Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Komdigi Bongkar 1.674 Hoaks dalam Setahun, Isu Pemerintah Jadi Target Utama Setelah Penipuan!

geger komdigi bongkar 1 674 hoaks dalam setahun isu pemerintah jadi target utama setelah penipuan portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Ruang digital Indonesia kini tengah menghadapi ancaman serius. Kementerian Digital dan Komunikasi (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengawasan Ruang Digitalnya, baru saja merilis data yang cukup mengagetkan. Mereka menemukan ada 1.674 hoaks yang beredar luas hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Angka ini bukan main-main, lho. Ribuan hoaks tersebut ditemukan selama periode 22 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025. Ini adalah sinyal merah bagi kita semua yang aktif di dunia maya.

banner 325x300

Angka Fantastis yang Bikin Geleng-geleng Kepala

Alexander Sabar, Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi, mengungkapkan data ini dalam acara MediaConnect: Dari Clickbait Jadi Kredibel di Makassar. Menurutnya, jumlah hoaks sebanyak 1.674 dalam setahun adalah bukti nyata betapa rentannya ruang digital kita. Angka ini menunjukkan bahwa setiap hari, rata-rata ada lebih dari empat hoaks baru yang muncul.

Penyebaran hoaks ini tidak merata sepanjang tahun. Ada bulan-bulan tertentu di mana peningkatannya sangat signifikan. November 2024 menjadi bulan dengan temuan hoaks terbanyak, mencapai 166 kasus.

Tidak hanya itu, Juli 2025 juga mencatat angka tinggi dengan 160 hoaks, disusul Agustus 2025 dengan 144 hoaks. Fluktuasi ini mungkin terkait dengan peristiwa-peristiwa penting atau isu-isu hangat yang sedang terjadi di masyarakat pada waktu tersebut.

Siapa Saja yang Jadi Sasaran Empuk Hoaks? Ini Kategorinya!

Komdigi mengelompokkan ribuan hoaks ini ke dalam beberapa kategori. Hasilnya menunjukkan pola yang menarik dan sekaligus mengkhawatirkan tentang isu-isu apa saja yang paling sering dipelintir dan disebarkan secara tidak benar.

Penipuan: Raja Segala Hoaks

Kategori penipuan menduduki peringkat pertama dengan jumlah yang sangat dominan, yaitu 589 hoaks. Ini menunjukkan bahwa motif ekonomi masih menjadi pendorong utama penyebaran informasi palsu. Modus penipuan bisa beragam, mulai dari tawaran investasi bodong, undian palsu, hingga phising yang mengincar data pribadi dan finansial.

Hoaks jenis ini seringkali dirancang dengan sangat meyakinkan, memanfaatkan kelengahan atau bahkan keputusasaan korban. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya materi, tapi juga bisa menyebabkan trauma psikologis bagi para korbannya.

Isu Pemerintahan: Target Kedua yang Mengkhawatirkan

Yang menarik dan cukup mengkhawatirkan adalah kategori pemerintahan, yang menempati posisi kedua dengan 341 hoaks. Ini berarti isu-isu seputar kebijakan pemerintah, kinerja pejabat, atau program-program negara sangat rentan menjadi objek pemalsuan informasi.

Hoaks pemerintahan bisa bertujuan untuk mendiskreditkan, memprovokasi, atau bahkan menciptakan kekacauan sosial. Efeknya bisa sangat luas, mulai dari menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara hingga potensi perpecahan di masyarakat.

Politik dan Kesehatan: Dua Isu Sensitif yang Sering Dipelintir

Kategori politik menyumbang 166 hoaks, sementara kesehatan ada 87 hoaks. Isu politik, terutama menjelang atau saat periode pemilihan, selalu menjadi lahan subur bagi hoaks. Informasi palsu tentang kandidat, partai, atau proses demokrasi seringkali bertebaran.

Di sisi lain, hoaks kesehatan bisa sangat berbahaya. Informasi palsu tentang obat-obatan, metode penyembuhan alternatif, atau bahkan pandemi bisa menyesatkan masyarakat dan membahayakan nyawa. Kita pasti ingat bagaimana hoaks seputar COVID-19 sempat membuat banyak orang panik dan mengambil tindakan yang salah.

Hoaks di Sektor Lain: Dari Bencana hingga Pendidikan

Selain kategori utama, ada juga hoaks di berbagai sektor lain. Kategori lain-lain mencakup 249 hoaks, menunjukkan beragamnya isu yang bisa dipelintir. Kemudian ada kebencanaan (68 hoaks), internasional (49 hoaks), kejahatan (42 hoaks), pencemaran nama baik (41 hoaks), perdagangan (25 hoaks), keagamaan (8 hoaks), dan bahkan pendidikan (5 hoaks).

Alexander Sabar secara khusus menyoroti temuan hoaks di dunia pendidikan. "Bahkan isu hoaks itu masuk ke pendidikan juga, ada lima hoaks di dunia pendidikan kita selama setahun," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada sektor yang kebal dari serangan informasi palsu.

Kenapa Hoaks Begitu Mudah Menyebar di Ruang Digital Kita?

Penyebaran hoaks yang masif ini tidak lepas dari kondisi ruang digital di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), saat ini sekitar 80 persen orang Indonesia sudah masuk dan berinteraksi di ruang digital. Angka ini menunjukkan betapa luasnya jangkauan internet dan media sosial di negara kita.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan yang luar biasa. Namun, di sisi lain, seperti yang disampaikan Alex, ada juga risiko yang menyertainya. "Di samping begitu banyak manfaat yang bisa kita terima dari ruang digital kita dengan perkembangan teknologi, ada juga risiko yang ada di tempat tersebut," tuturnya.

Risiko-risiko tersebut meliputi pencurian data, kejahatan siber (cybercrime), disinformasi, dan tentu saja, hoaks. Kemudahan berbagi informasi di platform digital, ditambah dengan minimnya literasi digital dan kebiasaan mengecek fakta, membuat hoaks bisa menyebar dengan sangat cepat dan sulit dibendung.

Dampak Hoaks: Bukan Sekadar Berita Bohong Biasa

Hoaks bukan sekadar informasi yang salah. Dampaknya bisa sangat nyata dan merusak. Hoaks penipuan bisa menguras tabungan seumur hidup seseorang. Hoaks politik dan pemerintahan bisa memicu polarisasi, konflik, bahkan kekerasan di masyarakat.

Hoaks kesehatan bisa menyebabkan orang menunda pengobatan medis yang tepat atau mencoba pengobatan berbahaya. Hoaks kebencanaan bisa menciptakan kepanikan massal yang tidak perlu dan menghambat upaya penanganan darurat. Bahkan hoaks di bidang pendidikan bisa merusak reputasi institusi atau individu.

Semua ini menunjukkan bahwa hoaks adalah ancaman serius bagi stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan nasional. Kita tidak bisa meremehkan kekuatan informasi palsu yang beredar di genggaman tangan kita setiap hari.

Peran Komdigi dan Tanggung Jawab Kita Bersama

Komdigi, melalui Ditjen Pengawasan Ruang Digital, terus berupaya melakukan pengawasan dan penindakan terhadap penyebaran hoaks. Namun, ini bukan hanya tugas pemerintah. Sebagai pengguna ruang digital, kita semua memiliki tanggung jawab besar.

Pertama, jadilah pengguna yang cerdas dan kritis. Jangan mudah percaya pada informasi yang beredar, terutama jika terlihat terlalu sensasional atau memicu emosi. Selalu cek fakta dari sumber yang kredibel sebelum mempercayai atau bahkan membagikan informasi.

Kedua, laporkan hoaks yang kamu temukan. Komdigi dan platform media sosial menyediakan fitur untuk melaporkan konten yang tidak benar. Dengan melaporkan, kita ikut berkontribusi dalam membersihkan ruang digital dari sampah informasi.

Ketiga, tingkatkan literasi digital. Pelajari cara mengidentifikasi hoaks, memahami bias informasi, dan menggunakan internet secara bertanggung jawab. Ini adalah investasi penting untuk masa depan kita di era digital.

Masa Depan Ruang Digital Indonesia: Antara Peluang dan Ancaman

Ruang digital menawarkan begitu banyak peluang untuk kemajuan, inovasi, dan konektivitas. Namun, di balik itu, ancaman hoaks dan kejahatan siber juga terus mengintai. Data Komdigi ini menjadi pengingat keras bahwa kita harus lebih waspada dan proaktif.

Membangun ekosistem digital yang sehat dan aman adalah tugas bersama. Dengan kesadaran, literasi, dan kolaborasi antara pemerintah, penyedia platform, dan masyarakat, kita bisa menciptakan ruang digital yang lebih bermanfaat dan bebas dari hoaks. Jangan sampai kita menjadi korban atau bahkan bagian dari rantai penyebaran informasi palsu.

banner 325x300