Sejumlah wilayah di Indonesia kini menghadapi ancaman serius yang bisa membuat mereka tenggelam lebih cepat dari perkiraan semula. Bukan hanya dampak perubahan iklim global, ternyata ada dua faktor lain yang secara spesifik memperparah kondisi di Tanah Air. Hal ini diungkap langsung oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati.
Ancaman Ganda: Tektonik dan Infrastruktur yang Menua
Menurut Dwikorita, Indonesia memiliki kerentanan ganda. Selain kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, aktivitas tektonik juga membuat pulau-pulau di Indonesia semakin turun. Fenomena ini menyebabkan kecepatan penurunan atau kenaikan muka air laut bisa mencapai lebih dari 4 sentimeter per tahun, angka yang jauh lebih tinggi dari rata-rata global.
Selain faktor alam, masalah infrastruktur yang sudah ada juga turut memperburuk situasi. Banyak bendungan dan sistem tata kelola air yang dirancang pada tahun 1950-an atau 1960-an, bahkan sebelumnya. Desain infrastruktur ini belum memperhitungkan variabel perubahan iklim yang ekstrem seperti saat ini, menjadikannya rentan terhadap bencana.
Dampak Perubahan Iklim: Kenaikan Muka Air Laut yang Tak Terelakkan
Perubahan iklim global memang menjadi pemicu utama kenaikan muka air laut di seluruh dunia. Pemanasan global menyebabkan es di kutub mencair dan air laut mengalami ekspansi termal, sehingga volume air bertambah. Riset dari Nature Communication pada 2019 bahkan memprediksi bahwa permukaan laut akan naik sekitar 30 hingga 50 sentimeter pada tahun 2050.
Studi tersebut juga menyoroti bahwa lebih dari 150 juta orang di dunia saat ini tinggal di wilayah dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Beberapa kota besar seperti Jakarta, Pearl River Delta di China, Bangladesh, dan Bangkok diperkirakan akan menjadi kota yang tenggelam. Indonesia, bersama tujuh negara Asia lainnya, menyumbang lebih dari 70 persen populasi yang terancam.
Aktivitas Tektonik: Ketika Daratan Pun Ikut Menurun
Uniknya, Indonesia memiliki tantangan tambahan berupa aktivitas tektonik yang sangat aktif. Sebagai negara yang berada di pertemuan lempeng-lempeng besar bumi, pergerakan lempeng ini tidak hanya memicu gempa bumi dan tsunami, tetapi juga menyebabkan beberapa daratan mengalami penurunan secara perlahan. Proses ini dikenal sebagai subsidensi tektonik.
Penurunan daratan akibat aktivitas tektonik ini mempercepat laju tenggelamnya wilayah pesisir. Bayangkan, jika muka air laut naik dan daratan juga ikut turun, maka ancaman tenggelam menjadi berlipat ganda. Ini adalah masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan khusus, tidak bisa disamakan dengan negara lain yang hanya menghadapi kenaikan muka air laut.
Infrastruktur Usang: Desain Lama Tak Mampu Hadapi Tantangan Baru
Masalah infrastruktur yang tidak relevan dengan kondisi iklim saat ini juga menjadi sorotan penting. Dwikorita menjelaskan bahwa banyak infrastruktur vital, seperti bendungan dan sistem irigasi, dibangun di era di mana isu perubahan iklim belum menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, kapasitas dan desainnya tidak memadai untuk menghadapi curah hujan ekstrem atau kekeringan panjang yang kini sering terjadi.
Tata kelola lahan dan sumber daya air yang kurang optimal juga memperparah kondisi. Misalnya, eksploitasi air tanah berlebihan di perkotaan dapat menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) yang signifikan. Hal ini membuat wilayah perkotaan semakin rentan terhadap banjir rob dan genangan air.
Adaptasi dan Mitigasi: Solusi Gotong Royong Berbasis Sains
Menghadapi ancaman ini, Dwikorita menegaskan pentingnya respons cepat melalui adaptasi dan mitigasi. Adaptasi berarti menyesuaikan diri dengan perubahan yang sudah terjadi, seperti membangun tanggul laut atau mengembangkan varietas tanaman yang tahan genangan. Sementara mitigasi adalah upaya mengurangi dampak perubahan iklim dan risiko bencana.
Mitigasi harus dilakukan secara gotong royong oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat. Salah satu aspek krusial adalah tata kelola lahan dan sumber daya air yang harus dikelola dengan baik dan berbasis sains. Kebijakan yang diambil harus didasarkan pada data dan penelitian ilmiah yang akurat.
Kebijakan Berbasis Sains: Kunci Ketahanan Masa Depan
Pentingnya kebijakan berbasis sains (science-based policy) tidak hanya untuk mencegah bencana, tetapi juga untuk menyiapkan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air di masa depan. Tata kelola air yang baik, misalnya, akan memastikan ketersediaan air bersih untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari, serta mendukung produksi energi terbarukan.
Jika kebijakan tidak didasari oleh sains yang kuat, upaya pencegahan dan penanganan bencana bisa menjadi sia-sia. Perlu ada pembaruan desain infrastruktur yang mempertimbangkan proyeksi perubahan iklim di masa depan. Investasi pada riset dan teknologi juga krusial untuk menemukan solusi inovatif.
Belajar dari Penelitian Global: Peringatan untuk Indonesia
Laporan dari Nature Communication pada 2019 menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Penelitian ini secara spesifik menyebut Jakarta sebagai salah satu kota yang paling terancam tenggelam pada tahun 2050. Ini bukan sekadar ramalan, melainkan proyeksi berdasarkan data ilmiah yang komprehensif.
Ancaman ini bukan hanya tentang kehilangan daratan, tetapi juga potensi krisis kemanusiaan, ekonomi, dan lingkungan yang masif. Jutaan orang bisa kehilangan tempat tinggal, mata pencarian, dan akses terhadap sumber daya vital. Oleh karena itu, langkah-langkah proaktif dan kolaboratif harus segera diambil.
Masa Depan Indonesia di Ujung Tanduk: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Ancaman tenggelamnya wilayah Indonesia adalah isu kompleks yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Perubahan iklim, aktivitas tektonik, dan infrastruktur yang menua adalah tiga pilar utama yang harus diatasi secara bersamaan. Tanpa respons yang terkoordinasi dan berbasis sains, risiko yang dihadapi akan semakin besar.
Pemerintah perlu mempercepat implementasi kebijakan adaptasi dan mitigasi yang komprehensif. Masyarakat juga harus terlibat aktif dalam menjaga lingkungan dan mendukung program-program yang berkelanjutan. Masa depan Indonesia, terutama wilayah pesisirnya, sangat bergantung pada bagaimana kita merespons tantangan besar ini.


















