Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, baru-baru ini membuat pernyataan yang menggemparkan tentang kekayaan tersembunyi Indonesia. Menurutnya, potensi laut Indonesia mencapai angka fantastis USD 1,3 triliun per tahun, atau setara dengan lebih dari Rp20.000 triliun! Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan janji kemakmuran yang luar biasa besar bagi seluruh rakyat.
Hasto menegaskan bahwa potensi raksasa ini harus dimaksimalkan secara optimal di seluruh wilayah Indonesia. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan gugusan pulau dan garis pantainya yang panjang, disebut-sebut memiliki peran krusial. Wilayah ini bisa menjadi sumber kemakmuran yang tak terbatas, terutama bagi masyarakat di kawasan pesisir dan kepulauan.
Membangun Visi Maritim dari Kantor Partai
Dalam kunjungan ke Rote, Hasto Kristiyanto tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga aksi nyata. Ia berharap kantor PDIP di Rote dapat bertransformasi menjadi pusat pendidikan politik dan pengembangan visi kemaritiman bagi masyarakat setempat. Ini bukan sekadar gedung, melainkan episentrum lahirnya generasi baru yang berorientasi pada laut.
"Agar mereka punya visi samudera, agar mereka punya kemampuan juga untuk mengelola seluruh sumber daya maritim kita," kata Hasto di sela acara peletakan batu pertama pembangunan kantor partai di Rote. Visi ini penting untuk memastikan bahwa kekayaan laut tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi menjadi milik bersama yang dikelola secara berkelanjutan.
NTT Butuh Sekolah Pelayaran Berkelas Dunia
Salah satu aspirasi yang paling banyak diterima Hasto selama perjalanannya dari Kupang ke Rote adalah kebutuhan mendesak akan sekolah pelayaran. Masyarakat NTT sangat berharap adanya fasilitas pendidikan yang lengkap untuk mendidik anak-anak mereka menjadi pelaut, nelayan modern, atau ahli maritim. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan daerah.
"Banyak aspirasi yang kami terima. Bagaimana mereka mengharapkan adanya sekolah pelayaran untuk mendidik anak-anak kita yang ada di sini," ungkap Hasto. Keberadaan sekolah pelayaran akan membuka pintu bagi ribuan pemuda NTT untuk mendapatkan pekerjaan layak dan berkontribusi langsung pada ekonomi maritim nasional. Ini juga akan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja dari luar daerah.
Lontar, Pohon Kehidupan yang Terlupakan
Selain potensi laut, Hasto juga menyoroti nasib pohon lontar yang disebutnya sebagai "pohon kehidupan" masyarakat Rote. Tanaman serbaguna ini, yang bermanfaat dari daun hingga batangnya, justru sulit dibudidayakan secara optimal. Padahal, lontar memiliki nilai ekonomi dan budaya yang sangat tinggi, mulai dari bahan pangan, minuman, hingga kerajinan tangan.
Kondisi ini mengingatkan Hasto pada nasib minyak kayu putih di Pulau Buru, Maluku. "Industri rakyat di pulau Buru itu untuk perlu bahan baku kayu putih harus mengambil dari Seram bagian barat," jelasnya. Ini menunjukkan adanya masalah serupa: sumber daya lokal melimpah, tetapi manajemen dan budidayanya belum maksimal, sehingga industri harus mencari bahan baku dari tempat lain.
Rote Ndao: Halaman Depan NKRI, Bukan Perbatasan
Mengutip pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Hasto menegaskan bahwa Rote Ndao adalah halaman depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah perubahan paradigma yang fundamental. Wilayah perbatasan tidak lagi dipandang sebagai daerah terpencil atau pinggiran, melainkan sebagai etalase dan gerbang utama negara.
"Wilayah-wilayah perbatasan kita justru harus dirubah paradigmanya menjadi halaman depan Republik Indonesia," tegasnya. Pandangan ini menuntut perhatian lebih besar dari pemerintah pusat untuk mengembangkan infrastruktur, ekonomi, dan sumber daya manusia di daerah perbatasan. Rote Ndao, sebagai pulau terluar, memiliki posisi strategis yang tak ternilai harganya.
Mewujudkan Poros Maritim Dunia dari Timur
Visi yang disampaikan Hasto Kristiyanto sejalan dengan cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Untuk mencapai tujuan ini, penguatan di sektor maritim, khususnya di wilayah timur seperti NTT, menjadi sangat vital. Potensi perikanan, pariwisata bahari, dan energi kelautan di NTT masih sangat besar dan belum tergarap maksimal.
Pengembangan potensi ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan daerah dan nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir. Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian ekonomi dan kedaulatan pangan berbasis laut.
Peran PDIP dalam Mengawal Visi Maritim
Sebagai partai politik, PDIP memiliki peran penting dalam mengawal dan mewujudkan visi maritim ini. Melalui kader-kader yang duduk di legislatif maupun eksekutif, PDIP dapat mendorong kebijakan yang pro-maritim, mengalokasikan anggaran yang memadai, serta menggerakkan partisipasi masyarakat. Kantor partai di Rote diharapkan menjadi motor penggerak di tingkat lokal.
Pendidikan politik yang berorientasi maritim akan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Ini termasuk pelatihan tentang budidaya perikanan modern, pengolahan hasil laut, pariwisata bahari, hingga konservasi ekosistem laut yang rentan.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun potensi laut Indonesia sangat besar, tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Mulai dari illegal fishing, kerusakan ekosistem laut, hingga kurangnya infrastruktur pendukung. Namun, dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan masyarakat, dan peran aktif partai politik seperti PDIP, harapan untuk menjadikan laut sebagai sumber kemakmuran abadi sangatlah realistis.
Masa depan Indonesia ada di laut. Dengan mengoptimalkan potensi Rp20.000 triliun yang tersembunyi, membangun sekolah pelayaran, menghidupkan kembali "pohon kehidupan" seperti lontar, dan menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman depan, Indonesia bisa benar-benar menjadi negara maritim yang kuat dan sejahtera. NTT, dengan segala keunikannya, siap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan mimpi besar ini.


















