Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bukan Programmer! Bos Nvidia Bocorkan 2 Profesi ‘Remahan’ Ini Justru Bakal Bikin Kamu Kaya Raya di Era AI, Gaji Fantastis Tanpa Gelar Sarjana!

bukan programmer bos nvidia bocorkan 2 profesi remahan ini justru bakal bikin kamu kaya raya di era ai gaji fantastis tanpa gelar sarjana portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Gelombang kecerdasan buatan (AI) memang bikin banyak orang khawatir. Banyak yang cemas, AI bakal ‘menggerus’ habis lapangan kerja, terutama buat generasi muda yang baru merintis karier. Mereka takut, semua pekerjaan akan digantikan oleh algoritma canggih dan robot.

Namun, di tengah kekhawatiran itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, justru punya pandangan yang bikin kaget. Sosok di balik perusahaan chip AI paling powerful ini melihat peluang emas di sektor yang selama ini sering diremehkan. Ia justru menyoroti dua jenis pekerjaan yang bakal jadi incaran utama di masa depan.

banner 325x300

Profesi ‘Remahan’ yang Bakal Booming dan Bikin Kamu Kaya Raya

Menurut Huang, alih-alih makin sempit, justru ada dua jenis pekerjaan yang bakal jadi incaran utama di masa depan. Yang lebih menarik, profesi ini menjanjikan gaji fantastis dan kamu bahkan tidak perlu punya gelar sarjana! Ini adalah kabar baik bagi kamu yang mungkin merasa tertekan harus kuliah tinggi-tinggi.

Dua profesi yang dimaksud adalah teknisi listrik dan tukang ledeng. Ya, kamu tidak salah dengar, pekerjaan yang sering dianggap ‘remehan’ ini justru diprediksi bakal jadi primadona. Ini adalah sebuah kejutan besar, mengingat fokus banyak orang saat ini adalah pada dunia digital dan pemrograman.

Huang, yang kekayaannya mencapai US$154,3 miliar atau lebih dari Rp2.546 triliun, tidak main-main dengan prediksinya. Ia melihat masa depan yang cerah bagi para pekerja terampil ini, jauh melampaui ekspektasi banyak orang. Ini adalah pergeseran paradigma yang patut kamu perhatikan.

Kenapa Tukang Listrik dan Tukang Ledeng? Ini Alasannya!

Lantas, kenapa bisa begitu? Huang menjelaskan, hal ini sejalan dengan percepatan luar biasa dalam pembangunan pusat data di seluruh dunia. Fasilitas-fasilitas inilah yang menjadi ‘otak’ dan tulang punggung bagi perkembangan pesat teknologi AI yang kita lihat sekarang.

Setiap kali kamu menggunakan layanan AI, streaming video, atau bahkan sekadar berselancar di internet, ada pusat data raksasa yang bekerja di belakang layar. Dan untuk membangun serta memelihara pusat data ini, dibutuhkan tenaga ahli yang sangat spesifik.

"Jika Anda seorang teknisi listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, kita akan membutuhkan ratusan ribu dari mereka untuk membangun semua pabrik ini," kata Huang dalam wawancara dengan Channel 4 News di Britania Raya, seperti dilansir Fortune. Ini bukan sekadar prediksi, melainkan kebutuhan nyata yang sedang terjadi.

Ledakan Permintaan di Sektor Keterampilan Teknis

Huang menambahkan, "Sektor keterampilan teknis akan mengalami ledakan. Jumlahnya akan terus berlipat ganda setiap tahun." Pernyataan ini menunjukkan betapa krusialnya peran para pekerja terampil ini dalam ekosistem teknologi masa depan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa di balik kemajuan AI.

Bayangkan saja, Nvidia sendiri baru-baru ini mengumumkan investasi senilai US$100 miliar untuk mendukung OpenAI dalam membangun pusat data berbasis prosesor AI mereka. Ini adalah angka yang fantastis, menunjukkan skala kebutuhan infrastruktur yang sangat besar.

Berdasarkan proyeksi McKinsey, belanja modal global untuk pusat data diperkirakan mencapai US$7 triliun pada tahun 2030. Angka ini menggambarkan betapa masifnya pembangunan yang akan terjadi, dan setiap pembangunan membutuhkan tenaga ahli di bidang konstruksi dan instalasi.

Gaji Fantastis Tanpa Gelar Sarjana, Bukan Sekadar Mimpi!

Ini dia bagian yang paling menarik perhatian kamu. Satu pusat data berukuran 250.000 kaki persegi bisa menyerap hingga 1.500 pekerja konstruksi selama masa pembangunannya. Yang bikin melongo, banyak dari mereka bisa berpenghasilan lebih dari US$100.000, atau setara dengan sekitar Rp1,6 miliar per tahun!

Dan yang paling penting, pekerjaan-pekerjaan ini bisa kamu lakukan tanpa perlu repot-repot mengejar gelar sarjana. Cukup dengan keahlian terampil yang mumpuni, pintu kesuksesan terbuka lebar. Ini adalah bukti bahwa pendidikan formal tidak selalu menjadi satu-satunya jalan menuju kekayaan.

Setelah operasional, fasilitas ini akan dikelola oleh sekitar 50 staf penuh waktu. Setiap posisi ini bahkan menciptakan hingga 3,5 pekerjaan tambahan di komunitas sekitar. Jadi, efek domino dari pembangunan pusat data ini sangat besar bagi perekonomian lokal.

Fokus pada Sisi Fisik Teknologi, Bukan Hanya Software

Seruan Huang untuk lebih banyak teknisi listrik dan tukang ledeng sejalan dengan pandangannya bahwa gelombang peluang berikutnya terletak pada sisi fisik teknologi (physical side), bukan hanya sisi perangkat lunak (software). Selama ini, banyak orang hanya fokus pada pengembangan aplikasi dan coding.

Namun, Huang mengingatkan kita bahwa di balik setiap aplikasi canggih, ada infrastruktur fisik yang harus dibangun dan dipelihara. Tanpa infrastruktur yang kuat, semua inovasi software tidak akan bisa berjalan. Ini adalah perspektif yang sering terlupakan.

Keahlian dalam membangun, memasang, dan memelihara sistem listrik, perpipaan, dan struktur fisik lainnya akan menjadi sangat berharga. Ini adalah keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh AI, setidaknya untuk saat ini.

Para CEO Lain Juga Mengkhawatirkan Hal Serupa

Pandangan Huang ini ternyata sejalan dengan kekhawatiran para pemimpin perusahaan besar lainnya. Larry Fink, CEO BlackRock, sebelumnya juga pernah mengingatkan bahwa Amerika Serikat berisiko besar kekurangan teknisi listrik. Ini bukan masalah sepele, melainkan ancaman serius bagi pembangunan infrastruktur.

Fink menyebut, ini terjadi akibat kebijakan deportasi tenaga kerja imigran dan minimnya minat generasi muda terhadap pekerjaan terampil. "Saya bahkan pernah mengatakan kepada tim Trump bahwa kita akan kehabisan teknisi listrik yang dibutuhkan untuk membangun pusat data AI," ujarnya dalam sebuah konferensi energi Maret lalu.

Tidak hanya itu, CEO Ford, Jim Farley, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Dalam wawancara dengan Axios, ia menyoroti ambisi pemerintah AS untuk merelokasi industri kembali ke dalam negeri, namun tanpa diimbangi kesiapan tenaga kerja di lapangan.

Kekurangan Pekerja Terampil: Ancaman Nyata

Farley dengan tegas menyatakan, "Bagaimana kita bisa memindahkan semua produksi kembali ke sini jika tidak ada orang yang bisa bekerja?" Ia bahkan mengungkapkan bahwa AS saat ini kekurangan 600.000 pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi, berdasarkan unggahan LinkedIn pada Juni lalu.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa krisis tenaga kerja terampil adalah masalah global yang nyata. Ini bukan hanya tentang AS, tetapi juga bisa menjadi cerminan kondisi di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Kita perlu mulai memikirkan ulang arah karier dan pendidikan.

Jadi, buat kamu para generasi muda, jangan remehkan profesi-profesi yang membutuhkan keahlian fisik. Di era AI yang serba digital ini, justru keterampilan "tradisional" seperti teknisi listrik dan tukang ledeng bisa jadi kunci menuju masa depan yang cerah dan dompet yang tebal. Mungkin ini saatnya kamu mulai mempertimbangkan jalur karier yang berbeda!

banner 325x300