banner 728x250

Bukan Mimpi! James Webb Deteksi Atmosfer Mirip Bumi di Exoplanet TRAPPIST-1e, Ada Kehidupan?

Planet mirip Bumi TRAPPIST-1e ditemukan, berpotensi layaknya hunian.
Teleskop James Webb deteksi eksoplanet TRAPPIST-1e dengan atmosfer mirip Bumi, membuka harapan baru pencarian kehidupan.
banner 120x600
banner 468x60

Para astronom kembali bikin geger jagat raya! Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) baru-baru ini menangkap sinyal menarik dari sebuah eksoplanet yang punya atmosfer mirip Bumi. Penemuan ini membuka peluang besar untuk menemukan kehidupan di luar sana.

Meski begitu, para ilmuwan masih butuh analisis dan verifikasi lebih lanjut. Tapi, bayangkan saja, potensi adanya "Bumi kedua" kini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah!

banner 325x300

TRAPPIST-1e: Calon Rumah Baru Kita?

Planet yang bikin heboh ini bernama TRAPPIST-1e. Ia adalah bagian dari sistem planet TRAPPIST-1 yang berjarak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi. Jarak ini, dalam skala kosmik, bisa dibilang "tetangga dekat."

Sistem TRAPPIST-1 sendiri ditemukan oleh lima astronom Belgia pada tahun 2016. Sejak saat itu, sistem ini langsung jadi primadona para peneliti karena keunikannya.

"Sebagai sistem planet, ini adalah yang paling asing yang pernah ada," kata Néstor Espinoza, astronom di Space Telescope Science Institute di Baltimore. Gimana enggak asing, sistem ini memang punya banyak kejutan!

Bintang induknya sangat kecil, ukurannya cuma sebesar Jupiter. Tapi, bintang kerdil merah ini punya setidaknya tujuh planet berbatu yang mengelilinginya. Tiga di antaranya bahkan berada di zona layak huni.

Zona layak huni berarti planet-planet tersebut cukup dekat dengan bintangnya. Jika mereka memiliki atmosfer, air cair bisa bertahan di permukaannya. Dan kita tahu, air adalah kunci kehidupan!

Mengapa TRAPPIST-1 Begitu Spesial?

Para peneliti, termasuk Espinoza dan rekan-rekannya, fokus pada TRAPPIST-1e. Planet ini adalah yang keempat dari bintang induknya dalam sistem tersebut, dan studi mereka diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters.

Ukuran TRAPPIST-1e mirip banget dengan Bumi kita. Ia mengorbit bintang induknya setiap enam hari, jauh lebih cepat dari Bumi mengelilingi Matahari. Ini karena bintang TRAPPIST-1 jauh lebih kecil.

Bayangkan saja, jika bintang TRAPPIST-1 secara ajaib bisa dibawa ke tata surya kita. Semua planet dan orbitnya akan muat dalam orbit Merkurius! Ini menunjukkan betapa padat dan uniknya sistem tersebut.

Keunikan ini membuat TRAPPIST-1e menjadi salah satu kandidat terbaik untuk memiliki air permukaan cair. Potensi ini yang bikin para astronom begitu antusias.

Peran James Webb dalam Memecahkan Misteri Atmosfer

Empat pengamatan yang dilakukan JWST pada tahun 2023 menjadi titik terang. Hasilnya menunjukkan bahwa kemungkinan adanya atmosfer di TRAPPIST-1e belum bisa dikesampingkan.

"Berdasarkan empat pengamatan pertama, kami tidak dapat memastikan bahwa (planet ini) tidak memiliki atmosfer," jelas Espinoza. Ini artinya, "mimpi itu masih hidup," dan TRAPPIST-1e masih bisa punya atmosfer!

Keputusan ini sangat menarik, apalagi ada program lanjutan dengan 15 pengamatan lagi. Harapan untuk menemukan atmosfer yang jelas semakin besar.

Berbeda dengan TRAPPIST-1e, JWST justru berhasil menyingkirkan kemungkinan atmosfer pada TRAPPIST-1b, planet terdekat dari bintangnya. Namun, untuk enam planet lainnya, termasuk TRAPPIST-1e, keputusannya masih belum final.

Bukan Lagi Fiksi Ilmiah: Mendeteksi Atmosfer di Dunia Jauh

Tiga tahun lalu, sebelum JWST diluncurkan, penelitian semacam ini masih dianggap fiksi ilmiah. Mendeteksi atmosfer di planet-planet yang sangat jauh adalah sesuatu yang nyaris mustahil.

"Sekarang saya cukup yakin kita akan dapat melihat jenis atmosfer apa yang dimiliki TRAPPIST-1e," kata Espinoza. Jika atmosfernya mirip dengan Bumi, kita akan bisa mengetahuinya. Ini adalah lompatan besar dalam ilmu astronomi.

Ketika mencari atmosfer, para astronom punya trik khusus. Mereka menunggu planet melintas di depan bintangnya. Lalu, mereka memperhatikan perubahan kecil pada cahaya bintang yang melewati planet tersebut.

Perubahan cahaya ini bisa jadi tanda khas adanya atmosfer. Dari situ, mereka juga bisa mempelajari komposisi kimianya. Canggih, kan?

Mengupas Tuntas Atmosfer TRAPPIST-1e: Mirip Bumi atau Venus?

Hasil pengamatan awal JWST sudah menyingkirkan kemungkinan atmosfer primer berbasis hidrogen di TRAPPIST-1e. Atmosfer jenis ini kemungkinan besar sudah terhempas oleh radiasi intens yang dipancarkan oleh bintangnya.

Espinoza menjelaskan, Bumi kita juga kehilangan atmosfer primernya yang primitif di awal pembentukannya. Namun, Bumi kemudian membentuk atmosfer sekunder yang kita hirup sekarang.

Oleh sebab itu, para astronom berharap TRAPPIST-1e juga bisa melakukan hal yang sama. Mereka berharap planet ini punya atmosfer sekunder yang lebih stabil.

Dalam studi kedua yang juga terbit di The Astrophysical Journal Letters, skenario ini dibahas lebih lanjut. Studi tersebut mencatat bahwa TRAPPIST-1e kemungkinan tidak memiliki atmosfer kaya karbon dioksida seperti Venus dan Mars.

Sebaliknya, bukti justru mengarah pada atmosfer yang kaya nitrogen. Atmosfer seperti ini lebih mirip dengan Bumi dan bulan es Saturnus, Titan. Ini kabar baik, karena nitrogen adalah komponen utama atmosfer Bumi.

"TRAPPIST-1e tetap menjadi salah satu planet zona layak huni yang paling menarik bagi kita," kata Sara Seager, profesor ilmu planet di Massachusetts Institute of Technology dan salah satu penulis studi kedua. "Hasil baru ini membawa kita selangkah lebih dekat untuk mengetahui seperti apa dunia tersebut."

Seager menambahkan, bukti yang menunjuk jauh dari atmosfer mirip Venus dan Mars ini memperketat fokus para peneliti. Mereka kini lebih yakin pada skenario yang masih mungkin terjadi, yaitu atmosfer mirip Bumi.

Apa Artinya Jika TRAPPIST-1e Punya Atmosfer Mirip Bumi?

Jika tim berhasil menemukan bukti tak terbantahkan soal atmosfer, pengamatan tambahan dengan JWST mungkin diperlukan. Tujuannya untuk mendeteksi tanda-tanda kimia spesifik gas seperti metana.

Metana, di Bumi, seringkali terkait dengan proses biologis atau kehidupan. Jadi, penemuannya bisa jadi biosignature yang sangat penting.

Menurut Espinoza, konfirmasi keberadaan atmosfer di TRAPPIST-1e akan menjadi sebuah terobosan besar. Ini akan menyelesaikan perdebatan yang sedang berlangsung tentang apakah sistem bintang katai merah dapat mempertahankan atmosfer atau tidak.

"Bintang katai merah sebenarnya merupakan mayoritas bintang di alam semesta," ujar Espinoza. "Jadi, jika hal itu bisa terjadi di sana, bisa terjadi di mana saja. Kemungkinan adanya kehidupan pun semakin bertambah."

Penemuan ini bukan hanya sekadar data ilmiah. Ini adalah jendela menuju kemungkinan tak terbatas di alam semesta. Siapa tahu, TRAPPIST-1e bisa jadi bukti nyata bahwa kita tidak sendirian di jagat raya ini.

banner 325x300