Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terungkap! Rapor 1 Tahun Prabowo-Gibran Versi LSI Denny JA: 5 Aspek Moncer, Ekonomi Malah Minus Jomplang!

terungkap rapor 1 tahun prabowo gibran versi lsi denny ja 5 aspek moncer ekonomi malah minus jomplang portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Lembaga survei terkemuka, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, baru-baru ini merilis hasil evaluasi komprehensif terhadap setahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hasilnya cukup mengejutkan, dengan lima rapor "biru" alias kinerja baik yang patut diapresiasi, namun di sisi lain, satu rapor "merah" yang menyoroti tantangan serius di sektor ekonomi nasional. Penilaian ini menjadi sorotan penting bagi publik dan pemerintah, mengingat tahun pertama adalah fondasi krusial bagi implementasi janji-janji kampanye.

Adjie Alfaraby, peneliti dari LSI Denny JA, menjelaskan bahwa rapor biru diberikan untuk sektor-sektor vital seperti sosial budaya, keamanan nasional, hukum nasional, politik nasional, dan hubungan internasional. Sementara itu, rapor merah yang menjadi perhatian utama jatuh pada sektor ekonomi nasional. "Ada 5 aspek yang kami kategorikan sebagai rapor biru dan 1 aspek yang kami kategorikan sebagai rapor merah," ujar Adjie dalam jumpa pers virtual pada Kamis, 23 Oktober 2025, menegaskan temuan survei mereka.

banner 325x300

Mengintip Rapor Biru: Sektor-Sektor Unggulan Pemerintahan Prabowo-Gibran

Pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan performa yang menjanjikan di beberapa bidang kunci, menurut survei LSI Denny JA. Sektor hubungan internasional menjadi bintang utama dengan skor tertinggi, mencapai 63,5 poin. Ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran mampu menorehkan citra positif di mata dunia. Keaktifan Presiden Prabowo dalam forum-forum global, termasuk pidatonya yang berkesan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dinilai berhasil meningkatkan posisi tawar dan reputasi Indonesia di kancah internasional.

Tidak hanya itu, sektor sosial budaya juga mendapatkan apresiasi dengan skor 61 poin. Angka ini mengindikasikan bahwa kebijakan dan program pemerintah dinilai berhasil menjaga harmoni sosial, mempromosikan nilai-nilai budaya, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di bidang sosial. Ini bisa mencakup upaya dalam pendidikan, kesehatan, atau program-program pemberdayaan komunitas yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari warga.

Selanjutnya, keamanan nasional juga menunjukkan kinerja yang baik dengan perolehan 48,5 poin. Stabilitas keamanan menjadi prasyarat penting bagi pembangunan dan investasi, sehingga skor ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan di seluruh wilayah Indonesia. Ini bisa berarti penurunan angka kriminalitas, penanganan konflik yang efektif, atau penguatan institusi pertahanan dan keamanan negara.

Dua sektor lain yang juga meraih rapor biru adalah politik nasional dengan 9,4 poin dan hukum nasional dengan 8,3 poin. Meskipun skornya tidak setinggi hubungan internasional atau sosial budaya, penilaian positif ini menunjukkan adanya progres dalam menjaga stabilitas politik, konsolidasi demokrasi, serta upaya penegakan hukum yang lebih baik. Reformasi di sektor hukum dan politik, meskipun mungkin masih menghadapi tantangan, dinilai berada di jalur yang benar.

Sorotan Merah: Tantangan Berat di Sektor Ekonomi Nasional

Di balik lima rapor biru yang membanggakan, ada satu rapor merah yang menjadi alarm serius bagi pemerintahan Prabowo-Gibran: sektor ekonomi nasional. Dengan skor minus 13,8 poin, ekonomi menjadi bidang dengan kinerja terendah, bahkan menunjukkan angka negatif. Angka ini tentu menjadi sinyal bahwa masyarakat merasakan adanya tekanan atau ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Skor minus ini bisa mencerminkan berbagai permasalahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Inflasi yang tinggi, kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan kerja, atau daya beli masyarakat yang menurun adalah beberapa indikator umum yang seringkali menjadi penyebab rendahnya kepuasan terhadap kinerja ekonomi. Meskipun pemerintah mungkin telah meluncurkan berbagai kebijakan, dampaknya belum terasa signifikan atau belum mampu mengatasi tantangan yang ada.

Adjie Alfaraby secara eksplisit menyatakan bahwa dari semua aspek yang disurvei, ekonomi nasional mendapatkan skor paling rendah, bahkan minus. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi publik terhadap perbaikan ekonomi pasca-pemilu belum terpenuhi sepenuhnya. Tantangan ini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi kabinet Prabowo-Gibran untuk segera mencari solusi konkret dan efektif agar sektor ekonomi bisa bangkit dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan rakyat.

Momen Krusial: Setahun Pertama dan Janji Kampanye yang Diuji

Adjie Alfaraby menegaskan bahwa tahun pertama pemerintahan adalah momen yang sangat krusial bagi setiap rezim baru. "Sebab pada saat itu janji kampanye diuji," katanya. Pernyataan ini sangat relevan, mengingat Prabowo-Gibran datang dengan segudang janji manis selama masa kampanye, terutama terkait perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Hasil survei ini menjadi cerminan awal seberapa jauh janji-janji tersebut telah terealisasi atau setidaknya menunjukkan progres yang diharapkan.

Masyarakat tentu menaruh harapan besar pada pemimpin yang baru terpilih. Mereka ingin melihat janji-janji yang diucapkan saat kampanye tidak hanya sekadar retorika, melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berdampak positif. Rapor merah di sektor ekonomi ini menjadi pengingat bahwa pemerintah perlu lebih fokus dan bekerja keras untuk memenuhi ekspektasi tersebut, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Metodologi Survei: Validitas Data LSI Denny JA

Untuk memastikan validitas dan akurasi temuan, LSI Denny JA melakukan survei dengan metodologi yang teruji. Survei ini menggunakan metode multi-stage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner, yang berlangsung pada periode 10-19 Oktober 2025.

Dengan margin of error sebesar ±2,9 persen, hasil survei ini dapat dianggap merepresentasikan pandangan masyarakat Indonesia secara umum. Metodologi yang transparan dan standar ilmiah yang diterapkan LSI Denny JA memberikan kredibilitas pada laporan ini, menjadikannya referensi penting bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk memahami dinamika kinerja pemerintahan.

Apa Kata Publik? Refleksi dan Harapan ke Depan

Hasil survei LSI Denny JA ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari suara dan perasaan masyarakat. Rapor biru di beberapa sektor menunjukkan adanya apresiasi terhadap upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial, keamanan, dan peran Indonesia di dunia internasional. Ini adalah modal penting yang bisa digunakan pemerintah untuk membangun kepercayaan publik lebih lanjut.

Namun, rapor merah di sektor ekonomi adalah peringatan keras. Ini adalah panggilan bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat dan segera merumuskan strategi yang lebih efektif. Tantangan ekonomi yang minus ini harus menjadi prioritas utama agar janji-janji kesejahteraan bisa benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ke depan, publik akan terus mengawasi dan mengevaluasi kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Harapan besar tertumpu pada kemampuan pemerintah untuk mengubah rapor merah ekonomi menjadi biru, sambil terus mempertahankan dan meningkatkan kinerja di sektor-sektor lain yang sudah baik. Setahun pertama adalah permulaan, dan perjalanan masih panjang, namun fondasi yang kuat harus segera dibangun untuk mencapai Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

banner 325x300