banner 728x250

Muktamar X PPP Memanas: Mardiono Blak-blakan, ‘Musuh Terbesar Partai Bukan dari Luar, Tapi Ini!’

Gambar berisi teks "Contoh Pembukaan Pidato". Tidak relevan dengan pidato Mardiono di artikel.
Ilustrasi pembukaan pidato. Gambar ini tidak menunjukkan pidato Muhammad Mardiono di Muktamar X PPP yang disebut dalam artikel.
banner 120x600
banner 468x60

Liputan6.com, Jakarta – Plt Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Mardiono, baru-baru ini melontarkan pernyataan mengejutkan yang menggema di Muktamar X PPP. Dalam pidato pembukaan yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Sabtu (27/9/2025), Mardiono menyoroti akar masalah yang selama ini menghambat laju partai berlambang Ka’bah tersebut. Ia secara tegas menyebut bahwa kegagalan PPP bukan melulu datang dari faktor eksternal.

Menurut Mardiono, justru konflik internal yang menjadi biang kerok utama, menggerogoti soliditas dan semangat perjuangan partai. "Mari kita sadari bahwa penyebab kegagalan itu tidak datang dari luar semata. Penyebab utama adalah dari dalam tubuh kita sendiri," ujarnya dengan nada serius di hadapan para kader. Pernyataan ini sontak memicu perhatian dan disambut dukungan dari peserta Muktamar.

banner 325x300

Peringatan Keras dari Pucuk Pimpinan

Mardiono tidak segan-segan menunjuk hidung pada masalah yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Ia menyerukan kejujuran, sebuah sikap yang menurutnya krusial untuk bisa melangkah maju. "Kita harus berani berkata jujur bahwa konflik internal adalah musuh utama bagi perjuangan kita!" serunya, menggugah kesadaran para kader.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika belaka. Ini adalah refleksi dari pengalaman panjang PPP yang kerap diwarnai gejolak di dalam tubuh partai. Konflik internal seringkali menguras energi, memecah fokus, dan pada akhirnya, menjauhkan PPP dari tujuan utamanya untuk melayani umat dan bangsa.

Akar Masalah: Konflik Internal yang Menggerogoti

Konflik internal di sebuah partai politik ibarat penyakit kronis yang perlahan tapi pasti melemahkan seluruh sistem. Alih-alih berfokus pada isu-isu publik dan strategi pemenangan, energi partai justru habis untuk menyelesaikan perselisihan di antara sesama kader. Hal ini tentu saja berdampak langsung pada kinerja partai di mata masyarakat.

Ketika partai sibuk dengan urusan internal, kepercayaan publik pun terkikis. Masyarakat cenderung melihat partai yang terpecah belah sebagai entitas yang tidak stabil dan tidak mampu menawarkan solusi konkret. Akibatnya, simpati dan dukungan pemilih akan beralih ke partai lain yang dianggap lebih solid dan fokus pada kepentingan rakyat.

Seruan Persatuan Demi Kejayaan Partai

Melihat kondisi ini, Mardiono mengajak seluruh kader PPP untuk merajut kembali benang persatuan yang mungkin sempat terurai. Ia menyerukan agar semua pihak bahu membahu, menyatukan visi dan misi guna mengembalikan kejayaan PPP sebagai partai Islam panutan umat. Targetnya jelas: mengembalikan PPP ke kancah perpolitikan nasional di Senayan dengan kekuatan penuh.

"Oleh karena itu melalui Muktamar X ini, saya menyerukan dengan penuh ketulusan mari kita akhiri perpecahan, mari kita hentikan warisan konflik! Mari kita satukan untuk menyongsong masa depan gemilang tanpa konflik," ajak Mardiono penuh harap. Baginya, masa depan PPP sangat bergantung pada kemampuan kader untuk menyingkirkan ego dan bersatu demi tujuan yang lebih besar.

Ia menegaskan bahwa tanpa persatuan, mustahil PPP akan bangkit kembali dari keterpurukan. Persatuan adalah fondasi utama yang harus dibangun kembali agar partai ini bisa berdiri kokoh menghadapi tantangan politik yang semakin kompleks. Ini adalah panggilan untuk introspeksi dan komitmen bersama.

Menjaga Martabat Partai Islam di Muktamar X

Senada dengan Mardiono, Wakil Ketua Umum DPP PPP Rusli Effendi juga menyampaikan pesan penting kepada para peserta Muktamar X. Ia meminta agar semua pihak menahan diri dan berperilaku sesuai ajaran agama Islam selama pelaksanaan kegiatan yang berlangsung tiga hari, dari 27 hingga 29 September 2025, di Mercure Hotel, Ancol. Pesan ini bukan tanpa alasan, mengingat sejarah panjang konflik di tubuh partai.

Rusli mengakui bahwa perbedaan pendapat pasti akan muncul, terutama dalam pemilihan ketua umum. Namun, ia menekankan pentingnya mengedepankan kesantunan dan etika dalam berdemokrasi. "Perbedaan pendapat pasti ada dalam pemilihan ketua umum. Namun, bedanya ada yang mengedepankan kesantunan dan ada yang tidak. Jadi kami minta untuk semua muktamirin menahan diri untuk tidak mencederai proses pelaksanaan Muktamar X," kata Rusli.

Ia mengingatkan bahwa PPP adalah partai Islam, yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan kedamaian. Oleh karena itu, perkelahian atau keributan tidak sepatutnya menjadi bagian dari identitas partai. "Kalau maunya ribut terus dan hanya cari sensasi saja bagaimana mau mendapatkan simpati dari umat," sebutnya, menyentil para kader yang mungkin masih terbawa emosi.

Trauma Masa Lalu: Pelajaran dari Perpecahan Rommy-Djan Farid

Peringatan Rusli Effendi ini bukan sekadar imbauan biasa, melainkan refleksi dari trauma masa lalu yang pernah dialami PPP. Ia secara eksplisit menyinggung konflik internal yang memecah belah partai menjadi dua kubu di bawah kepemimpinan Romahurmuziy (Rommy) dan Djan Farid. Perpecahan tersebut merupakan salah satu episode terkelam dalam sejarah PPP, yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Konflik Rommy-Djan Farid bukan hanya sekadar perebutan kekuasaan, melainkan pertarungan yang menguras habis energi dan sumber daya partai. Dua kubu yang saling berseteru ini bahkan sampai membawa masalah ke ranah hukum, yang berujung pada kevakuman kepemimpinan dan ketidakpastian status partai. Akibatnya, PPP kehilangan momentum politik dan gagal meraih dukungan maksimal dari masyarakat.

Rusli kembali mengulang, bahwa dirinya enggan membawa PPP ke dalam konflik serupa. Ia percaya bahwa perpecahan semacam itu hanya akan menjauhkan partai dari masyarakat dan menjadi penyebab utama PPP berada di titik terendah saat ini. "Saya rasa konflik itu hanya membuat kita semakin jauh dengan masyarakat dan merupakan satu hal yang menyebabkan PPP ada di titik ini. Semoga tidak terulang kembali," pungkasnya, dengan harapan besar agar sejarah kelam tidak terulang.

Jalan Terjal Menuju Kebangkitan

Muktamar X ini menjadi momentum krusial bagi PPP untuk menentukan arah masa depan. Dengan Pemilu 2029 yang akan datang, partai ini harus segera berbenah dan menunjukkan soliditasnya kepada publik. Kebangkitan PPP bukan hanya tentang meraih kursi di parlemen, tetapi juga tentang mengembalikan kepercayaan umat dan menegaskan kembali peran strategisnya dalam perpolitikan nasional.

Tantangan eksternal yang dihadapi PPP juga tidak ringan. Persaingan antarpartai politik semakin ketat, dan dinamika politik terus berubah. Tanpa persatuan internal yang kokoh, PPP akan kesulitan untuk bersaing dan mengartikulasikan ide-ide serta program-programnya secara efektif. Oleh karena itu, hasil Muktamar ini akan sangat menentukan apakah PPP mampu bangkit dari keterpurukan atau justru semakin terpuruk dalam bayang-bayang konflik.

Masa Depan PPP di Tangan Kader

Pesan Mardiono dan Rusli Effendi adalah sebuah panggilan untuk kesadaran kolektif. Masa depan PPP ada di tangan setiap kader, terutama para peserta Muktamar X. Keputusan yang diambil dalam forum ini akan memiliki implikasi jangka panjang bagi eksistensi dan relevansi partai. Apakah mereka akan memilih untuk mengakhiri warisan konflik dan bersatu, ataukah akan membiarkan perpecahan terus menggerogoti?

Muktamar X bukan hanya ajang pemilihan ketua umum, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai partai dan persatuan. Dengan semangat kebersamaan dan menjunjung tinggi etika, PPP memiliki peluang besar untuk kembali menjadi kekuatan politik yang disegani dan dipercaya oleh umat. Namun, semua itu hanya bisa terwujud jika konflik internal benar-benar bisa diakhiri.

banner 325x300