Siapa sangka, di tengah gejolak politik global tahun 1965, Presiden Soekarno pernah melontarkan sebuah gagasan yang menggegerkan: merancang "bom atom" Indonesia. Bukan sekadar isapan jempol, rencana ambisius ini diumumkan langsung oleh Bung Karno dalam Muktamar Muhammadiyah di Bandung pada 24 Juli 1965. Tujuannya pun tak kalah mengejutkan, yaitu untuk pembebasan Palestina dari cengkeraman Israel.
Pernyataan ini, yang diungkapkan kembali oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, menunjukkan betapa kuatnya visi dan semangat perjuangan Bung Karno. "Insya Allah dalam waktu dekat kita akan berhasil membuat bom atom sendiri, ini akan dipakai untuk pembebasan Palestina dari Israel," demikian kira-kira semangat dan visi perjuangan yang diteladankan Bung Karno. Ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari komitmen ideologis yang mendalam.
Menguak Visi Radikal Bung Karno: ‘Bom Atom’ untuk Palestina
Pada era 1960-an, dunia berada di puncak Perang Dingin, dan Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno dikenal sebagai salah satu negara yang paling lantang menyuarakan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Dalam konteks inilah, gagasan tentang "bom atom" Indonesia harus dipahami. Meskipun istilah "bom atom" digunakan, semangat di baliknya lebih merujuk pada kekuatan determinasi dan kemandirian bangsa untuk membela keadilan global.
Bung Karno, dengan karismanya yang luar biasa, selalu berhasil membakar semangat rakyat untuk berdikari dan tidak tunduk pada kekuatan asing. Pernyataan tentang "bom atom" ini bisa jadi merupakan metafora kuat untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak akan gentar dalam mendukung perjuangan bangsa-bangsa tertindas, termasuk Palestina. Ini adalah manifestasi dari politik luar negeri bebas aktif yang revolusioner.
Visi ini bukan hanya tentang kekuatan militer, melainkan juga tentang kekuatan politik dan moral. Bung Karno ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia, meskipun baru merdeka, memiliki keberanian dan kapasitas untuk berdiri di garis depan perjuangan kemanusiaan. Dukungan terhadap Palestina adalah bagian integral dari identitas bangsa yang anti-penjajahan.
Jejak Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina
Solidaritas Indonesia terhadap Palestina bukanlah hal baru atau sekadar tren politik sesaat. Hubungan ini memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Palestina, melalui Grand Mufti Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, adalah salah satu entitas pertama yang secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1944, jauh sebelum negara-negara lain.
Dukungan awal ini menjadi fondasi bagi "kontrak politik historis" yang tak terpisahkan antara kedua bangsa. Indonesia merasa memiliki utang budi dan ikatan batin yang kuat dengan Palestina. Oleh karena itu, membantu Palestina dalam perjuangan mereka melawan pendudukan Israel bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban moral dan historis.
Komitmen ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian tak terpisahkan dari politik luar negeri Indonesia. Dari masa Bung Karno hingga presiden-presiden berikutnya, sikap Indonesia terhadap Palestina selalu konsisten: mendukung kemerdekaan dan hak-hak rakyat Palestina. Ini adalah bukti bahwa solidaritas bukan hanya retorika, melainkan sebuah prinsip yang dipegang teguh.
Estafet Perjuangan: Dari Bung Karno ke Megawati
Api semangat perjuangan dan keberanian Bung Karno ini tidak padam, melainkan terus menyala dan dilanjutkan oleh putrinya, Megawati Soekarnoputri. Sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati telah menunjukkan sikap yang teguh dan konsisten dalam melanjutkan warisan ideologis ayahnya, terutama terkait isu Palestina.
Salah satu contoh paling nyata adalah penolakan tegas Megawati terhadap keikutsertaan tim Israel dalam ajang sepak bola internasional yang diselenggarakan di Indonesia. Sikap ini, yang sempat menimbulkan pro dan kontra, bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Ini adalah manifestasi dari komitmen yang sudah terpatri sejak zaman Bung Karno untuk mendukung pemerintahan Palestina.
Megawati memahami bahwa logika di balik penolakan ini sangat sederhana namun fundamental: "Kita sudah dibantu mereka dulu dalam mempertahankan kedaulatan, masa kita tidak membantu sana? Itu kontrak politik historis kita," ucap Hasto. Bagi Megawati, ini bukan sekadar urusan olahraga, melainkan penegasan kembali posisi ideologis Indonesia yang tak tergoyahkan.
PDI Perjuangan dan Sikap Ideologis Kemanusiaan
PDI Perjuangan, sebagai partai yang mengusung ideologi Bung Karno, memandang sikap ideologis terhadap Palestina ini sebagai bentuk keberpihakan pada kemanusiaan yang universal. Mereka meyakini bahwa membela Palestina adalah bagian dari membela keadilan dan hak asasi manusia secara global.
"Ini adalah sikap yang didasarkan pada fondasi kita yang paling fundamental. Siapapun, bukan hanya terhadap Palestina, siapapun yang mengorbankan kemanusiaan dan keadilan, wajib kita bela," tegas Hasto. Pernyataan ini menunjukkan bahwa komitmen PDI Perjuangan melampaui batas geografis atau politik semata. Ini adalah tentang prinsip moral yang mendasari eksistensi partai.
Sikap ini mencerminkan filosofi Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bagi PDI Perjuangan, membela mereka yang tertindas adalah panggilan moral yang tak bisa ditawar. Ini adalah identitas yang telah melekat pada partai dan menjadi pedoman dalam setiap kebijakan dan sikap politiknya.
Relevansi Semangat Bung Karno di Era Modern
Di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah, semangat dan visi Bung Karno tentang solidaritas internasional dan keberpihakan pada kemanusiaan tetap relevan. Konflik di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina, masih menjadi isu krusial yang menuntut perhatian dan tindakan nyata dari komunitas internasional.
Warisan Bung Karno mengajarkan kita bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian dunia. Gagasan tentang "bom atom" untuk Palestina, meskipun mungkin terdengar radikal, adalah simbol dari keberanian untuk berdiri tegak membela prinsip, bahkan di hadapan kekuatan besar.
Semangat ini terus menginspirasi generasi muda Indonesia untuk tidak acuh terhadap penderitaan sesama. Ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini juga merupakan hasil dari dukungan dan solidaritas bangsa lain, dan kini giliran kita untuk membalasnya.
Meneruskan Api Perjuangan untuk Keadilan Global
Dari gagasan "bom atom" Bung Karno hingga sikap tegas Megawati, benang merah perjuangan untuk Palestina tak pernah putus. Ini adalah kisah tentang sebuah bangsa yang memegang teguh komitmen historis dan ideologisnya, menjadikan keberpihakan pada kemanusiaan sebagai pilar utama politik luar negerinya.
Indonesia, melalui PDI Perjuangan dan semangat yang diwariskan Bung Karno, terus menunjukkan kepada dunia bahwa solidaritas bukanlah sekadar kata, melainkan tindakan nyata. Api semangat untuk membela keadilan dan kemanusiaan akan terus menyala, menerangi jalan bagi perdamaian dan kemerdekaan sejati bagi seluruh bangsa di dunia, termasuk Palestina.


















