banner 728x250

Mimpi KRL Sampai Karawang Kandas di Tengah Jalan, Kemenhub Ungkap Alasan Pahitnya!

mimpi krl sampai karawang kandas di tengah jalan kemenhub ungkap alasan pahitnya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

CNN Indonesia

Selasa, 16 Sep 2025 19:10 WIB

banner 325x300
Rute KRL batal diperpanjang sampai Karawang, Jawa Barat. Padahal, ini wacana lama yang dijanjikan sejak 2019.
Rute KRL batal diperpanjang sampai Karawang, Jawa Barat. Padahal, ini wacana lama yang dijanjikan sejak 2019. (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Harapan yang Pupus di Ujung Rel

Kabar tak sedap datang bagi ribuan warga Karawang dan sekitarnya yang selama ini mendambakan kemudahan akses transportasi publik. Impian memiliki jalur KRL Jabodetabek yang terbentang hingga ke kota mereka kini harus kandas di tengah jalan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi memastikan bahwa perpanjangan rute KRL dari Cikarang menuju Karawang, Jawa Barat, tidak akan terealisasi.

Keputusan ini tentu menjadi pukulan telak, mengingat wacana perpanjangan rute ini sudah digulirkan sejak tahun 2019. Banyak yang berharap KRL bisa menjadi solusi mobilitas efektif bagi daerah penyangga Jakarta, namun kini harapan itu hanya tinggal kenangan. Warga yang setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan dan biaya transportasi tinggi harus kembali gigit jari.

Mengapa KRL Tak Jadi ‘Ngebut’ Sampai Karawang?

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api (LLKA) DJKA Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Arif Anwar, menjelaskan alasan di balik pembatalan ini. Menurutnya, hambatan utama adalah belum adanya elektrifikasi atau pemasangan listrik aliran atas (LAA) yang diperlukan untuk operasional KRL. Saat ini, jalur KRL arah Bekasi memang masih mentok di Cikarang.

Arif menegaskan bahwa pemerintah belum memiliki rencana konkret untuk memperpanjang jalur KRL lintas Bekasi hingga Karawang dalam waktu dekat. Proses elektrifikasi adalah langkah fundamental yang harus dilakukan sebelum KRL bisa melaju di jalur tersebut. Tanpa infrastruktur kelistrikan yang memadai, KRL tidak akan bisa beroperasi.

Anggaran Jadi Batu Sandungan Utama

Selain masalah teknis elektrifikasi, faktor anggaran juga menjadi kendala krusial yang tak bisa diabaikan. Arif Anwar secara blak-blakan menyebutkan bahwa pemerintah belum memiliki kapasitas fiskal yang cukup untuk membiayai proyek elektrifikasi hingga Karawang. Proyek sebesar ini membutuhkan alokasi dana yang tidak sedikit.

Kemenhub saat ini memiliki sejumlah program prioritas lain yang juga membutuhkan anggaran besar. Hal ini membuat proyek perpanjangan KRL ke Karawang harus dikesampingkan sementara waktu. Prioritas anggaran dialihkan ke sektor-sektor yang dianggap lebih mendesak dan memiliki dampak lebih luas dalam jangka pendek.

Solusi Sementara: KA Lokal Jadi Penyelamat?

Meskipun KRL batal diperpanjang, Kemenhub menawarkan solusi alternatif bagi penumpang yang ingin menuju Karawang atau sebaliknya. Arif Anwar menyarankan agar penumpang KRL dari atau menuju Karawang bisa berganti moda transportasi. Mereka bisa menyambung perjalanan dari Cikarang ke Karawang atau Cikampek dengan menggunakan kereta lokal.

Namun, solusi ini tentu saja tidak seideal KRL yang memiliki frekuensi lebih tinggi dan kenyamanan yang berbeda. Pergantian moda transportasi bisa menambah waktu tempuh, biaya, dan kerumitan bagi para komuter. Bagi sebagian besar warga, KRL diharapkan bisa menjadi transportasi langsung yang efisien, bukan sekadar opsi sambungan.

Kilas Balik Janji Manis yang Tak Terwujud

Wacana perpanjangan rute KRL hingga Karawang bukanlah hal baru. Ide ini sudah digaungkan sejak tahun 2019 dan sempat menjadi angin segar bagi warga. Bahkan, Menteri Perhubungan (Menhub) era Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), Budi Karya Sumadi, pernah menargetkan rute KRL akan diperpanjang sampai Karawang pada tahun 2025 atau paling lambat 2026.

Janji ini sempat membangkitkan harapan besar, mengingat Karawang adalah salah satu daerah industri penting dan penyangga Jakarta yang memiliki mobilitas tinggi. Namun, kini target tersebut harus direvisi dan janji manis itu terpaksa ditunda, bahkan mungkin dibatalkan untuk waktu yang tidak ditentukan. Ini menunjukkan betapa kompleksnya perencanaan dan implementasi proyek infrastruktur besar.

Dampak Pembatalan Bagi Mobilitas Warga

Pembatalan perpanjangan KRL ke Karawang memiliki dampak signifikan terhadap mobilitas warga. Ribuan pekerja dan pelajar yang setiap hari bolak-balik antara Karawang dan Jakarta atau daerah sekitarnya harus kembali mengandalkan moda transportasi lain. Ini bisa berarti kembali terjebak kemacetan di jalan raya, mengeluarkan biaya lebih besar untuk transportasi pribadi atau bus, serta waktu tempuh yang lebih lama.

KRL diharapkan bisa mengurangi beban jalan raya dan memberikan alternatif transportasi massal yang terjangkau dan efisien. Dengan batalnya proyek ini, tujuan untuk meningkatkan mobilitas warga daerah penyangga Jakarta menjadi sedikit terhambat. Warga Karawang yang sudah lama menanti harus mencari solusi lain untuk kebutuhan perjalanan mereka.

Harapan Baru atau Realitas yang Harus Diterima?

Keputusan Kemenhub ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah ada harapan di masa depan untuk proyek ini? Atau, apakah warga Karawang harus menerima realitas bahwa KRL tidak akan pernah sampai ke kota mereka? Meskipun alasan anggaran dan teknis sangat rasional, kekecewaan publik tetap tak terhindarkan.

Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali prioritas jangka panjang untuk pemerataan akses transportasi publik. Meskipun ada program lain yang lebih mendesak, kebutuhan mobilitas warga di daerah penyangga seperti Karawang juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Semoga ada solusi jangka panjang yang lebih komprehensif untuk menjawab kebutuhan transportasi masyarakat Karawang di masa mendatang.

banner 325x300