banner 728x250

Projo Ingin Gabung Gerindra, Kader Muda TIDAR Beri Peringatan Keras: Bukan Partai Persinggahan!

projo ingin gabung gerindra kader muda tidar beri peringatan keras bukan partai persinggahan portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Wacana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, ke Partai Gerindra baru-baru ini memicu gelombang reaksi di internal partai berlambang Garuda tersebut. Bukan sambutan hangat, justru penolakan tegas datang dari organisasi sayap kader muda, Tunas Indonesia Raya (TIDAR). Mereka menyoroti rencana ini dengan pandangan yang cukup kritis dan penuh pertimbangan.

Gerindra Bukan Tempat Persinggahan Politik

banner 325x300

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat TIDAR, Rocky Candra, dengan lugas menyatakan bahwa Budi Arie bukanlah sosok yang layak diterima di tubuh Gerindra. Rocky menegaskan, partai yang kini dipimpin Prabowo Subianto itu bukanlah sekadar partai persinggahan bagi siapa pun yang datang tanpa komitmen jangka panjang. Pernyataan ini disampaikan Rocky di Jakarta belum lama ini, mencerminkan kegelisahan di akar rumput.

"Kami menghormati siapapun yang ingin berjuang bersama, tapi Partai Gerindra bukan tempat persinggahan bagi mereka yang baru datang ketika langit politik sedang cerah," ujar Rocky. Kalimatnya ini seolah menjadi peringatan keras bagi para politisi yang dinilai hanya mencari keuntungan sesaat atau menumpang popularitas.

Rocky menjelaskan, kegelisahan yang muncul di kalangan kader muda ini bukan bentuk penolakan personal terhadap Budi Arie. Lebih dari itu, ini adalah upaya menjaga kemurnian arah perjuangan partai agar tidak bergeser dari cita-cita awal pendirian Gerindra. Mereka ingin memastikan nilai-nilai fundamental partai tetap terjaga dan tidak terkontaminasi.

"Sebagian besar dari kami generasi muda Gerindra tidak alergi terhadap keterbukaan. Gerindra selalu percaya pada semangat rekonsiliasi dan kebangsaan yang luas," jelas Rocky. Namun, ia menambahkan bahwa ada garis yang tidak boleh dilanggar demi menjaga integritas dan marwah partai yang telah dibangun dengan pengorbanan.

Idealisme vs. Oportunisme: Pilihan Sulit Gerindra

Rocky dengan tegas menyatakan bahwa Gerindra dibangun dengan idealisme, bukan oportunisme. Ia mewakili suara kader TIDAR di 38 provinsi se-Indonesia dan 9 negara, menunjukkan bahwa penolakan ini bukan suara minoritas. Ini adalah aspirasi kolektif yang kuat dari basis massa muda partai yang merasa memiliki tanggung jawab besar.

Langkah Budi Arie, yang sebelumnya dikenal sebagai pimpinan relawan pendukung presiden petahana, harus dilihat secara hati-hati. Rocky khawatir, masuknya sosok seperti Budi Arie bisa mengaburkan arah perjuangan partai yang telah dibangun dengan susah payah dan konsisten. Ada kekhawatiran akan adanya agenda tersembunyi yang tidak sejalan dengan visi Gerindra.

Aspirasi kader TIDAR saat ini sangat jelas: mereka menolak apabila Budi Arie masuk Gerindra. Rocky mengingatkan, sejarah politik Indonesia telah menunjukkan banyak partai besar melemah bukan karena serangan dari luar, melainkan karena infiltrasi dari dalam. Ini adalah pelajaran berharga yang tidak ingin diulangi oleh Gerindra.

"Banyak partai besar yang tumbang bukan karena diserang lawan, tapi karena dipecah dari dalam. Kami tidak ingin Gerindra mengulangi kesalahan itu," tegas Rocky. Pernyataan ini mengindikasikan adanya kekhawatiran serius terhadap potensi perpecahan internal jika langkah ini tidak diantisipasi dengan baik oleh pimpinan partai.

Menjaga Marwah Partai dan Kepercayaan Prabowo

Meski demikian, Rocky mengungkapkan bahwa seluruh kader TIDAR tetap percaya pada kebijaksanaan Ketua Umum Prabowo Subianto dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Mereka yakin bahwa setiap keputusan DPP akan selalu berorientasi pada kepentingan bangsa dan menjaga keutuhan partai. Kepercayaan pada sosok Prabowo tetap menjadi jangkar utama bagi mereka.

"Pak Prabowo selalu mengajarkan kami berpikir jernih, berani berkata benar, dan tidak lupa pada akar perjuangan," ungkap anggota DPR RI asal Jambi tersebut. Rocky menambahkan, mereka yakin Prabowo adalah sosok yang arif dan mampu membedakan niat tulus dengan niat mengambil kesempatan demi kepentingan pribadi.

Rocky menekankan bahwa Gerindra bukan partai yang dibangun dari kekuasaan semata, melainkan dari semangat pengorbanan dan kesetiaan kepada rakyat. Banyak kader telah berjuang sejak masa-masa sulit, ketika partai masih kecil dan sering diremehkan. Semangat inilah yang harus tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

"Kami menolak Ketua Projo itu. Kami dibesarkan dalam semangat pengorbanan," tegas Rocky. Ia menceritakan bagaimana kader-kader berjuang ketika spanduk mereka disobek dan suara mereka dihitung dengan air mata, sebuah gambaran perjuangan yang penuh liku dan membutuhkan dedikasi tinggi.

Gerindra: Rumah Perjuangan, Bukan Sekadar Tempat Menumpang

Oleh karena itu, Rocky ingin memastikan bahwa mereka yang datang ke "rumah" Gerindra juga siap berjuang, bukan sekadar menumpang nama besar Pak Prabowo. Gerindra, menurutnya, selalu terbuka bagi siapa pun yang datang dengan semangat perjuangan yang sama, namun bukan bagi mereka yang hanya mencari tempat di bawah bayang-bayang kekuasaan.

Rocky menilai, Budi Arie dan gerbong Projo tetap dapat mendukung langkah keberhasilan Presiden Prabowo tanpa perlu melakukan infiltrasi di tubuh Gerindra. Ada banyak cara untuk berkontribusi dan menunjukkan dukungan tanpa harus melebur ke dalam struktur partai yang memiliki sejarah dan nilai-nilai kuat.

"Kami membuka pintu bagi siapa pun yang datang dengan semangat yang sama, namun pintu itu bukan terbuka untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk perjuangan bersama," tutur Rocky. Ia kembali menegaskan bahwa Gerindra adalah rumah perjuangan, bukan sekadar tempat menumpang kekuasaan atau mencari posisi.

Kaderisasi Kuat, Pondasi Partai Solid

Rocky juga menambahkan pentingnya kaderisasi guna memastikan setiap kader memiliki pemahaman, tanggung jawab, dan loyalitas yang kuat terhadap organisasi. Proses ini adalah kunci untuk menjaga soliditas dan ideologi partai agar tidak mudah goyah. TIDAR sendiri sangat serius dalam hal ini, dengan program pembinaan yang terstruktur.

Ia mencontohkan, di TIDAR setiap kader wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan berjenjang, dari Diklat Tunas satu hingga Tunas empat. Ini adalah proses pematangan ideologis dan penguatan nilai perjuangan yang ketat. Mereka tidak ingin ada kader yang masuk tanpa memahami esensi perjuangan Gerindra secara mendalam.

"TIDAR menekankan pentingnya proses, kami ingin memastikan setiap kader yang tumbuh di Gerindra melalui pembinaan yang terukur, disiplin, dan memiliki komitmen ideologis yang jelas," pungkas Rocky. "Itulah cara kami menjaga marwah perjuangan." Pesan ini jelas: Gerindra akan selektif dalam menerima anggota baru, terutama yang berasal dari latar belakang berbeda, demi menjaga integritas dan arah perjuangan partai ke depan.

banner 325x300