banner 728x250

Bukan Teknologi Miliaran Dolar, Ini ‘Mesin’ Paling Canggih Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim!

bukan teknologi miliaran dolar ini mesin paling canggih penyelamat bumi dari krisis iklim portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Bumi kita sedang tidak baik-baik saja, dan kamu pasti merasakannya. Suhu udara makin panas, cuaca makin ekstrem, seolah alam sedang mengirimkan sinyal darurat yang tak bisa lagi kita abaikan. Isu perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global, melainkan realitas pahit yang kita hadapi setiap hari.

Sebuah laporan internasional tahun 2023 menunjukkan peningkatan drastis liputan tentang perubahan iklim. Dari 47 ribu artikel pada periode 2016-2017, angkanya melonjak menjadi sekitar 87 ribu artikel di 59 negara pada periode 2020-2021. Ini bukti bahwa kesadaran publik mulai terbangun, meskipun seringkali karena bencana alam dan fenomena ekstrem yang terjadi.

banner 325x300

Selama ini, perubahan iklim sering dipahami sebagai peristiwa jauh di kutub atau lapisan ozon. Padahal, dampaknya sudah sangat dekat, bahkan terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari kita. Suhu udara yang terus meningkat setiap tahun adalah bukti nyata bahwa krisis ini bukan lagi isu abstrak, melainkan persoalan yang memengaruhi kenyamanan dan kesehatan kita.

Dampak Perubahan Iklim: Lebih Dekat dari yang Kamu Bayangkan

Mencairnya es di kutub atau peningkatan efek gas rumah kaca memang jadi pemicu utama. Namun, efek domino dari semua itu kini menghantam kehidupan kita secara langsung. Pernahkah kamu merasa musim kemarau makin panjang dan panas menyengat, atau musim hujan datang dengan badai yang lebih dahsyat? Itu semua adalah bagian dari dampak perubahan iklim.

Gelombang panas ekstrem, banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, hingga krisis pangan akibat gagal panen. Semua ini bukan lagi cerita dari berita luar negeri, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi di lingkungan kita sendiri. Dampaknya tak hanya pada alam, tapi juga pada kesehatan manusia, perekonomian, dan stabilitas sosial.

Kabar baiknya, kesadaran global terhadap isu perubahan iklim mulai meningkat pesat. Ini terlihat dari adanya misi dunia yang tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 13 tentang Climate Action. Sebuah komitmen global untuk mengambil tindakan nyata.

Agenda tersebut didukung oleh berbagai kerangka kerja dan perjanjian internasional penting. Ada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Perjanjian Paris, yang menjadi panduan bagi negara-negara di dunia untuk bergerak bersama. Mereka berupaya mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim yang makin mendesak ini.

Solusi Mahal vs. Solusi Alami: Dilema Teknologi Hijau

Para ilmuwan di seluruh dunia pun tak tinggal diam. Mereka terus meneliti dan mengembangkan teknologi canggih untuk mencari solusi mencegah laju perubahan iklim. Salah satu yang paling sering dibahas adalah penerapan teknologi hijau berbiaya tinggi, seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage) atau CCS.

Teknologi CCS ini menjanjikan untuk mengurangi emisi karbon dioksida dari industri. Namun, seperti banyak inovasi besar, CCS juga menuai pro dan kontra. Pihak yang kontra menilai bahwa potensi risikonya jauh lebih besar dibanding manfaat yang ditawarkan, menimbulkan perdebatan sengit di kalangan ahli lingkungan dan teknologi.

Tantangan utama penerapan CCS meliputi keterbatasan teknologi itu sendiri, yang belum sepenuhnya matang untuk skala besar. Ada juga risiko kebocoran karbon dari sistem penyimpanan bawah tanah, potensi aktivitas seismik yang bisa dipicu, hingga dampak ekologis terhadap keanekaragaman hayati, kualitas air, dan tata guna lahan di sekitar lokasi penyimpanan.

Selain itu, teknologi semacam ini seringkali tidak menjawab permasalahan iklim secara spesifik dan komprehensif. Kapasitas penyimpanannya seringkali lebih kecil dibanding estimasi kebutuhan global, sehingga efektivitasnya dalam jangka panjang masih dipertanyakan. Ini membuat banyak pihak ragu apakah CCS benar-benar solusi yang tepat.

Lupakan Teknologi Miliaran Dolar, Kenalan dengan ‘Mesin’ Paling Canggih Ini: POHON!

Ketika dunia sibuk mencari inovasi miliaran dolar untuk solusi mitigasi perubahan iklim, kita sering lupa. Bumi sebenarnya telah menciptakan teknologi paling canggih, efisien, dan murah yang pernah ada: teknologi bernama POHON. Ya, pohon! Teknologi yang jarang kita sadari, padahal manfaatnya luar biasa sebagai Nature Based Technology untuk menopang alam dan menstabilkan iklim bumi.

Batang yang kokoh, daun yang hijau rimbun, dan akar yang menancap kuat ke bumi. Pohon sejatinya memiliki "mesin biologis" paling efisien di planet ini. Setiap helai daunnya bekerja layaknya panel surya super canggih yang menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi sumber kehidupan bagi seluruh ekosistem.

Jika manusia membutuhkan pabrik besar, energi listrik, dan proses rumit untuk memproduksi oksigen atau menyerap karbon, pohon melakukannya hanya dengan sinar matahari dan air hujan. Proses ini dikenal sebagai fotosintesis, di balik istilah sederhana tersimpan sistem kompleks yang menginspirasi banyak teknologi modern. Bayangkan bumi kita memiliki sebuah mesin yang bekerja tanpa henti, tidak menghasilkan limbah, bahkan mampu menyerapnya, sekaligus memberi energi bagi seluruh makhluk hidup.

Hebatnya lagi, mesin ini bukan hasil riset di laboratorium mutakhir atau investasi triliunan rupiah. Melainkan tumbuh alami di halaman rumah, di tepi jalan, hingga di tengah hutan belantara. Sebuah "teknologi" yang bisa ditanam dan dirawat oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Bagaimana Pohon Bekerja sebagai Penyelamat Iklim?

Pertama dan yang paling krusial, pohon menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara melalui proses fotosintesis. Gas ini merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global yang mendorong terjadinya perubahan iklim ekstrem. Menariknya, pohon tidak hanya menyerap karbon, tapi juga menyimpannya di dalam tubuhnya.

Karbon yang diserap akan tersimpan di batang, daun, akar, bahkan di tanah tempat ia tumbuh. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di MDPI Sustainability (2024) oleh Ballut-Dajud et al. membuktikan hal ini. Mereka membandingkan dua wilayah lahan basah tropis di Meksiko: satu wilayah berhutan mangrove dan wilayah lain tidak bervegetasi pohon.

Hasilnya sangat jelas: lahan berpohon mampu menyimpan karbon 2-3 kali lebih banyak dibandingkan lahan terbuka. Peneliti menjelaskan bahwa ini terjadi karena pohon yang hidup maupun yang sudah mati menghasilkan sisa organik. Seperti daun gugur dan akar mati (leaf litter, root biomass) yang terkumpul di tanah. Semua itu adalah "gudang" alami untuk menyimpan karbon yang ada di atmosfer.

Jaringan pohon yang sudah terdekomposisi di tanah juga mendatangkan mikroorganisme hidup. Mereka turut berperan dalam proses respirasi dengan menyerap CO₂. Selain itu, daun yang rimbun juga menjaga kelembapan permukaan tanah, sehingga karbon tidak mudah terlepas kembali ke udara. Akar pohon yang menjalar semakin dalam membantu menyimpan karbon lebih jauh ke bawah tanah, membuat penyimpanan karbon bisa bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Mudah, Murah, dan Inklusif: Kekuatan Sejati Pohon

Lebih dari sekadar menyerap karbon, pohon juga membangun kehidupan. Ia menciptakan habitat vital bagi burung, serangga, dan berbagai organisme lain yang menjaga keseimbangan ekosistem. Akar pohon menahan air, mencegah erosi, dan menjaga ketersediaan air tanah. Batangnya memberi naungan sejuk, dan daunnya menyejukkan udara, semua manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh makhluk hidup di sekitarnya.

Bagi manusia, pohon adalah bentuk paling nyata dari gagasan Green Democratization (Backstrand, 2003). Ini adalah upaya menjadikan mitigasi perubahan iklim sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau korporasi besar. Menanam pohon tidak memerlukan laboratorium canggih, lisensi khusus, ataupun hak paten yang rumit. Hanya butuh sedikit kepedulian dan kemauan.

Setiap individu, komunitas, hingga pemerintah, semua bisa menjadi bagian dari solusi global ini. Pohon adalah bentuk teknologi yang benar-benar inklusif. Siapa pun dapat menanam dan memanfaatkannya tanpa batas status sosial ataupun ekonomi. Jika teknologi hijau modern sering kali membutuhkan investasi besar dengan akses terbatas, maka teknologi bernama pohon justru menawarkan keunggulannya: Mudah, Murah, dan Bisa direplikasi oleh Siapa Saja.

Memaknai "teknologi" sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan serba digital membuat Kecerdasan Buatan (AI) kini dianggap sebagai simbol kemajuan manusia modern. Walaupun, di sisi lain, AI juga menimbulkan banyak tantangan baru (UNESCO, 2022). Pandangan ini membuat kita lupa bahwa alam sebenarnya telah lebih dulu menciptakan teknologi yang tak kalah hebat dan berkelanjutan.

Sudah saatnya manusia melihat dari sisi yang berbeda. Masa depan teknologi tidak selalu tentang chip dan data, tapi tentang bagaimana manusia bisa kembali selaras dengan alam. Manusia sebenarnya tidak perlu terus mencari teknologi baru yang belum terbukti sepenuhnya. Cukup merawat teknologi tertua yang sudah ada: Pohon. Karena di tengah krisis iklim yang makin parah, solusi terbaik sering kali bukan yang paling mahal, melainkan yang paling alami dan mudah dijangkau.

banner 325x300