banner 728x250

Geger! Rekor Penjualan Hyundai Tak Mampu Hentikan Mogok Massal Buruh di Korea

Logo Hyundai besar terpampang di dinding pabrik otomotif, menyiratkan mogok kerja yang meluas.
Raksasa otomotif Hyundai dilanda mogok kerja oleh puluhan ribu buruh, mengancam rantai produksi global perusahaan.
banner 120x600
banner 468x60

Drama ketenagakerjaan kembali mengguncang raksasa otomotif Korea Selatan, Hyundai. Puluhan ribu buruh di tiga pabrik utamanya serentak melakukan aksi mogok kerja selama sepekan terakhir. Situasi ini memicu kekhawatiran serius akan terganggunya rantai produksi global perusahaan.

Aksi protes ini dipicu oleh kebuntuan negosiasi antara serikat buruh dan manajemen. Para pekerja menuntut tiga hal krusial: kenaikan gaji yang signifikan, pemangkasan jam kerja, serta perpanjangan usia pensiun. Tuntutan ini muncul di tengah catatan rekor penjualan Hyundai yang fantastis.

banner 325x300

Gelombang Protes Mengguncang Pabrik Raksasa Hyundai

Sebanyak 42.000 anggota serikat pekerja Hyundai sepakat untuk melancarkan aksi mogok. Mereka melakukan mogok kerja selama dua jam pada tanggal 3-4 September 2024, dan memperpanjangnya menjadi empat jam pada tanggal 5 September 2024. Ini adalah gelombang protes yang masif dan terkoordinasi.

Tiga lokasi yang menjadi sasaran utama aksi ini adalah pabrik Hyundai di Jeonju, Asan, dan yang paling krusial, pabrik pusat di Ulsan. Ketiga pabrik ini merupakan jantung produksi Hyundai, memegang peran vital dalam pasokan kendaraan secara global.

Tiga Tuntutan Utama yang Bikin Manajemen Pusing Tujuh Keliling

Di balik aksi mogok ini, ada tiga tuntutan utama yang disuarakan dengan lantang oleh para pekerja. Mereka merasa berhak mendapatkan bagian yang lebih besar dari kesuksesan perusahaan yang gemilang.

Pertama, tuntutan kenaikan gaji pokok per bulan sebesar 141.300 won, atau setara dengan sekitar Rp1,6 juta (dengan kurs Rp11 per 1 won). Selain itu, mereka juga menuntut alokasi 30 persen dari laba bersih perusahaan untuk tunjangan kinerja khusus. Ini menunjukkan keinginan pekerja untuk merasakan langsung dampak positif dari profitabilitas Hyundai.

Kedua, serikat pekerja menuntut pengurangan jam kerja dari lima hari menjadi 4,5 hari seminggu. Tuntutan ini mencerminkan tren global menuju keseimbangan hidup dan kerja yang lebih baik, memberikan pekerja lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Terakhir, mereka juga mendesak perpanjangan usia pensiun dari 60 tahun menjadi 64 tahun. Dalam konteks peningkatan harapan hidup dan kebutuhan akan stabilitas finansial jangka panjang, perpanjangan usia pensiun menjadi isu penting bagi para buruh.

Negosiasi Buntu, Jalan Mogok Jadi Pilihan Terakhir

Keputusan untuk melakukan mogok kerja diambil setelah perundingan terakhir dengan manajemen pada Selasa, 2 September 2024, berakhir tanpa kesepakatan. Meskipun perusahaan telah menawarkan paket gaji, bonus, dan tunjangan, nominal yang diajukan dianggap jauh dari harapan pekerja.

Ketidakpuasan ini memuncak dalam pemungutan suara internal serikat pekerja. Hasilnya sangat jelas: 86 persen anggota menyatakan setuju untuk melakukan aksi mogok sampai tuntutan mereka dipenuhi. Angka ini menunjukkan soliditas dan tekad kuat para buruh.

Aksi mogok penuh ini menjadi yang pertama kali terjadi dalam tujuh tahun terakhir di Hyundai Korea Selatan. Ini mengindikasikan tingkat frustrasi yang tinggi di kalangan pekerja dan potensi dampak yang lebih luas dibandingkan protes-protes sebelumnya.

Dampak Mogok: Ancaman Kelumpuhan Produksi Global?

Aksi mogok ini tidak bisa dianggap remeh, mengingat pabrik-pabrik yang disasar adalah kunci utama operasional Hyundai. Pabrik Ulsan, misalnya, adalah pabrik mobil tunggal terbesar di dunia. Fasilitas ini bahkan memiliki dermaga sendiri dan memproduksi beragam model, mulai dari Elantra, Palisade, Ioniq 5, hingga lini mobil mewah Genesis seperti G70, G80, G90, serta SUV GV70 dan GV80.

Pabrik Jeonju memiliki spesialisasi dalam produksi kendaraan komersial, sementara pabrik Asan bertanggung jawab atas sedan populer seperti Sonata, Grandeur, Ioniq 6, dan Ioniq 9. Gangguan di salah satu atau semua pabrik ini dapat memicu efek domino yang melumpuhkan.

Berdasarkan laporan media lokal, The Korea Times, mogok massal ini diperkirakan akan memberikan beban keuangan yang sangat besar bagi perusahaan. Sebagai perbandingan, pada aksi mogok pekerja Hyundai tahun 2016, perusahaan merugi sekitar 2,5 triliun won (sekitar Rp29,4 triliun) akibat penghentian aktivitas produksi selama 166 jam. Kerugian kali ini berpotensi lebih besar jika aksi berlanjut.

Ironi di Balik Tuntutan: Rekor Penjualan yang Bikin Buruh Makin Berani

Yang membuat situasi ini semakin ironis adalah fakta bahwa tuntutan kenaikan gaji ini muncul setelah Hyundai mencatatkan rekor penjualan yang luar biasa. Pada Juli tahun lalu, Hyundai bahkan telah menaikkan gaji pekerja pabriknya sebesar 4,65 persen, yang merupakan kenaikan terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Namun, para pekerja merasa kenaikan tersebut belum sebanding dengan performa perusahaan. Mereka menginginkan hak kenaikan gaji yang lebih substansial setelah melihat data rekor penjualan Hyundai di pasar Amerika Serikat. Rekor ini dibukukan berkat salah satu faktor utamanya, yaitu penjualan mobil listrik yang meroket.

Volume penjualan Hyundai di Agustus 2024 naik 12 persen menjadi 88.523 unit. Ini sekaligus menandai pertumbuhan angka penjualan selama sebelas bulan berturut-turut, sebuah pencapaian yang mengesankan di tengah pasar yang kompetitif.

Randy Parker, CEO Hyundai Motor North America, dengan bangga menyatakan, "Agustus adalah bulan yang luar biasa bagi kami, dengan penjualan ritel dan total penjualan jauh melampaui rekor sebelumnya. Kami sangat bangga dengan pencapaian rekor dari model-model kunci seperti Elantra HEV, Palisade, dan Ioniq 5 yang terus mendapat sambutan hangat dari pelanggan."

Kesuksesan inilah yang menjadi pemicu utama bagi serikat pekerja untuk menuntut bagian yang lebih besar. Mereka berargumen bahwa jika perusahaan mampu mencetak rekor keuntungan, maka para pekerja yang berkontribusi langsung terhadap produksi juga berhak mendapatkan kompensasi yang lebih baik.

Masa Depan Hyundai di Tengah Badai Ketenagakerjaan

Kini, bola panas ada di tangan manajemen Hyundai. Mereka harus mencari jalan keluar dari kebuntuan ini sebelum dampak kerugian semakin meluas dan reputasi perusahaan tercoreng. Tekanan untuk mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak sangat tinggi.

Aksi mogok ini bukan hanya sekadar isu internal perusahaan, tetapi juga menjadi cerminan dinamika ketenagakerjaan di Korea Selatan. Bagaimana Hyundai menangani krisis ini akan menjadi preseden penting bagi hubungan industrial di masa depan. Akankah rekor penjualan yang gemilang mampu meredam gelombang protes, atau justru menjadi bumerang yang menghantam balik raksasa otomotif ini? Hanya waktu yang akan menjawab.

banner 325x300