Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Mark Zuckerberg dan Para Sultan Bangun Bunker Mewah Anti-Kiamat, Takut Apa Mereka?

geger mark zuckerberg dan para sultan bangun bunker mewah anti kiamat takut apa mereka portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia sedang dihebohkan dengan kabar para miliarder dan ilmuwan top yang ramai-ramai membangun bunker mewah. Bukan sembarang bunker, fasilitas ini disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk, alias ‘kiamat’. Sebuah tren yang mungkin terdengar seperti plot film fiksi ilmiah, namun kini menjadi kenyataan yang dilakukan oleh orang-orang terkaya di planet ini. Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah CEO Meta, Mark Zuckerberg.

Zuckerberg Punya Bunker Rp4,1 Triliun di Hawaii?

Mark Zuckerberg dikabarkan sedang membangun kompleks super mewah di Pulau Kauai, Hawaii, lengkap dengan bunker bawah tanah yang dirancang untuk bertahan dari segala kemungkinan. Proyek ambisius ini disebut-sebut menelan biaya fantastis, mencapai ratusan juta dolar. Bayangkan, properti seluas 1.400 hektar ini diselimuti kerahasiaan tingkat tinggi, membuat banyak pihak bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di balik temboknya.

banner 325x300

Menurut laporan investigasi Wired, kompleks bernama Koolau Ranch ini akan memiliki bunker seluas 464 meter persegi yang sangat canggih. Bunker tersebut dilengkapi pasokan energi dan makanan sendiri, menjadikannya mandiri dari dunia luar dan siap menghadapi skenario terputusnya pasokan. Jika digabungkan dengan harga pembelian tanah yang sudah mahal, total biaya proyek ini diperkirakan mencapai lebih dari US$270 juta, atau setara dengan Rp4,1 triliun. Angka yang fantastis untuk sebuah hunian pribadi, bukan?

Dokumen perencanaan yang bocor mengungkap bahwa kompleks ini akan memiliki lebih dari selusin bangunan, dengan total 30 kamar tidur dan 30 kamar mandi. Dua rumah utama saja memiliki luas lantai gabungan yang setara dengan lapangan sepak bola profesional, sekitar 5.295 meter persegi. Di dalamnya terdapat lift, kantor, ruang konferensi, hingga dapur berukuran industri yang siap melayani kebutuhan penghuninya dalam jangka panjang.

Pembangunan kompleks dan bunker anti-kiamat ini disebut-sebut sebagai salah satu proyek konstruksi pribadi terbesar dalam sejarah manusia, menyaingi proyek-proyek raksasa lainnya. Meskipun izin mendirikan bangunan mencantumkan harga konstruksi utama sekitar US$100 juta, biaya sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, terutama mengingat lokasi terpencil di pulau dan kebutuhan akan logistik yang rumit. Namun, saat dikonfirmasi, Zuckerberg membantah tegas rumor tersebut. Ia menyebut ruang bawah tanah seluas 465 meter persegi itu hanyalah basement biasa untuk kebutuhan keluarga, bukan bunker kiamat seperti yang dirumorkan banyak orang.

Fenomena ‘Bunker Kiamat’ Para Sultan: Bukan Cuma Zuckerberg!

Ternyata, tren membangun bunker mewah ini bukan hanya dilakukan oleh Mark Zuckerberg saja. Banyak orang super kaya, terutama di bidang teknologi, mulai sibuk membeli lahan luas dengan ruang bawah tanah yang siap diubah menjadi bunker pribadi. Mereka seolah berlomba-lomba menyiapkan "asuransi kiamat" versi pribadi untuk melindungi aset dan keluarga mereka.

Reid Hoffman, salah satu pendiri LinkedIn, pernah secara terbuka menyebut bahwa konsep bunker ini adalah ‘asuransi kiamat’ bagi para miliarder. Menurutnya, sekitar setengah dari orang-orang super kaya sudah memiliki fasilitas semacam ini, atau setidaknya berinvestasi dalam persiapan serupa. Lokasi favorit mereka? Selandia Baru menjadi pilihan utama, dikenal dengan pemandangannya yang indah dan stabilitas politiknya.

Para sultan ini membangun bunker bukan hanya untuk berlindung dari ancaman bencana alam atau krisis iklim yang semakin nyata dan sering terjadi. Ada kekhawatiran lain yang tak kalah besar, yaitu perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mereka anggap bisa menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia. Ironis, bukan, ketika para pencipta teknologi justru yang paling takut pada ciptaan mereka sendiri?

AI: Ancaman Nyata atau Sekadar Paranoid?

Kekhawatiran terhadap AI ini bukanlah isapan jempol belaka bagi sebagian ilmuwan dan tokoh teknologi terkemuka. Ilya Sutskever, ilmuwan utama dan salah satu pendiri OpenAI, bahkan pernah menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi membangun tempat perlindungan bawah tanah khusus untuk para ilmuwan. Ini dilakukan sebagai persiapan krusial sebelum teknologi Artificial General Intelligence (AGI) dirilis ke publik.

AGI sendiri adalah titik di mana mesin AI sudah mampu menandingi atau bahkan melampaui kecerdasan manusia secara menyeluruh, bukan hanya pada tugas spesifik. "Kami pasti akan membangun bunker sebelum meluncurkan AGI," kata Sutskever dalam sebuah rapat, menunjukkan betapa seriusnya mereka memandang potensi ancaman dari AI yang semakin canggih dan tak terkendali. Bayangkan, teknologi yang seharusnya mempermudah hidup, justru ditakuti akan membawa malapetaka.

Benarkah AI Akan Mengakhiri Dunia? Ini Kata Ilmuwan Lain!

Namun, tidak semua ilmuwan sepakat dengan pandangan Sutskever yang terkesan pesimis. Neil Lawrence, seorang profesor terkemuka dari Universitas Cambridge, menilai wacana mengenai AGI terlalu berlebihan dan menganggap ancaman tersebut sebagai omong kosong belaka. Baginya, kekhawatiran ini hanya narasi yang dilebih-lebihkan dan tidak berdasar.

"Konsep Kecerdasan Buatan Umum (Artificial General Intelligence) sama absurdnya dengan konsep ‘Kendaraan Buatan Umum’," ujarnya. Lawrence menjelaskan bahwa kendaraan yang tepat sangat bergantung pada konteks penggunaan, seperti Airbus untuk terbang jarak jauh atau mobil untuk mobilitas harian. Tidak ada satu kendaraan pun yang bisa melakukan semuanya, begitu pula dengan AI.

Bagi Profesor Lawrence, pembicaraan tentang AGI hanyalah gangguan yang mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih mendesak dan nyata. Ia khawatir, kita terlalu terpesona oleh narasi besar teknologi tentang AGI sehingga melewatkan cara-cara praktis untuk membuat hal-hal menjadi lebih baik bagi orang-orang di masa kini, seperti mengatasi bias dalam algoritma atau memastikan akses teknologi yang adil.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Ditakuti Para Sultan Ini?

Terlepas dari perdebatan sengit soal AI, fenomena pembangunan bunker mewah ini menunjukkan adanya kecemasan mendalam di kalangan elite global. Mereka tidak hanya khawatir akan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, atau krisis iklim yang semakin parah. Tetapi juga potensi ancaman dari teknologi yang mereka ciptakan sendiri, seperti AI yang tak terkendali, atau bahkan gejolak sosial dan politik yang bisa terjadi kapan saja.

Mungkin, bagi mereka, bunker ini bukan sekadar tempat berlindung fisik dari ancaman eksternal, melainkan simbol dari upaya untuk mempertahankan eksistensi dan gaya hidup mereka di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. Entah itu kiamat sungguhan, bencana alam, atau revolusi AI, mereka ingin memastikan diri mereka dan orang-orang terdekat tetap aman dan nyaman, apapun yang terjadi di luar sana. Ini adalah gambaran nyata bagaimana para "crazy rich" menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang bisa menimpa dunia.

Kisah bunker mewah para miliarder ini membuka mata kita tentang realitas yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Di satu sisi, ada kekhawatiran serius akan masa depan yang mendorong investasi besar-besaran ini. Di sisi lain, ada perdebatan sengit tentang seberapa besar ancaman itu sebenarnya dan apakah solusi ini realistis. Lantas, apakah kamu percaya bunker-bunker ini benar-benar bisa menyelamatkan mereka dari ‘kiamat’ yang ditakutkan, ataukah ini hanya bentuk paranoid dari orang-orang yang terlalu banyak uang? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

banner 325x300