Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Sudirman Said: Kemerdekaan Belum Sejati, Sumpah Pemuda Cuma Mitos? Saatnya ‘Jong Indonesia’ Bangkit Lawan Korupsi!

sudirman said kemerdekaan belum sejati sumpah pemuda cuma mitos saatnya jong indonesia bangkit lawan korupsi portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Rektor Universitas Harkat Negeri, Tegal, Sudirman Said, baru-baru ini melontarkan seruan yang menggugah nurani bangsa. Dalam peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda pada Selasa, 28 Oktober 2025, ia mengajak seluruh elemen, khususnya generasi muda, untuk kembali menghidupkan semangat "Jong Indonesia." Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan panggilan mendesak untuk menyatukan kembali bangsa yang dirasa masih terpecah belah.

Menurut Sudirman, kebangkitan semangat Jong Indonesia menjadi krusial di tengah kondisi bangsa yang persatuannya belum sepenuhnya utuh. Ia menyoroti bahwa cita-cita kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata, kini belum sepenuhnya terwujud. Sebuah ironi pahit setelah delapan dekade lebih Indonesia merdeka.

banner 325x300

Mengapa Semangat Jong Indonesia Harus Bangkit?

Sudirman Said menegaskan bahwa ide tentang persatuan akan menjadi mitos belaka jika cita-cita kemerdekaan tidak sungguh-sungguh diwujudkan. Bahkan lebih parah, jika cita-cita luhur tersebut sampai dinistakan oleh oknum-oknum yang seharusnya menjaga amanah. Ini adalah tamparan keras bagi realitas bangsa saat ini.

Ia mengingatkan kembali empat pilar makna kemerdekaan sejati yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Yaitu, terlindunginya segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, majunya kesejahteraan umum, cerdasnya kehidupan bangsa, serta keterlibatan aktif dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Sayangnya, banyak dari pilar-pilar ini yang masih jauh dari kenyataan.

Sumpah Pemuda: Lebih dari Sekadar Seremoni Tahunan

Bagi Sudirman, Sumpah Pemuda tidak boleh hanya menjadi ritual tahunan yang diperingati dengan upacara dan pidato belaka. Momen ini harus menjadi pemicu bagi kaum muda untuk mengambil teladan konkret dari para pemuda 1928, bahkan menghidupkan kembali api perjuangan mereka. Tujuannya jelas, untuk mengembalikan marwah dan cita-cita kemerdekaan yang mulai pudar.

"Teladani Pemuda 1928, para jong dari berbagai daerah: Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, dan lain-lain," serunya penuh semangat. Ia menekankan bahwa yang perlu diteladani bukan hanya pribadi mereka, tetapi nilai-nilai luhur dan elan kejuangannya yang tak kenal lelah. Nilai-nilai ini, menurutnya, bisa menjadi referensi dan inspirasi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan yang kompleks hari ini.

Belajar dari Para "Jong" 1928: Keberanian Moral di Atas Usia

Dalam pidato bertajuk "Jong Indonesia: Yang Muda, Yang Berharkat," Sudirman mengajak generasi muda untuk menyalakan kembali api kejuangan. Api yang dulu menuntun bangsa keluar dari kegelapan kolonialisme, kini harus kembali membakar semangat untuk melawan "penjajahan" modern. "Kita tidak sedang memperingati abunya sejarah, tapi sedang mewarisi apinya," tegasnya, menekankan relevansi semangat masa lalu untuk masa kini.

Ia menelusuri sejarah singkat Jong Indonesia 1927, sebuah perkumpulan pemuda yang menjadi fondasi Kongres Pemuda II. Meski nama itu hanya hidup sepuluh bulan sebelum berubah menjadi Pemuda Indonesia, dalam waktu singkat api nasionalisme menyala terang dan menginspirasi perubahan besar. Ini membuktikan bahwa dampak besar bisa diciptakan dalam waktu singkat jika ada keberanian dan tujuan yang jelas.

Sudirman kemudian menyampaikan poin krusial: semangat Jong Indonesia tidak ditentukan oleh usia biologis, melainkan oleh keberanian moral. "Muda itu bukan umur, tapi semangat dan keberanian untuk pilihan berharkat," ujarnya. Ini adalah pesan kuat bahwa setiap individu, terlepas dari berapa usianya, bisa menjadi "Jong" jika memiliki integritas dan keberanian untuk berjuang demi kebaikan bangsa.

Tugas Berat Generasi Muda: Memulihkan Harkat Bangsa

Sudirman menegaskan bahwa tugas generasi kini adalah memperbaiki bangsa yang karut-marut. Ini mencakup membersihkan praktik politik dan birokrasi yang kotor, serta memulihkan moral publik yang terluka parah. Sebuah pekerjaan rumah raksasa yang membutuhkan partisipasi aktif dari setiap elemen masyarakat, terutama kaum muda yang memiliki energi dan idealisme.

Lewat narasi sejarah, Sudirman menyinggung ironi pendidikan kolonial yang dulu dirancang untuk melanggengkan penjajahan. Namun, justru dari sistem itu lahir kaum muda tercerahkan seperti Sugondo Joyopuspito, Arnold Mononutu, M. Tabrani, dan banyak lagi. Mereka adalah orang muda yang memilih hidup berharkat dalam perjuangan, bukan hidup nyaman dalam sistem penindasan. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana tekanan bisa melahirkan pahlawan.

Ironi Kemerdekaan: Cita-cita yang Terkoyak Korupsi

Dari sana, Sudirman menyoroti realita masa kini yang memilukan. Delapan dekade kemerdekaan, katanya, belum membuahkan kemerdekaan sejati yang diidamkan para pendiri bangsa. "Cita-cita melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan rakyat masih jauh dari nyata," ujarnya, menggambarkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Ia bahkan menggunakan frasa yang sangat tajam untuk menggambarkan kondisi bangsa: "kelelahan dirudapaksa oleh korupsi, pengkhianatan konstitusi, pembajakan demokrasi, dan praktik-praktik tak tahu malu." Kata-kata ini menggambarkan betapa parahnya kerusakan moral dan sistemik yang telah menggerogoti sendi-sendi negara. Korupsi, khususnya, menjadi kanker yang menghambat segala upaya pembangunan dan kesejahteraan.

Saatnya "Pulang" ke Kompas Moral Bangsa

Oleh karena itu, Sudirman Said menyerukan agar bangsa ini harus "pulang" ke kompas moral yang sejati. Ini berarti kembali pada etika berpolitik yang luhur, menjunjung tinggi konstitusi, dan menghidupkan kembali semangat pergerakan yang dulu mempersatukan bangsa. Hanya dengan kembali ke akar nilai-nilai inilah, Indonesia bisa menemukan kembali jalannya menuju kemerdekaan sejati yang dicita-citakan.

Pesan Sudirman Said ini bukan hanya peringatan, tetapi juga sebuah ajakan untuk introspeksi dan bertindak. Generasi muda adalah harapan terakhir untuk mengembalikan harkat bangsa, membersihkan kekotoran, dan mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat seutuhnya. Semangat "Jong Indonesia" harus kembali menyala, bukan sebagai abu sejarah, melainkan sebagai api yang membakar perubahan.

banner 325x300