Warga Bandung Raya kini perlu lebih waspada. Selain Sesar Lembang yang selama ini menjadi perhatian utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja mengungkap adanya satu lagi sesar aktif yang berpotensi memicu gempa besar di wilayah tersebut. Sesar ini dikenal sebagai Sesar Cimandiri, sebuah sistem sesar aktif yang membentang luas dan menyimpan potensi kegempaan signifikan.
Penemuan ini tentu menjadi sorotan penting bagi upaya mitigasi bencana di Jawa Barat. Perekayasa Ahli Utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Putri Natari Ratna, menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri adalah ancaman serius yang harus diperhitungkan. Penelitian mendalam tengah dilakukan untuk memahami karakteristik lengkap dari sesar ini.
Sesar Cimandiri: Siapa Dia dan Seberapa Berbahaya?
Sesar Cimandiri bukanlah nama baru dalam dunia geologi, namun potensinya sebagai pemicu gempa besar di Bandung Raya kini semakin dipertegas. Sesar aktif ini membentang sepanjang sekitar 100 kilometer, dimulai dari Pelabuhan Ratu hingga mencapai Padalarang. Jalur panjang ini menjadikannya salah satu sesar paling signifikan di Jawa Barat.
Meski penelitian tentang Sesar Cimandiri sudah banyak dilakukan sebelumnya, hasilnya seringkali belum cukup konklusif. Oleh karena itu, BRIN mengambil inisiatif untuk melakukan studi yang lebih komprehensif. Tujuannya adalah untuk mengungkap secara tuntas karakteristik dan pergerakan sesar ini, yang sangat krusial bagi keselamatan jutaan penduduk.
Penelitian Komprehensif BRIN Ungkap Misteri Sesar Cimandiri
Untuk memahami secara mendalam Sesar Cimandiri, BRIN tidak main-main. Mereka menggunakan pendekatan multidisiplin yang melibatkan geologi, geofisika, dan geodesi. Kombinasi metode ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh dan akurat mengenai potensi ancaman yang ada.
Salah satu metode canggih yang digunakan adalah geodesi, dengan memanfaatkan teknologi GPS. Teknologi ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur secara presisi besar, laju, dan arah deformasi atau pergerakan tanah di sekitar sesar. Dengan data yang akurat, pola pergerakan sesar dapat dipetakan dengan lebih baik.
BRIN melakukan "GPS Campaign" di 24 titik strategis di sekitar Sesar Cimandiri. Pengambilan data dilakukan selama 36 jam setiap tahunnya, sebuah proses yang sangat detail dan membutuhkan ketelitian tinggi. Penelitian ini direncanakan akan berlangsung selama lima tahun, memastikan semua data terkumpul, diolah, dan dianalisis secara menyeluruh.
Selain GPS, pendekatan geofisika juga diterapkan untuk menelusuri jejak sejarah kegempaan di wilayah ini. Catatan menunjukkan bahwa area ini pernah mengalami gempa bumi dengan magnitudo di atas 5 pada tahun 1982 dan 2000. Ini menjadi bukti nyata aktivitas tektonik yang signifikan di sepanjang jalur Sesar Cimandiri.
Teknologi Canggih untuk Pemetaan Akurat
Tak hanya itu, BRIN juga memanfaatkan berbagai teknologi pemetaan canggih seperti LiDAR, drone survei, dan SLAM LiDAR. Teknologi-teknologi ini memungkinkan pemetaan geospasial yang sangat akurat, bahkan hingga detail terkecil. Pemetaan ini krusial untuk mengidentifikasi struktur sesar di bawah permukaan tanah.
SLAM LiDAR, misalnya, bekerja mirip dengan LiDAR konvensional namun menggunakan laser 3D portabel. Keunggulan ini memungkinkan peneliti untuk memetakan daerah singkapan sesar secara detail dalam bentuk model tiga dimensi. Dengan begitu, gambaran visual tentang struktur sesar menjadi lebih jelas dan mudah dipahami.
Bukan Sekadar Gempa, Potensi Tsunami Lokal Mengintai
Potensi bahaya dari Sesar Cimandiri ternyata tidak hanya terbatas pada gempa bumi. Menurut Putri Natari, sesar ini juga berpotensi memicu tsunami lokal, terutama jika jalurnya mengarah ke laut. Mekanismenya adalah melalui longsoran bawah laut yang bisa dipicu oleh aktivitas sesar.
Bayangkan, sebuah gempa kuat yang terjadi di bawah laut atau dekat pantai akibat pergerakan Sesar Cimandiri bisa menyebabkan massa tanah di dasar laut bergeser secara tiba-tiba. Pergeseran ini akan menciptakan gelombang besar yang bergerak cepat menuju daratan, mengakibatkan tsunami lokal. Ini adalah skenario yang sangat perlu diwaspadai, terutama bagi daerah pesisir di Jawa Barat.
Mengapa Penelitian Ini Sangat Penting untuk Warga Jawa Barat?
Penelitian BRIN mengenai Sesar Cimandiri ini memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam upaya mitigasi gempa di wilayah Jawa Barat. Dengan memahami potensi dan karakteristik sesar ini, kita dapat memperbarui peta sumber gempa yang ada. Peta yang akurat adalah kunci untuk perencanaan mitigasi yang efektif.
Hasil penelitian ini juga akan sangat membantu pemerintah daerah dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur yang lebih aman. Dengan mengetahui potensi gempa dan pola pergerakan sesar, pemerintah bisa menentukan area mana yang aman untuk pembangunan dan mana yang harus dihindari. Ini adalah langkah proaktif untuk melindungi masyarakat dan aset negara.
Selain itu, penelitian ini juga menjadi dasar penting untuk sosialisasi kepada masyarakat. Informasi yang akurat tentang Sesar Cimandiri akan membantu warga memahami risiko dan langkah-langkah yang perlu dilakukan saat terjadi gempa. Edukasi publik adalah salah satu pilar utama dalam mengurangi dampak bencana.
Sesar Tua yang Masih Aktif: Perspektif Ahli Geologi
Sesar Cimandiri ternyata bukan sesar yang baru terbentuk. Berdasarkan penelitian Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada tahun 2017, sesar ini merupakan sesar tua yang terbentuk selama berlangsungnya orogenesa tahap II, yaitu pada waktu Akhir Eosen Tengah. Artinya, sesar ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu.
Iyan Haryanto, salah satu penulis jurnal dari Unpad, menjelaskan bahwa sesar ini terus aktif hingga menyebabkan terbentuknya tinggian purba (paleo hight) antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri. Aktivitas berkelanjutan ini menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri adalah struktur geologi yang dinamis dan terus bergerak.
Sesar Cimandiri sendiri terdiri atas dua jenis sesar regional. Pertama, sebagai sesar naik yang dicirikan oleh deformasi lipatan batuan yang umumnya tegak. Kedua, sebagai sesar normal yang dicirikan dengan terbentuknya gawir sesar dengan kemiringan di atas 50 derajat, bahkan di beberapa lokasi mendekati vertikal. Keragaman jenis sesar ini menambah kompleksitas dalam memahami karakteristiknya.
Jejak Gempa Masa Lalu di Jalur Cimandiri
Jurnal Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditulis oleh Muhammad Adis S.W. pada tahun 2018 juga menegaskan bahwa Sesar Cimandiri adalah sesar aktif di Jawa Barat dengan orientasi timur laut-barat daya. Sesar ini telah menjadi pemicu beberapa gempa bumi signifikan di masa lalu, yang membuktikan ancamannya.
Beberapa gempa yang tercatat antara lain Gempa Pelabuhan Ratu (1900), Gempa Padalarang (1910), Gempa Conggeang (1948), Gempa Tanjungsari (1972), Gempa Cibadak (1973), Gempa Gandasoli (1982), dan Gempa Sukabumi (2001). Rentetan peristiwa ini menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri memiliki sejarah panjang dalam memicu kegempaan di wilayah tersebut.
Meskipun banyak gempa telah terjadi di sekitar Sesar Cimandiri, karakteristik pasti dari sesar ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli kebumian. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya struktur geologi di bawah permukaan bumi Jawa Barat. Oleh karena itu, penelitian BRIN yang komprehensif menjadi sangat vital.
Berbagai Segmen Sesar Cimandiri yang Perlu Diwaspadai
Muhammad Adis S.W. juga menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri dapat dibagi menjadi beberapa segmen. Segmen-segmen ini membentang dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang, menunjukkan jalur yang sangat panjang dan luas. Memahami setiap segmen sangat penting untuk pemetaan risiko yang lebih detail.
Beberapa segmen tersebut antara lain segmen Sesar Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang, Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pangleseran, Pangleseran-Cibeber, dan beberapa segmen dari Cibeber sampai Padalarang, serta segmen Padalarang-Tangkuban Perahu. Beberapa segmen ini bahkan dapat diamati sebagai lembah sungai yang berarah hampir timur-barat dan membelok ke arah timur laut.
Dengan adanya penemuan dan penelitian mendalam mengenai Sesar Cimandiri ini, masyarakat Bandung Raya dan Jawa Barat pada umumnya diharapkan dapat lebih proaktif dalam menghadapi potensi bencana gempa. Memahami ancaman adalah langkah pertama menuju kesiapsiagaan yang lebih baik.


















