Jakarta, CNN Indonesia — Kabar mengejutkan datang dari dunia riset dan inovasi nasional. Laksana Tri Handoko, sosok yang selama ini dikenal sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), resmi melepas jabatannya pada Selasa (11/11). Keputusan ini sontak menarik perhatian, mengingat posisi Kepala BRIN adalah salah satu yang paling strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Namun, bukan berarti Handoko akan menghilang dari kancah riset. Justru sebaliknya, ia memilih kembali ke habitat aslinya: menjadi seorang peneliti. Sebuah langkah yang tak biasa, namun sarat makna bagi perjalanan karir seorang ilmuwan sejati.
Laksana Tri Handoko: Dari Puncak BRIN Kembali ke Laboratorium
Serah terima jabatan Kepala BRIN berlangsung di Kantor BRIN, Jakarta Pusat. Dalam momen tersebut, Handoko secara resmi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Arif Satria, yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB). Handoko sendiri tidak pergi dengan tangan kosong, ia meninggalkan sejumlah "pekerjaan rumah" yang ia titipkan kepada penggantinya.
"Pekerjaan Rumah" yang Tak Pernah Usai
"Masih banyak lah (pekerjaan rumah), kan kita juga enggak mungkin selesai, ya kan? Ada sih di memo itu, saya tulis, saking banyaknya," ujar Handoko dengan nada santai usai acara. Ia menambahkan bahwa pekerjaan rumah yang dimaksud mungkin bukan lagi hal-hal fundamental, melainkan lebih ke arah "incremental improvement" atau perbaikan berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa meskipun fondasi telah dibangun, inovasi dan penyempurnaan adalah proses tanpa henti dalam dunia riset.
Pernyataan ini mengindikasikan kompleksitas dan dinamika yang ada di BRIN, sebuah lembaga yang bertugas mengintegrasikan berbagai entitas riset di Indonesia. Tugas Handoko selama menjabat memang tidak ringan, mulai dari konsolidasi lembaga hingga perumusan arah kebijakan riset nasional. Kini, tantangan tersebut akan diemban oleh pemimpin baru.
Estafet Kepemimpinan: Arif Satria Ambil Alih Kendali BRIN
Sosok Arif Satria, yang kini resmi menjabat Kepala BRIN, bukanlah nama asing di dunia pendidikan dan riset. Pengalamannya sebagai Rektor IPB selama dua periode memberinya bekal kepemimpinan yang kuat. Pelantikan Arif Satria sebagai Kepala BRIN baru dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 36 M/F Tahun 2025.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan membawa angin segar dan perspektif baru bagi BRIN. Dengan latar belakang yang kuat di bidang pertanian dan lingkungan, Arif Satria berpotensi membawa fokus baru dalam pengembangan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Tantangan besar menanti, terutama dalam melanjutkan visi BRIN untuk menjadi lembaga riset kelas dunia.
Mengapa Kembali Menjadi Peneliti? Panggilan Jiwa Fisika Kuantum
Yang paling menarik dari keputusan Laksana Tri Handoko adalah langkahnya untuk kembali menjadi peneliti fungsional jenjang ahli utama. Ini bukan sekadar mundur dari jabatan, melainkan sebuah "pulang" ke akar keilmuannya. Handoko, dengan latar belakang fisika teori, akan berkarir di bawah Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material di BRIN.
"Pusat riset fisika kuantum. Bidang saya lah ya, fisika teori dan komputasi," tuturnya dengan antusias. Keputusan ini menunjukkan dedikasi dan kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan. Bagi seorang ilmuwan sejati, laboratorium dan riset mungkin adalah tempat terbaik untuk berkarya, terlepas dari posisi administratif.
Peran Peneliti Ahli Utama: Lebih dari Sekadar Jabatan
Jabatan fungsional peneliti ahli utama adalah puncak karir bagi seorang peneliti. Ini bukan hanya pengakuan atas keahlian, tetapi juga kesempatan untuk berkontribusi secara langsung pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan pengalamannya yang luas, Handoko diharapkan dapat menjadi mentor dan inspirator bagi peneliti-peneliti muda di BRIN, khususnya di bidang fisika kuantum yang sangat fundamental.
Kembalinya Handoko ke bangku peneliti juga bisa diartikan sebagai pesan kuat tentang pentingnya keahlian teknis dan ilmiah yang mendalam. Di tengah hiruk pikuk birokrasi, seorang pemimpin yang rela kembali ke "dapur" riset menunjukkan bahwa esensi dari BRIN adalah pada inovasi dan penemuan ilmiah itu sendiri. Ini adalah langkah yang patut diapresiasi dan mungkin menjadi inspirasi bagi banyak ilmuwan lainnya.
Jejak Karir Gemilang Laksana Tri Handoko: Dari Malang ke Panggung Dunia
Untuk memahami lebih dalam keputusan Handoko, penting untuk menilik kembali profil dan jejak karir gemilangnya. Lahir di Malang pada 7 Mei 1968, Handoko adalah sosok dengan perjalanan akademik dan profesional yang luar biasa.
Pendidikan dan Pengalaman Internasional
Perjalanan pendidikannya dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama beberapa bulan, sebelum ia terpilih dalam program OFP IV dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI di era Presiden B.J. Habibie. Program ini membawanya ke Jepang, di mana ia meraih gelar sarjana jurusan fisika di Universitas Kumamoto pada tahun 1993.
Tak berhenti di situ, Handoko melanjutkan studi masternya di bidang fisika teori di Universitas Hiroshima. Di universitas yang sama, ia berhasil meraih gelar doktor di bidang teori fisika partikel atau fisika energi tinggi. Ini menunjukkan fokus dan ketekunannya pada bidang fisika fundamental sejak awal.
Setelah menyelesaikan studinya, Handoko tidak langsung kembali ke Indonesia. Ia sempat malang melintang sebagai peneliti di sejumlah lembaga penelitian kelas dunia, seperti The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics (ICTP) di Italia, Deutsches Elektronen-Synchroton (DESY) di Jerman, Department of Physics – Yonsei University di Korea Selatan, hingga ICTP Simons Associate. Pengalaman internasional ini tentu membentuk visi dan standar risetnya.
Memimpin Lembaga Riset Nasional
Pada tahun 1987, Handoko diketahui menjadi bagian dari Pusat Penelitian Fisika di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, dia ditunjuk menjadi Kepala Grup Fisikawan Teoritik dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika. Karirnya terus menanjak, pada tahun 2012, ia dipercaya menjadi Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI. Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI.
Puncaknya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menunjuk Handoko sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2018. Dengan dibentuknya BRIN, ia kemudian dipercaya untuk memimpin lembaga superbody riset tersebut. Selama memimpin LIPI dan BRIN, Handoko dikenal sebagai sosok yang visioner dan berani melakukan reformasi demi kemajuan riset di Indonesia.
Apa Artinya Ini bagi Masa Depan Riset Indonesia?
Keputusan Laksana Tri Handoko untuk kembali ke meja riset bukan sekadar berita personal, melainkan memiliki implikasi yang lebih luas bagi ekosistem riset nasional. Ini menegaskan bahwa nilai seorang ilmuwan tidak hanya terletak pada posisi administratif yang dipegang, tetapi pada kontribusi nyata terhadap penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan kembalinya Handoko sebagai peneliti ahli utama, BRIN akan memiliki seorang pakar fisika teori dan komputasi yang berpengalaman, yang bisa menjadi lokomotif bagi riset-riset fundamental di bidang fisika kuantum dan nanoteknologi. Kehadirannya di laboratorium dapat mempercepat inovasi dan melahirkan penemuan-penemuan baru yang relevan bagi kemajuan teknologi dan industri di Indonesia.
BRIN di Bawah Kepemimpinan Baru: Tantangan dan Harapan
Di bawah kepemimpinan Arif Satria, BRIN diharapkan dapat melanjutkan dan memperkuat fondasi yang telah dibangun. Tantangan utama adalah bagaimana BRIN bisa menjadi lembaga yang efektif dalam mengintegrasikan riset, menghasilkan inovasi yang berdampak, serta menarik talenta-talenta terbaik untuk berkarya di Indonesia.
Harapan besar disematkan kepada BRIN untuk menjadi motor penggerak pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya sinergi antara pemimpin baru yang visioner dan para peneliti ahli seperti Laksana Tri Handoko, masa depan riset dan inovasi Indonesia tampak semakin cerah. Misi rahasia Handoko mungkin adalah untuk membuktikan bahwa kontribusi terbesar seorang ilmuwan tetaplah di garis depan penemuan, di mana ide-ide besar dilahirkan dan diwujudkan.


















