Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

AI Bikin Gen Z Ketar-Ketir: ‘Kiamat Kerja’ di Depan Mata?

ai bikin gen z ketar ketir kiamat kerja di depan mata portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Generasi Z, kelompok usia muda yang baru merintis karier, kini dihadapkan pada ancaman serius. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa mereka berada di ambang ‘kiamat kerja’, bukan karena resesi ekonomi, melainkan karena ledakan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di berbagai perusahaan. Ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realita yang mulai terasa dampaknya.

Apa Itu ‘Kiamat Kerja’ Gen Z?

banner 325x300

Istilah ‘kiamat kerja’ ini muncul dari laporan British Standards Institution (BSI) yang mengejutkan. Laporan tersebut memaparkan bahwa para pimpinan perusahaan kini lebih memprioritaskan otomatisasi melalui AI untuk memenuhi kebutuhan operasional. Pilihan ini diambil alih-alih melatih atau merekrut staf junior, yang secara langsung mengancam peluang kerja bagi Gen Z.

Opsi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga memungkinkan perusahaan mengurangi jumlah karyawan secara signifikan. Ini adalah perubahan paradigma yang fundamental dalam dunia kerja, di mana mesin mulai menggantikan peran manusia di level awal karier.

Bos Perusahaan Pilih AI Ketimbang Karyawan Baru

Survei yang melibatkan lebih dari 850 pemimpin bisnis di tujuh negara (termasuk Inggris, AS, Prancis, Jerman, Australia, China, dan Jepang) menunjukkan fakta mencengangkan. Empat dari 10 bos perusahaan, atau sekitar 41 persen, terang-terangan mengatakan bahwa AI memungkinkan mereka untuk memangkas jumlah karyawan. Ini adalah angka yang tidak bisa diabaikan.

Bahkan, hampir sepertiga (31 persen) responden menyatakan bahwa organisasi mereka akan mempertimbangkan solusi AI terlebih dahulu. Barulah setelah itu, mereka akan memikirkan untuk mempekerjakan seseorang. Dua dari lima responden bahkan memperkirakan tren ini akan semakin masif dalam lima tahun ke depan.

Ancaman Nyata di Depan Mata

Laporan ini secara gamblang menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi pekerja Generasi Z. Mereka yang lahir antara tahun 1997 dan 2012 ini memasuki pasar tenaga kerja yang sedang lesu, dan kini harus bersaing dengan teknologi canggih. Posisi-posisi entry-level yang seharusnya menjadi gerbang awal karier mereka, kini terancam.

Sebanyak seperempat pemimpin perusahaan yakin bahwa semua atau sebagian besar tugas yang dilakukan oleh rekan kerja tingkat pemula dapat sepenuhnya diambil alih oleh AI. Bayangkan, pekerjaan yang selama ini menjadi jembatan untuk belajar dan berkembang, kini bisa dilakukan oleh algoritma.

Dilema Pemimpin Bisnis: Produktivitas vs. Tenaga Kerja

Susan Taylor Martin, CEO BSI, mengakui bahwa AI memang menawarkan peluang besar bagi bisnis global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa di balik pengejaran produktivitas dan efisiensi yang lebih tinggi, manusia tetaplah penggerak kemajuan sejati. Ini adalah dilema besar yang dihadapi para pemimpin.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa ketegangan antara memaksimalkan potensi AI dan memastikan tenaga kerja yang berkembang pesat merupakan tantangan utama zaman ini," ujar Martin. Ia menekankan pentingnya pemikiran jangka panjang dan investasi pada tenaga kerja, bukan hanya pada alat AI, untuk memastikan pekerjaan yang berkelanjutan dan produktif.

AI Merajalela, Pekerjaan Entry-Level Terancam

Dampak nyata dari adopsi AI ini sudah mulai terlihat. Dua per lima (39 persen) pemimpin perusahaan mengatakan bahwa posisi entry-level telah dikurangi atau bahkan dihapus. Ini adalah konsekuensi langsung dari efisiensi yang dihasilkan oleh implementasi alat AI.

AI kini mampu melakukan tugas-tugas penelitian, administrasi, dan penyusunan briefing yang sebelumnya menjadi bagian integral dari pekerjaan tingkat pemula. Ini berarti, banyak pekerjaan dasar yang seharusnya menjadi tempat Gen Z mengasah kemampuan, kini tidak lagi tersedia.

Antara Optimisme dan Kekhawatiran

Meski ancaman ‘kiamat kerja’ ini terdengar menakutkan, ada pula sisi optimisme. Lebih dari setengah (53 persen) pemimpin bisnis yakin bahwa manfaat implementasi AI di perusahaan akan jauh melebihi gangguan yang ditimbulkan pada tenaga kerja. Mereka melihat AI sebagai alat untuk inovasi dan pertumbuhan.

Namun, di sisi lain, lebih dari setengah responden juga merasa beruntung telah memulai karier mereka sebelum penggunaan AI menjadi luas. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran yang mendalam di kalangan pekerja yang lebih senior terhadap masa depan Gen Z.

Investasi AI Melonjak, Fokus pada Otomatisasi

Adopsi AI di dunia bisnis, khususnya di Inggris, berlangsung sangat cepat. Tiga perempat (76 persen) responden mengharapkan alat-alat baru ini akan memberikan manfaat nyata bagi organisasi mereka dalam 12 bulan ke depan. Ini menunjukkan betapa agresifnya perusahaan dalam mengintegrasikan AI.

Bisnis-bisnis ini berinvestasi dalam AI untuk berbagai tujuan, terutama untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, mengurangi biaya, serta mengisi kesenjangan keterampilan. Analisis BSI terhadap laporan tahunan perusahaan juga mengungkapkan fakta menarik: kata "otomatisasi" muncul hampir tujuh kali lebih sering daripada "peningkatan keterampilan" atau "pelatihan ulang". Ini mengindikasikan prioritas yang jelas.

Bagaimana Nasib Pasar Kerja Inggris?

Kekhawatiran tentang AI juga meluas di masyarakat umum. Survei terpisah yang dilakukan Kongres Serikat Pekerja di Inggris menunjukkan bahwa setengah dari masyarakat dewasa khawatir tentang dampak AI terhadap pekerjaan mereka. Mereka takut AI dapat mengambil alih atau mengubah pekerjaan mereka secara drastis.

Pasar tenaga kerja Inggris sendiri telah melambat dalam beberapa bulan terakhir, dengan pertumbuhan upah yang juga melambat. Tingkat pengangguran resmi Inggris kini mencapai 4,7 persen, level tertinggi dalam empat tahun. Meskipun sebagian besar ekonom tidak yakin masalah ini berkaitan langsung dengan percepatan investasi dalam AI, namun korelasi waktu ini tetap menimbulkan pertanyaan.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Gen Z?

Menghadapi ‘kiamat kerja’ ini, Gen Z tidak bisa berdiam diri. Penting untuk terus mengembangkan keterampilan yang tidak mudah digantikan oleh AI, seperti kreativitas, pemikiran kritis, kecerdasan emosional, dan kemampuan beradaptasi. Pendidikan berkelanjutan dan reskilling menjadi kunci untuk tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.

Masa depan memang penuh ketidakpastian, tetapi dengan persiapan yang matang dan kemauan untuk terus belajar, Gen Z masih memiliki peluang untuk menavigasi era AI ini. Ini bukan akhir, melainkan tantangan baru yang menuntut inovasi dan ketahanan.

banner 325x300