Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Roy Suryo Sambangi Makam Ibunda Jokowi, PSI Sentil Soal Adab dan Etika Berpolitik!

roy suryo sambangi makam ibunda jokowi psi sentil soal adab dan etika berpolitik portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kunjungan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, bersama sejumlah rekannya ke makam almarhumah Sudjiatmi Notomihardjo, ibunda Presiden Joko Widodo, baru-baru ini menjadi sorotan publik. Video kegiatan mereka yang viral di media sosial memicu perdebatan sengit mengenai etika dan batas-batas dalam berpolitik.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui Ketua DPP Bidang Komunikasi Publik, Faldo Maldini, menyambut baik niat ziarah tersebut. Ia percaya rombongan turut mendoakan almarhumah, menunjukkan penghormatan dan niat baik. Namun, Faldo segera menambahkan bahwa niat baik harus diiringi dengan tindakan yang pantas dan sesuai tradisi. Terutama bagi mereka yang selama ini turut memperkarakan ijazah Presiden Jokowi.

banner 325x300

Ziarah Kubur: Antara Niat Baik dan Adab yang Terlupakan

Faldo menekankan pentingnya menjaga adab saat berziarah. Menurutnya, akan lebih elok jika kunjungan ke makam disertai dengan membersihkan area, menabur bunga, dan berdoa bersama. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat kita untuk menunjukkan rasa hormat dan ketulusan kepada yang telah tiada.

Lebih dari sekadar ritual, setiap kunjungan ke makam semestinya menjadi momen refleksi diri. Bukan justru dimanfaatkan untuk menyampaikan hal-hal yang berbau negatif atau provokasi politik. Mengingatkan kita bahwa semua manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, seharusnya kita belajar rendah hati dan menjaga diri agar tetap beradab dalam setiap tindakan.

Video Viral dan Perilaku yang Dipertanyakan

Video yang tersebar luas di berbagai platform YouTube itu memperlihatkan rombongan Roy Suryo bersama beberapa individu lain mendatangi makam keluarga Jokowi di Solo. Dalam rekaman tersebut, terdengar sejumlah perkataan dan terlihat perilaku yang dinilai tidak pantas diucapkan atau dilakukan di tempat peristirahatan terakhir seseorang. Suasana yang seharusnya khidmat dan penuh penghormatan justru terasa tercoreng oleh gestur dan ucapan yang memicu kontroversi.

Konten video itu sontak memicu reaksi beragam dari publik. Banyak yang mengkritik tindakan tersebut, menganggapnya sebagai langkah yang tidak beretika dan melanggar tata krama, terutama karena melibatkan makam orang tua seorang Presiden. Makam seharusnya menjadi area yang dihormati, sebuah tempat suci bagi keluarga untuk mengenang, bukan arena untuk publisitas atau provokasi politik yang tidak relevan.

Kritik Tajam dari PSI Gunungkidul: Ini Soal Moralitas!

Kecaman keras juga datang dari Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Gunungkidul, Danang Ardiyanta. Ia menilai tindakan Roy Suryo dan rekan-rekannya tidak hanya tidak beretika, tetapi juga mencederai nilai kemanusiaan, adat Jawa, serta norma agama. Perilaku semacam ini, menurut Danang, jauh dari nilai-nilai luhur yang dipegang teguh masyarakat Indonesia.

Danang menyebut perbuatan itu sebagai "biadab" dan "tidak beradab", menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun, termasuk kepentingan politik. Baginya, ini adalah pelanggaran moral yang serius yang tidak dapat ditoleransi. Membawa-bawa sosok yang telah meninggal dunia ke dalam pusaran politik adalah tindakan yang sangat tidak pantas.

Apalagi, almarhumah Sudjiatmi Notomihardjo tidak pernah terlibat dalam urusan politik yang kini menjadi perdebatan publik. Ia adalah seorang ibu yang dihormati, dan makamnya seharusnya menjadi tempat peristirahatan yang damai. Tindakan ini tidak hanya menyinggung keluarga besar Presiden Jokowi, tetapi juga mencederai rasa kemanusiaan masyarakat luas yang menjunjung tinggi nilai hormat kepada orang yang telah tiada.

Kontroversi Ijazah Jokowi: Latar Belakang Kunjungan Roy Suryo

Kunjungan Roy Suryo ke makam ibunda Jokowi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks isu yang sempat ramai diperbincangkan. Roy Suryo sendiri merupakan salah satu pihak yang turut menyoroti tudingan ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Isu ini sempat menjadi perdebatan publik yang cukup panas, menciptakan iklim politik yang penuh ketegangan.

Bahkan Presiden Jokowi sendiri pernah mencurahkan isi hatinya mengenai tudingan tersebut saat reuni di Fakultas Kehutanan UGM. Ia merasa perlu menjelaskan kebenaran di tengah riuhnya spekulasi dan serangan yang menyasar integritasnya. Oleh karena itu, kehadiran rombongan yang terkait dengan isu ini di makam almarhumah ibunda Presiden memunculkan banyak pertanyaan dan interpretasi publik mengenai motif di baliknya.

Pesan Penting dari Makam: Refleksi dan Batasan Berpolitik

Insiden ziarah yang viral ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak, terutama para politisi. Bahwa ada batasan-batasan etika dan moral yang harus selalu dijaga, bahkan di tengah panasnya kontestasi politik. Kebebasan berpendapat dan mengkritik tidak boleh sampai mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya.

Makam adalah tempat peristirahatan terakhir, sebuah simbol kehormatan dan pengingat akan kefanaan hidup. Menggunakannya sebagai panggung politik atau sarana provokasi adalah tindakan yang melampaui batas kewajaran dan menunjukkan ketidakdewasaan berpolitik. Pesan dari Faldo Maldini agar setiap kunjungan ke makam menjadi momen refleksi seharusnya menjadi pegangan.

Di sana, kita diingatkan untuk selalu rendah hati, beradab, dan menghormati sesama, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Pada akhirnya, menjaga adab dan etika dalam berpolitik adalah cerminan kematangan berdemokrasi. Semoga insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih bijak dan santun dalam menyampaikan aspirasi, tanpa harus mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

banner 325x300