Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tengah bersiap menyongsong Muktamar X pada tahun 2025. Sebuah survei terbaru dari Ethical Politics telah merilis "Peta Perbandingan Kandidat Ketua Umum PPP", yang langsung menjadi sorotan publik dan internal partai. Tiga nama besar muncul dalam bursa calon ketua umum: Plt. Ketua Umum PPP Muhamad Mardiono, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Ketua Bappilu PPP Sandiaga Salahudin Uno.
Mengintip Peta Persaingan Ketum PPP 2025
Lembaga Riset dan Penelitian Politik, Ethical Politics, pada 16 September 2024 lalu, telah mempublikasikan hasil riset mendalam mereka. Riset ini bertujuan memetakan kekuatan para kandidat potensial yang akan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di partai berlambang Ka’bah tersebut. Hasilnya memberikan gambaran menarik tentang siapa yang paling siap dan berpeluang.
Direktur Eksekutif Ethical Politics, Hasyibulloh Mulyawan, menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan empat instrumen kunci untuk mengukur para calon. Instrumen-instrumen ini dirancang untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kapabilitas, pengalaman, hingga popularitas mereka di mata publik dan internal partai.
Empat Pilar Penilaian: Apa Saja yang Diukur?
Ethical Politics tidak sembarangan dalam menilai. Mereka menggunakan empat pilar utama yang dianggap krusial untuk seorang pemimpin partai besar. Penilaian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari rekam jejak personal hingga kemampuan mengelola dinamika politik.
Kapabilitas, Elektabilitas, dan Akseptabilitas (KEA)
Instrumen pertama yang menjadi tolok ukur adalah Kapabilitas, Elektabilitas, dan Akseptabilitas (KEA) para kandidat. Ketiga tokoh ini dinilai memiliki skor yang hampir setara, menunjukkan pengenalan publik yang luas serta rekam jejak jabatan yang mentereng di kancah nasional.
Muhamad Mardiono, misalnya, pernah menjabat sebagai Watimpres dan Utusan Khusus Presiden di era Jokowi, kini bahkan kembali dipercaya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pangan di kabinet Prabowo. Sementara itu, Andi Amran Sulaiman dikenal luas sebagai Menteri Pertanian yang berpengalaman, dan Sandiaga Uno aktif sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pengalaman di pemerintahan dan jabatan publik yang bergengsi ini menjadi modal kuat bagi ketiganya. Mereka sudah teruji dalam mengelola kebijakan dan berinteraksi dengan masyarakat luas, sebuah nilai tambah yang tak bisa diremehkan.
Pengalaman di Internal Partai Politik
Namun, ketika bicara pengalaman di internal partai, peta persaingan mulai menunjukkan perbedaan signifikan. Sandiaga Uno, yang sebelumnya merupakan petinggi Partai Gerindra, baru bergabung dengan PPP pada 14 Juni 2023. Ia memang menjabat sebagai Ketua Bappilu PPP pada Pemilu Legislatif 2024, namun posisinya masih terbilang non-struktural dan relatif baru di lingkungan internal partai.
Di sisi lain, Andi Amran Sulaiman adalah seorang teknokrat independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. Keberhasilannya di pemerintahan tidak bisa dipungkiri, namun ia tidak memiliki latar belakang pengalaman dalam mengelola organisasi partai.
Dalam instrumen ini, Muhamad Mardiono jelas unggul telak. Dengan total 28 tahun mengabdikan diri pada PPP, karirnya dimulai dari bawah sebagai pengurus DPC, kemudian Bendahara DPW, Ketua DPW Banten, hingga Ketua Majelis Pertimbangan PPP. Pengalaman panjang ini memberinya pemahaman mendalam tentang seluk-beluk dan dinamika internal partai, sebuah modal tak ternilai untuk memimpin.
Manajemen Organisasi dan Penanganan Konflik
Aspek manajemen organisasi dan pengelolaan konflik juga menjadi poin krusial yang diukur oleh Ethical Politics. Andi Amran Sulaiman dikenal dengan ketegasannya dalam memberantas mafia pangan dan pupuk, seringkali melalui ‘operasi senyap’ yang efektif. Namun, pengalaman beliau dalam menangani konflik internal partai politik masih minim, sebuah tantangan jika ia memimpin partai.
Sandiaga Uno memiliki rekam jejak menghadapi situasi konflik, seperti isu SARA di Pilgub DKI Jakarta dan polarisasi saat menjadi Cawapres 2019. Gaya manajemen konfliknya cenderung akomodatif dan negosiatif, menghindari konfrontasi keras. Namun, karena baru sekitar dua tahun menjadi kader PPP, kemampuannya dalam mengelola organisasi dan konflik internal partai belum teruji secara mendalam.
Berbeda dengan keduanya, Muhamad Mardiono, dengan 28 tahun pengabdiannya, telah melewati berbagai badai konflik internal di PPP. Pendekatannya yang mengedepankan kompromi, konsensus, dan menjaga harmoni terbukti berhasil merangkul berbagai faksi dalam partai. Keberhasilannya menjaga soliditas PPP di tengah tantangan Pileg 2024 menjadi bukti nyata kemampuannya dalam manajemen konflik yang kompleks. Ini adalah aset berharga yang sulit ditandingi oleh kandidat lain.
Frekuensi Pemberitaan di Media Online
Instrumen terakhir adalah frekuensi dan sentimen pemberitaan di media online selama dua bulan terakhir. Hasilnya menunjukkan Mardiono meraih skor tertinggi dengan 90% pemberitaan positif, disusul Andi Amran Sulaiman 80%, dan Sandiaga Uno 70%. Angka-angka ini mencerminkan bagaimana publik dan media memandang para kandidat.
Pemberitaan positif Mardiono didominasi oleh dukungan internal partai untuk kembali menjabat sebagai Ketua Umum, menunjukkan soliditas basis pendukungnya. Sementara Amran Sulaiman banyak diberitakan positif terkait kinerjanya di sektor pertanian, meskipun ia belum secara tegas mengkonfirmasi kesediaannya maju sebagai kandidat. Ini bisa menjadi sinyal bahwa ia masih mempertimbangkan langkah politiknya.
Untuk Sandiaga Uno, mayoritas pemberitaan positifnya berpusat pada kegiatan ekonomi kreatif dan pariwisata yang menjadi fokus kementeriannya. Meskipun ada sejumlah dukungan internal PPP untuknya, belum ada konfirmasi resmi dari Sandiaga terkait partisipasinya dalam Muktamar X. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keseriusannya dalam kontestasi ini.
Siapa yang Paling Unggul? Sebuah Analisis Mendalam
Dari keempat instrumen yang digunakan Ethical Politics, terlihat jelas bahwa Muhamad Mardiono memiliki keunggulan signifikan, terutama dalam aspek pengalaman internal partai dan manajemen konflik. Rekam jejaknya yang panjang dan kemampuannya menjaga soliditas partai menjadi nilai plus yang tak terbantahkan, menjadikannya kandidat dengan fondasi terkuat dari dalam.
Andi Amran Sulaiman dan Sandiaga Uno, meskipun memiliki kapabilitas dan elektabilitas tinggi di mata publik serta rekam jejak pemerintahan yang cemerlang, masih menghadapi tantangan dalam hal pengalaman di ranah internal partai. Keduanya belum secara eksplisit menyatakan kesediaan untuk maju, yang bisa menjadi faktor penentu dalam dinamika Muktamar. Popularitas mereka bisa menjadi kartu truf, namun harus diimbangi dengan penerimaan internal.
Muktamar X PPP tahun 2025 diprediksi akan menjadi ajang pertarungan yang menarik. Pilihan ketua umum akan sangat menentukan arah dan masa depan partai ini, terutama setelah hasil Pemilu 2024 yang menempatkan PPP di posisi kritis. Keputusan ini akan menjadi penentu apakah PPP mampu bangkit atau justru semakin terpuruk.
Tantangan PPP Menuju Muktamar X
Pemilihan Ketua Umum bukan sekadar perebutan posisi, melainkan penentuan strategi besar PPP untuk bangkit kembali di kancah politik nasional. Sosok pemimpin yang mampu menyatukan berbagai faksi, merumuskan visi yang jelas, dan memiliki pengalaman mumpuni dalam mengelola dinamika internal akan sangat dibutuhkan. Ini adalah momen krusial bagi partai berlambang Ka’bah untuk menunjukkan relevansinya.
Apakah PPP akan memilih pemimpin yang sudah teruji di internal, ataukah akan membuka diri untuk tokoh eksternal dengan popularitas tinggi? Keputusan ini akan menjadi krusial bagi kelangsungan dan relevansi partai berlambang Ka’bah di panggung politik nasional. Muktamar 2025 akan menjadi penentu arah masa depan PPP.


















