banner 728x250

Insentif Motor Listrik Rp7 Juta Dinilai ‘Terlambat’, Aismoli Bongkar Fakta Pahitnya Pasar!

insentif motor listrik rp7 juta dinilai terlambat aismoli bongkar fakta pahitnya pasar portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kamu lagi nungguin insentif motor listrik Rp7 juta biar bisa punya kendaraan ramah lingkungan impian? Siap-siap kecewa, karena menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), janji manis pemerintah untuk tahun 2025 ini sudah terlambat. Bahkan, mereka menyarankan agar insentif itu lebih baik digulirkan pada tahun 2026 saja, atau paling tidak dengan skema multi-years.

Pernyataan ini tentu saja bikin geleng-geleng kepala, terutama bagi para calon pembeli dan pelaku industri yang sudah menanti-nanti. Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, secara terang-terangan menyampaikan kekhawatirannya di Jakarta, Selasa (16/9), bahwa sisa waktu di tahun 2025 ini terlalu mepet untuk menggenjot penjualan.

banner 325x300

Insentif Motor Listrik 2025: Sudah Terlambat?

Budi Setiyadi menegaskan, "Kalau saya perhatikan di tahun 2025 ini, kayaknya sudah terlambat." Ini bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah analisis realistis dari kondisi pasar. Dengan hanya menyisakan sekitar tiga bulan efektif, sangat sulit bagi industri untuk mencapai target penjualan yang signifikan.

Waktu yang singkat ini tidak memberikan cukup ruang bagi konsumen untuk mempertimbangkan, mengajukan pembelian, hingga proses administrasi selesai. Apalagi, para produsen dan diler juga butuh waktu untuk mempersiapkan strategi pemasaran dan distribusi yang optimal setelah insentif diumumkan.

Kisah Insentif Rp7 Juta: Dari Harapan ke Kekecewaan

Ingat tahun 2024? Pemerintah sempat menggulirkan insentif sebesar Rp7 juta untuk setiap pembelian motor listrik. Program ini awalnya disambut antusias, memberikan harapan baru bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di Tanah Air.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kuota 60 ribu unit yang disediakan ludes pada September 2024, dan setelah itu, insentif dihentikan tanpa kejelasan. Dampaknya langsung terasa: penjualan motor listrik anjlok drastis, membuat para produsen dan penjual terpukul keras.

Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar. Konsumen yang tadinya tertarik jadi menunda pembelian, menunggu kepastian apakah insentif akan kembali atau tidak. Sementara itu, stok di diler menumpuk dan investasi di sektor ini menjadi stagnan.

Kenapa Aismoli Lebih Pilih 2026?

Budi Setiyadi memiliki alasan kuat mengapa ia berharap insentif lebih baik dimulai tahun depan. Menurutnya, jika insentif diberikan di akhir tahun 2025 tanpa skema multi-years, nasibnya bisa sama seperti tahun sebelumnya: berhenti mendadak dan menimbulkan kekecewaan.

"Kecuali, pemerintah mengadakannya dengan skema multi-years. Jadi artinya di bulan Desember (tahun ini), enggak disetop gitu kayak tahun lalu," jelasnya. Skema multi-years akan memberikan kepastian jangka panjang, baik bagi konsumen maupun industri.

Dengan adanya kepastian ini, produsen bisa lebih berani berinvestasi dalam kapasitas produksi dan pengembangan model baru. Konsumen pun akan merasa lebih tenang dan yakin untuk beralih ke motor listrik, tanpa khawatir insentif akan tiba-tiba hilang di tengah jalan.

Janji Manis Pemerintah dan Realita di Lapangan

Sejak insentif 2024 dihentikan, pemerintah memang terus melempar wacana untuk memberikan insentif lanjutan. Namun, wacana tersebut tak kunjung terealisasi hingga saat ini, membuat pasar semakin gamang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sempat menyampaikan bahwa rancangan skema insentif yang baru sudah selesai. Namun, keputusan akhir masih menunggu lampu hijau dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian).

Kemenko Perekonomian sendiri mengklaim sudah menerima surat dari Kemenperin dan akan segera mengkaji ulang untuk pembuatan aturan rinci. Proses birokrasi yang panjang ini tentu saja menguras kesabaran banyak pihak.

Dampak pada Industri dan Konsumen: Siapa yang Paling Dirugikan?

Penundaan dan ketidakjelasan insentif ini berdampak besar pada ekosistem motor listrik di Indonesia. Para produsen terpaksa menahan laju produksi dan investasi, bahkan ada yang harus mengurangi target penjualan. Diler-diler menghadapi tantangan berat dengan penjualan yang lesu dan biaya operasional yang terus berjalan.

Di sisi konsumen, banyak yang terpaksa menunda niat untuk beralih ke motor listrik. Harga motor listrik yang masih relatif tinggi dibandingkan motor konvensional menjadi pertimbangan utama. Tanpa insentif, daya tarik untuk membeli motor listrik jelas berkurang signifikan.

Ini juga menghambat upaya pemerintah dalam mencapai target pengurangan emisi karbon dan mendorong mobilitas hijau. Padahal, motor listrik adalah salah satu kunci untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.

Masa Depan Motor Listrik Indonesia: Antara Harapan dan Ketidakpastian

Rencananya, insentif motor listrik ini bakal digabung menjadi satu paket stimulus ekonomi di kuartal III (Juli-September) 2025. Namun, dengan pernyataan Aismoli, muncul pertanyaan besar: apakah stimulus ini akan efektif jika baru digulirkan di penghujung tahun?

"Jadi harapan kita, kalau memang tidak ada skema dengan multi-years ya mungkin tahun 2025 udah tanggung ya. Mending mungkin di tahun 2026 saja, di awal tahun kalau bisa, sudah mulai atau di Desember sudah diinformasikan," tutur Budi. Harapan ini mencerminkan keinginan industri akan kejelasan dan keberlanjutan.

Tanpa strategi yang matang dan implementasi yang tepat waktu, program insentif berpotensi menjadi sia-sia. Pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret dan memberikan kepastian, bukan hanya janji-janji yang terus diundur. Nasib motor listrik Indonesia, dan juga harapan akan udara yang lebih bersih, kini berada di tangan para pengambil kebijakan.

banner 325x300