Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI melalui Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin, menyuarakan sebuah panggilan penting kepada seluruh generasi muda Indonesia. Ia mengajak para pemuda untuk tidak hanya aktif, tetapi juga terus berpartisipasi dalam menyuarakan demokrasi di tanah air. Namun, ada satu hal krusial yang harus diingat: cara berdemokrasi harus selalu mengedepankan nilai-nilai budaya bangsa dan menjaga reputasi diri di tengah gempuran era digital.
Pernyataan ini bukan sekadar imbauan biasa, melainkan cerminan keyakinan mendalam bahwa transformasi demokrasi yang berkelanjutan tidak akan mungkin terjadi tanpa keterlibatan aktif generasi muda. Keterlibatan ini, menurut Sultan, haruslah diwarnai dengan semangat berkebudayaan yang kuat, menjadi fondasi kokoh bagi setiap langkah perjuangan.
Suara Pemuda, Pilar Transformasi Demokrasi
"Pemuda berkontribusi, demokrasi bertransformasi," demikian tegas Sultan dalam Forum Pemuda Parlemen yang digelar di Senayan, Jakarta. Kalimat ini bukan hanya slogan, melainkan sebuah filosofi yang menyoroti peran sentral generasi muda sebagai agen perubahan. Tanpa energi, ide-ide segar, dan keberanian para pemuda, demokrasi akan kehilangan vitalitasnya dan sulit beradaptasi dengan dinamika zaman.
Keterlibatan aktif ini bukan berarti harus selalu berada di garis depan demonstrasi atau terjun langsung ke arena politik formal. Partisipasi bisa diwujudkan melalui berbagai platform, mulai dari diskusi publik, gerakan sosial, hingga pemanfaatan teknologi untuk menyuarakan aspirasi. Yang terpenting adalah semangat untuk tidak apatis dan terus menyumbangkan pemikiran demi kemajuan bangsa.
Budaya Bangsa: Kompas Moral dalam Berdemokrasi
Dalam setiap langkah menyuarakan demokrasi, Sultan Baktiar Najamudin menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai budaya bangsa sebagai kompas moral. Indonesia kaya akan keberagaman budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal yang telah teruji zaman. Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah mufakat, toleransi, dan etika komunikasi harus menjadi landasan utama.
Mengedepankan budaya berarti berdemokrasi dengan cara yang santun, beradab, dan menghargai perbedaan. Ini adalah benteng pertahanan dari polarisasi dan perpecahan yang seringkali mengancam integritas bangsa. Demokrasi yang berbudaya adalah demokrasi yang kuat, inklusif, dan mampu merangkul semua elemen masyarakat.
Ancaman dan Peluang Reputasi Digital bagi Aktivis Muda
Mantan Ketua HIPMI Bengkulu ini juga menyoroti sebuah aspek yang tak kalah penting di era serba digital ini: reputasi pribadi. Ia mengingatkan bahwa selain kapasitas intelektual, wawasan kebangsaan, dan integritas, pemuda Indonesia juga perlu ekstra hati-hati dalam menjaga citra diri di dunia maya. Reputasi adalah aset tak ternilai, terutama bagi mereka yang bergelut di bidang aktivisme sosial dan politik.
Di era media sosial, jejak digital bersifat permanen dan mudah diakses oleh siapa saja. Satu kesalahan kecil, satu unggahan yang kurang bijak, atau satu komentar yang emosional bisa dengan cepat merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Oleh karena itu, setiap pemuda, khususnya aktivis, harus memiliki kesadaran tinggi akan dampak dari setiap interaksi mereka di platform digital.
Lebih dari Sekadar Intelektual: Integritas dan Wawasan Kebangsaan
Sultan Baktiar Najamudin juga menegaskan bahwa pemuda yang ideal tidak hanya cerdas secara intelektual. Mereka harus memiliki wawasan kebangsaan yang luas, memahami sejarah, ideologi, dan tantangan yang dihadapi bangsa. Wawasan ini akan menjadi landasan kuat untuk membuat keputusan yang tepat dan berkontribusi secara konstruktif.
Tak hanya itu, integritas juga menjadi pilar utama. Integritas berarti konsisten antara perkataan dan perbuatan, menjunjung tinggi kejujuran, dan memiliki prinsip yang kuat. Di tengah godaan kekuasaan dan kepentingan, integritas adalah benteng yang menjaga seorang aktivis muda tetap berada di jalur yang benar, mengutamakan kepentingan publik di atas segalanya.
Menghadapi Arus Perubahan Global dengan Berani
Dunia saat ini bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, diwarnai oleh revolusi digital, krisis iklim, dan perubahan sosial yang dinamis. Sultan melihat bahwa demokrasi tidak boleh berjalan sendiri tanpa melibatkan kekuatan terbesar bangsa, yaitu para pemuda. Merekalah yang akan menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai tantangan kompleks ini.
Revolusi digital membawa peluang sekaligus ancaman. Pemuda harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi positif, mengorganisir gerakan, dan menciptakan inovasi. Di sisi lain, mereka juga harus kritis terhadap hoaks dan disinformasi yang berpotensi memecah belah.
Peran Pemuda dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan
Krisis iklim menjadi isu global yang mendesak, dan pemuda memiliki peran vital dalam menyuarakan kesadaran lingkungan serta mencari solusi inovatif. Dari gerakan daur ulang hingga advokasi kebijakan hijau, setiap langkah kecil dari pemuda akan sangat berarti. Mereka adalah generasi yang akan paling merasakan dampak dari perubahan iklim, sehingga partisipasi mereka sangat krusial.
Perubahan sosial yang dinamis juga menuntut pemuda untuk adaptif dan memiliki empati. Isu-isu kesetaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia membutuhkan suara-suara muda yang berani dan visioner. Dengan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu ini, pemuda dapat menjadi katalisator bagi perubahan positif dalam masyarakat.
Membangun Masa Depan Bangsa Berlandaskan Nilai Lokal
Sultan Baktiar Najamudin menggarisbawahi bahwa pemuda harus berani berpikir kritis, berjiwa inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa serta bumi yang kita tinggali bersama. Namun, semua itu harus tetap selaras dengan nilai-nilai budaya daerah yang menjadi identitas bangsa. Kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan, melainkan sumber kekuatan dan solusi yang unik.
Dengan memadukan pemikiran kritis global dan kearifan lokal, pemuda Indonesia akan mampu menciptakan solusi-solusi yang relevan dan berkelanjutan. Mereka akan menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar kuat pada identitas bangsanya, siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.
Panggilan dari Ketua DPD RI ini adalah sebuah pengingat bahwa masa depan demokrasi dan bangsa ini ada di tangan pemuda. Dengan partisipasi aktif, berbudaya, berintegritas, dan bijak dalam mengelola reputasi digital, generasi muda akan menjadi kekuatan transformatif yang sesungguhnya, membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah dan berkeadaban.


















