Langkah strategis Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag) mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, yang melihat kebijakan ini sebagai pengakuan penting terhadap peran historis dan masa depan santri di Indonesia. Ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah penegasan atas kontribusi besar komunitas pesantren bagi bangsa.
Menurut Hasto, pembentukan Ditjen Pesantren adalah momentum emas untuk memperkuat semangat kebangsaan di kalangan santri. Ia menekankan bahwa peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan sejak awal kemerdekaan. Semangat patriotisme yang digelorakan dari lingkungan pesantren menjadi pilar penting dalam membentuk identitas nasional.
Pengakuan Atas Peran Historis Santri
Hasto Kristiyanto menjelaskan, jika menilik sejarah, santri memiliki andil yang sangat besar dalam mengobarkan semangat perjuangan kemerdekaan. Mereka adalah garda terdepan dalam melawan penjajahan, tidak hanya dengan senjata tetapi juga dengan ilmu dan spiritualitas. Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh para ulama pesantren pada tahun 1945 adalah bukti nyata bagaimana santri dan ulama berperan krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat perlawanan dan cinta tanah air yang tertanam kuat di pesantren telah melahirkan banyak tokoh nasional. Dari lingkungan inilah muncul pemimpin-pemimpin yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki visi kebangsaan yang kuat. Oleh karena itu, pengakuan melalui pembentukan Ditjen Pesantren ini dianggap sebagai langkah yang sangat tepat dan sudah seharusnya dilakukan.
PDIP Siap Perkuat Narasi Patriotisme
Menyikapi kebijakan ini, PDIP menyatakan komitmennya untuk turut serta membantu pemerintah dalam memperkuat Ditjen Pesantren. Fokus utama PDIP adalah pada penguatan narasi patriotisme dan cinta tanah air. Hasto menegaskan bahwa dedikasi terhadap agama harus sejalan dengan kecintaan terhadap bangsa.
"PDI Perjuangan akan ikut memperkuat dari sisi narasinya, narasi patriotismenya, narasi cinta tanah air. Sebagai bagian juga dari dedikasi terhadap agama. Hubbul watan minal iman itu yang akan kita dorong," ujar Hasto. Ungkapan "Hubbul watan minal iman" yang berarti "cinta tanah air adalah sebagian dari iman" akan menjadi semangat utama yang diusung PDIP dalam mendukung program ini.
Membangun Kesadaran Kebangsaan dan Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Lebih lanjut, Hasto menekankan bahwa penguatan pesantren tidak boleh berhenti pada aspek keagamaan semata. Ia berpendapat bahwa penguatan ini harus dibarengi dengan pembangunan kesadaran kebangsaan yang kokoh serta dorongan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Pesantren harus menjadi pusat pendidikan yang holistik, mencetak generasi yang tidak hanya agamis tetapi juga cerdas dan nasionalis.
Visi ini sejalan dengan gagasan besar Bung Karno yang selalu menekankan pentingnya Islam untuk bersekutu dengan ilmu pengetahuan. Bung Karno percaya bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dicapai tanpa adanya sinergi antara nilai-nilai agama dan pengembangan sains modern. Pesantren, dengan tradisi keilmuannya yang kuat, memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara keduanya.
Pesantren sebagai Motor Kemajuan Indonesia untuk Dunia
Hasto membayangkan pesantren di masa depan tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga motor penggerak kemajuan bangsa. Ia berharap pesantren dapat menjadi lembaga yang melahirkan pemimpin-pemimpin berkaliber internasional, yang mampu membawa nama Indonesia di kancah global. Untuk mencapai tujuan ini, percepatan pembangunan di berbagai sektor pesantren menjadi sangat krusial.
"Kita harus bergerak cepat, agar pesantren-pesantren juga menjadi motor kemajuan. Bung Karno mengatakan Islam harus bersekutu juga dengan ilmu pengetahuan," tandas Hasto. Ini adalah panggilan untuk semua pihak agar melihat pesantren sebagai aset bangsa yang strategis, bukan hanya dalam konteks domestik, tetapi juga sebagai kekuatan yang dapat berkontribusi pada kepemimpinan Indonesia di mata dunia.
Dengan adanya Ditjen Pesantren, diharapkan koordinasi dan pengembangan program-program yang mendukung visi ini dapat berjalan lebih efektif. Dari kurikulum yang relevan, fasilitas pendidikan yang memadai, hingga dukungan terhadap inovasi dan penelitian, semua harus dioptimalkan. Ini adalah langkah maju yang menjanjikan bagi masa depan pendidikan Islam dan kebangsaan Indonesia.


















