banner 728x250

Terungkap! NASA Klaim Temukan Bukti Paling Jelas Kehidupan Purba di Mars, Batu Berbintik Ini Jadi Saksinya!

terungkap nasa klaim temukan bukti paling jelas kehidupan purba di mars batu berbintik ini jadi saksinya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

NASA baru saja menggemparkan dunia dengan pengumuman yang sangat mungkin menjadi titik balik dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Wahana penjelajah Perseverance kembali mencetak sejarah dengan menemukan bukti paling gamblang tentang kemungkinan adanya kehidupan purba di Planet Mars.

Penemuan fenomenal ini berasal dari batuan unik yang dikumpulkan Perseverance pada Juli 2024. Batuan tersebut memiliki pola bintik-bintik mirip macan tutul yang langsung menarik perhatian para ilmuwan.

banner 325x300

Misteri Batu ‘Macan Tutul’ dari Mars

Dalam pengumuman resminya pada Rabu (11/9) lalu, NASA mengungkapkan hasil analisis terbaru terhadap sampel batu dari lokasi bernama Cheyava Falls, yang terletak di lembah Neretva Vallis. Hasilnya menunjukkan adanya kemungkinan biosignature, yaitu tanda kimia atau tekstur yang bisa jadi dihasilkan oleh proses biologis.

"Setelah setahun meninjau, mereka kembali dan mengatakan, ‘Kami tidak menemukan penjelasan lain,’" ujar Sean Duffy, Pejabat Sementara Administrator NASA, dikutip dari CNN. Pernyataan ini sontak memicu antusiasme besar di kalangan ilmuwan dan publik.

Duffy melanjutkan, "Jadi ini sangat mungkin menjadi tanda kehidupan paling jelas yang pernah kami temukan di Mars." Sebuah klaim yang sangat berani dan penuh harapan, mengingat betapa lamanya manusia mencari jawaban atas pertanyaan "Apakah kita sendirian di alam semesta?"

Sampel batu yang dijuluki Sapphire Canyon ini memang istimewa. Pola bintik-bintik hitamnya, yang oleh tim ilmuwan disebut sebagai ‘biji poppy’ dan ‘bintik macan tutul’, ditemukan di formasi batuan bernama Bright Angel. Formasi ini diyakini terbentuk di lingkungan danau purba lebih dari 3 miliar tahun lalu, sebuah periode krusial ketika kehidupan juga baru mulai muncul di Bumi.

Jejak Organik dan Air Purba

Lalu, apa sebenarnya yang membuat batu ini begitu spesial? Instrumen SHERLOC (Scanning Habitable Environments with Raman & Luminescence for Organics & Chemicals) yang terpasang di rover Perseverance memainkan peran kunci. Instrumen canggih ini berhasil mendeteksi keberadaan senyawa organik, yaitu bahan penyusun dasar kehidupan berbasis karbon.

Penemuan senyawa organik ini adalah petunjuk penting, karena di Bumi, senyawa-senyawa ini adalah fondasi bagi semua bentuk kehidupan yang kita kenal. Keberadaannya di Mars membuka peluang besar bahwa proses serupa mungkin pernah terjadi di sana.

Selain itu, para ilmuwan juga menemukan urat putih kalsium sulfat yang menembus batuan tersebut. Ini adalah bukti kuat bahwa air pernah mengalir melalui batu itu. Keberadaan air, baik di masa lalu maupun sekarang, adalah prasyarat utama untuk mendukung kehidupan, setidaknya seperti yang kita pahami.

Petunjuk dari Mineral dan Mikroba

Tak berhenti di situ, data dari instrumen PIXL (Planetary Instrument for X-ray Lithochemistry) semakin memperkuat temuan ini. PIXL mendeteksi adanya besi, fosfat, dan hematit yang terkonsentrasi di sekitar bintik-bintik batu tersebut.

Mengapa ini penting? Di Bumi, mineral serupa seringkali terbentuk oleh aktivitas mikroba di lingkungan berair dan bersuhu rendah. Ini menunjukkan adanya kesamaan kondisi yang bisa jadi menjadi indikasi adanya kehidupan mikroba di Mars purba.

Para peneliti telah mengkaji dua kemungkinan utama pembentukan fitur unik pada batuan ini: melalui reaksi kimia non-biologis atau oleh aktivitas kehidupan mikroba. Penjelasan non-biologis seringkali memerlukan kondisi ekstrem, seperti suhu tinggi, untuk menghasilkan pola serupa.

Mengapa Ini Bukan Sekadar Batuan Biasa?

Di sinilah temuan ini menjadi sangat menarik. Menurut Dr. Michael Tice dari Texas A&M University, proses non-biologis yang bisa menghasilkan pola seperti ini biasanya memerlukan suhu yang sangat tinggi. Namun, analisis terhadap sampel Mars ini tidak menemukan jejak pemanasan ekstrem tersebut.

"Semua analisis menunjukkan bahwa batu ini tidak pernah mengalami pemanasan yang cukup untuk menghasilkan pola ini secara geokimia," kata Tice. Pernyataan ini secara efektif menyingkirkan salah satu penjelasan alternatif yang paling umum.

Dengan menipisnya kemungkinan penjelasan non-biologis, hipotesis tentang kehidupan mikroba menjadi semakin kuat. "Jadi, kita harus mempertimbangkan serius kemungkinan bahwa makhluk mirip bakteri pernah hidup di lumpur danau Mars," imbuhnya. Ini adalah sebuah pernyataan yang memiliki implikasi besar bagi pemahaman kita tentang alam semesta.

Misi Berat Membawa Pulang ‘Harta Karun’ Mars

Meski temuan ini sangat menggembirakan dan menjanjikan, para ilmuwan menekankan bahwa ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Sampel-sampel batuan berharga itu kini tersimpan aman dalam tabung kedap udara di permukaan Mars, jutaan kilometer jauhnya dari Bumi.

"Yang perlu kita lakukan dari sini adalah membawa sampel ini pulang ke Bumi," kata Joel Hurowitz, penulis utama studi dari Stony Brook University. Hanya dengan analisis mendalam di laboratorium Bumi, dengan peralatan yang jauh lebih canggih, kepastian tentang adanya kehidupan purba di Mars bisa didapatkan.

Namun, misi pengembalian sampel dari Mars bukanlah perkara mudah. Rencana NASA untuk membawa sampel-sampel ini ke Bumi masih menghadapi tantangan besar, terutama karena adanya rencana pemotongan anggaran dari pemerintah AS. Ini menjadi hambatan serius bagi upaya ilmiah yang sangat penting ini.

"Kami sedang mengkaji bagaimana caranya membawa sampel itu kembali dengan efisien dan cepat," kata Duffy. Tantangan teknis dan finansial ini menunjukkan betapa kompleksnya eksplorasi antariksa, bahkan untuk penemuan sepenting ini.

Jendela ke Masa Lalu Tata Surya

Lokasi penemuan batu ini, Bright Angel, diyakini merekam lingkungan Mars kuno yang pernah laik huni. Ini adalah semacam "kapsul waktu" yang menyimpan informasi berharga tentang kondisi Mars miliaran tahun lalu, ketika planet merah ini mungkin jauh lebih basah dan hangat.

Katie Stack Morgan, ilmuwan proyek Perseverance di Jet Propulsion Laboratory (JPL), menyebut batu-batu itu sebagai jendela langka menuju masa ketika kehidupan juga baru mulai muncul di Bumi. "Batu-batu purba ini menyimpan informasi tentang masa yang sulit ditemukan jejaknya di Bumi, tapi mungkin penting dalam memahami asal-usul kehidupan di tata surya," katanya.

Penemuan ini bukan hanya tentang Mars, tetapi juga tentang pemahaman kita terhadap asal-usul kehidupan secara universal. Jika terbukti ada kehidupan di Mars purba, ini akan mengubah pandangan kita tentang betapa umumnya kehidupan di alam semesta. Ini adalah sebuah langkah besar dalam menjawab pertanyaan fundamental tentang tempat kita di kosmos.

banner 325x300