu merujuk pada pemujaan atau pengagungan berlebihan terhadap satu figur pemimpin, yang seringkali mengesampingkan nilai-nilai atau ideologi organisasi itu sendiri. Projo ingin menjauh dari praktik semacam itu.

Dengan menghilangkan siluet Jokowi, Projo berharap dapat memproyeksikan citra sebagai organisasi yang lebih berorientasi pada ideologi, program, dan kepentingan rakyat, bukan semata-mata pada satu tokoh. Ini adalah upaya membangun fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan, tidak terlalu bergantung pada karisma personal seorang pemimpin. Langkah ini juga sejalan dengan upaya modernisasi organisasi politik.

Bukan Lagi ‘Pro Jokowi’? Menguak Makna Sejati Projo

Meskipun berencana mengganti logo, Budi Arie Setiadi menegaskan bahwa Projo tidak akan mengubah namanya. Ia juga secara tegas membantah anggapan umum bahwa Projo adalah singkatan dari "pro Jokowi." Selama ini, masyarakat dan media seringkali mengasosiasikan nama Projo dengan dukungan terhadap Jokowi karena kemudahan pelafalan dan konteks historisnya.

Namun, Budi Arie memberikan klarifikasi yang mengejutkan banyak pihak. Menurutnya, Projo sejatinya memiliki makna yang jauh lebih dalam dan filosofis, diambil dari akar bahasa kuno. Ia menjelaskan bahwa "Projo" adalah gabungan dari kata ‘negeri’ dan ‘rakyat’, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi.

Dalam bahasa Sanskerta, ‘Projo’ dapat diartikan sebagai ‘negeri’ atau ‘wilayah’. Sementara itu, dalam bahasa Jawa Kawi, ‘Projo’ memiliki makna ‘rakyat’ atau ‘masyarakat’. Dengan demikian, Budi Arie menjelaskan bahwa Projo secara harfiah berarti "kaum yang mencintai negara dan rakyatnya." Ini adalah definisi yang jauh lebih luas dan inklusif daripada sekadar "pro Jokowi."

Penjelasan ini mengubah persepsi publik tentang Projo, dari sekadar kelompok relawan personal menjadi sebuah gerakan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan. Ini menunjukkan upaya Projo membangun narasi yang lebih kuat dan ideologis, melampaui

banner 325x300