Jakarta, CNN Indonesia – Kursi kepemimpinan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini resmi diemban oleh Arif Satria. Setelah dilantik, Arif Satria tak hanya membawa visi pribadinya, tetapi juga sebuah pesan khusus yang sangat strategis dari Presiden Prabowo Subianto. Pesan ini bukan sembarang arahan, melainkan fokus utama yang akan menjadi fondasi pembangunan nasional ke depan.
"Intinya kita diminta untuk mengawal proses pembangunan yang menekankan masalah pangan, masalah energi, dan juga masalah air. Saya kira tiga itu yang penting," ungkap Arif Satria dengan tegas. Pernyataan ini disampaikannya usai acara Serah Terima Jabatan di Kantor BRIN, Jakarta Pusat, pada Selasa (11/11). Tiga sektor ini digarisbawahi sebagai pilar krusial yang harus menjadi prioritas utama riset dan inovasi di Indonesia.
Selain itu, Arif Satria juga menekankan pentingnya peran BRIN dalam memberikan dampak signifikan bagi kemajuan ekonomi bangsa. Riset dan inovasi tidak boleh hanya berhenti di laboratorium, melainkan harus mampu diterjemahkan menjadi solusi konkret yang mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah tantangan besar yang diemban oleh BRIN di bawah kepemimpinannya.
Fokus Utama: Pangan, Energi, dan Air
Mengapa pangan, energi, dan air menjadi begitu sentral dalam arahan Presiden Prabowo? Ketiga elemen ini adalah fondasi keberlangsungan hidup dan kemajuan sebuah negara. Krisis global, perubahan iklim, serta pertumbuhan populasi menuntut Indonesia untuk memiliki ketahanan yang kuat di sektor-sektor ini. BRIN diharapkan menjadi garda terdepan dalam mencari solusi inovatif.
Di sektor pangan, BRIN memiliki tugas berat untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan kualitas pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini mencakup riset pengembangan varietas unggul, teknologi pertanian berkelanjutan, hingga inovasi pengolahan dan distribusi pangan yang efisien. Dengan demikian, ancaman krisis pangan dapat diantisipasi dan diatasi secara proaktif.
Selanjutnya, masalah energi juga tak kalah vital. Indonesia sedang berjuang menuju transisi energi bersih, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan mengembangkan sumber energi terbarukan. BRIN diharapkan menjadi motor penggerak riset energi baru terbarukan, efisiensi energi, serta teknologi penyimpanan energi yang canggih. Ini adalah langkah penting menuju kemandirian energi dan keberlanjutan lingkungan.
Tak lupa, air sebagai sumber kehidupan juga menjadi fokus utama. Perubahan iklim telah menyebabkan kelangkaan air di beberapa daerah, sementara kualitas air juga menjadi isu serius. BRIN ditugaskan untuk mengembangkan teknologi pengelolaan air yang efektif, konservasi sumber daya air, serta inovasi dalam penjernihan dan distribusi air bersih. Ini demi memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap air yang layak.
Membangun Fondasi Riset yang Lebih Kuat
Arif Satria juga menyoroti beberapa bidang lain yang akan menjadi fokus BRIN, seperti lingkungan dan kesehatan. Ia melihat bahwa apa yang sudah ada di BRIN saat ini adalah modal yang sangat kuat dan besar. Namun, modal tersebut perlu diperkuat lagi agar bisa memiliki dampak yang lebih luas dan mendalam bagi kemajuan bangsa.
Salah satu modal utama BRIN adalah para penelitinya. Mereka adalah ujung tombak inovasi dan penemuan. Oleh karena itu, elemen sumber daya manusia ini menjadi salah satu yang paling krusial untuk diperkuat, baik dari segi kapasitas, fasilitas, maupun ekosistem kerja yang mendukung.
"Sekarang ini yang penting bagi kita adalah orkestrasi, bagaimana memperkuat kolaborasi, sinergi antar peneliti yang ada di Indonesia," tutur Arif. Ia menekankan pentingnya menghilangkan sekat-sekat antarlembaga riset. Kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada peneliti internal BRIN, tetapi juga melibatkan para akademisi dan peneliti di berbagai kampus di seluruh Indonesia.
Dalam konteks ini, BRIN juga akan menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Sinergi antara lembaga riset dan institusi pendidikan tinggi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem riset yang lebih dinamis, produktif, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Target Jangka Pendek: Dua Bulan untuk Dampak Nyata
Sebagai pemimpin baru, Arif Satria tidak ingin berlama-lama dalam merumuskan strategi. Ia mengatakan dirinya perlu menemukan apa saja program yang bisa memberikan dampak bagi kemajuan riset dalam dua bulan ke depan. Ini menunjukkan urgensi dan komitmen untuk segera bertindak.
Langkah pertama yang akan dilakukan adalah dengan mendengar pencapaian dan tantangan dari masing-masing deputi dan organisasi kerja di BRIN. Pendekatan ini penting untuk memahami kondisi internal secara menyeluruh sebelum merumuskan langkah-langkah strategis ke depan. Mendengarkan masukan dari berbagai pihak adalah kunci untuk membuat keputusan yang tepat.
"Setelah mendengar masukan-masukan, informasi-informasi yang ada, baru kita akan segera rumuskan langkah-langkah apa (yang akan dilakukan)," tuturnya. Ini adalah proses sistematis untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil didasarkan pada data dan informasi yang akurat.
"Tapi big picture-nya, kerangkanya adalah bahwa seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, kita perlu konsolidasi nasional dalam bidang riset dan inovasi," imbuhnya. Konsolidasi ini berarti menyatukan visi, misi, dan sumber daya riset nasional untuk mencapai tujuan bersama yang lebih besar. Ini adalah upaya untuk menciptakan sinergi yang maksimal di seluruh ekosistem riset Indonesia.
Membangun Satelit Riset di Daerah: Inovasi dari Lokal untuk Nasional
Tak hanya fokus pada level nasional, Arif Satria juga menyoroti pentingnya ekosistem riset di daerah. Menurutnya, penting untuk menempatkan peneliti-peneliti di daerah untuk menyelesaikan masalah-masalah lokal yang spesifik. Setiap daerah memiliki tantangan dan potensi unik yang membutuhkan pendekatan riset yang disesuaikan.
Arif menyatakan keinginannya untuk membuat banyak "satelit riset" di daerah. Konsep ini berarti membangun pusat-pusat riset kecil yang tersebar di berbagai wilayah, yang nantinya bisa berkolaborasi dengan investasi dan potensi lokal yang ada. Ini adalah strategi desentralisasi inovasi yang diharapkan dapat mempercepat pembangunan di seluruh pelosok negeri.
"Menurut saya perlu untuk kita perkuat basis daerah itu. Jadi BRIN itu tidak hanya sekedar ngurusin BRIN," katanya. Visi ini menunjukkan bahwa BRIN bukan hanya sebuah organisasi riset semata, tetapi juga memiliki tugas mulia untuk membangun kultur riset dan inovasi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, semangat berinovasi dapat tumbuh dan berkembang dari tingkat lokal hingga nasional.
BRIN di bawah kepemimpinan Arif Satria diharapkan menjadi lokomotif yang tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga menginspirasi dan memberdayakan masyarakat untuk berinovasi. Dengan fokus pada pangan, energi, dan air, serta penguatan kolaborasi dan desentralisasi riset, masa depan Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera melalui sains dan teknologi bukan lagi sekadar mimpi. Ini adalah misi yang harus diwujudkan bersama.


















