Beranda Opini Pesantren dan Santri Milenial

Pesantren dan Santri Milenial

0

Oleh : Rahmadi M. Ali

Kejadian orang tua polisikan guru kembali terjadi. Beberapa waktu lalu, orang tua santri polisikan guru di Pesantren Misbahul Ulum, Lhokseumawe yang menurutnya telah melakukan kekerasan terhadap anaknya hingga menyebabkan lebam dan memar (Serambi Indonesia, 1/11/2018). Namun pihak pesantren membantah kasus tersebut sebagai penganiayaan, tapi hanya hukuman biasa karena memang santri yang bersangkutan tergolong bandel dan suka mengganggu temannya. Belum menemukan titik temu, kasus ini pun harus berakhir di kepolisian.

loading...

Dalam dunia pendidikan, ini bukanlah pertama kali terjadi. Jauh sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di lembaga pendidikan lainnya hingga berakhir di kepolisian. Dalam hal ini, penulis tidak ingin membahas siapa yang salah dan benar dalam beberapa kasus pemukulan hingga terjadi pelaporan kepada pihak berwajib. Namun kenyataannya, tiada asap tanpa api. Pasti ada hal yang melatarbelakangi mengapa kasus tersebut terjadi. Dalam kasus ini, saya melihat adanya miskomunikasi antara pelaksana pendidikan dengan peserta didik serta wali murid.

Padahal keterlibatan semua pihak dalam dunia pendidikan akan menghasilkan output yang baik sesuai dengan yang diharapkan oleh tujuan pendidikan itu sendiri. Namun kenyataannya, tugas memperbaiki akhlak anak bangsa hanya menitikberatkan pada pendidik saja. Sebagian besar orang tua tidak peduli dengan anak-anak yang sudah dibekali ilmu pengetahuan, khususnya bagi mereka yang mengenyam pendidikan pesantren atau boarding school. Padahal mendidik bukan hanya tugas guru saja, tapi juga para orang tua.

Belajar dari pengalaman pribadi yang pernah belajar di pondok pesantren, teknik dan suasana belajar dengan sistem mondok tentulah sangat berbeda dengan belajar di sekolah non-asrama seperti SMA, SMP atau sekolah non asrama lainnya. Selain berbeda mata pelajarannya, juga berbeda waktu dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya, serta perbedaan dalam pola pembentukan sikap dan karakter melalui ibadah dan pembinaan-pembinaan lainnya.

Pesantren tidak hanya fokus belajar menyelesaikan ketuntasan bidang mata pelajaran saja saat pagi dan siangnya, namun juga dibekali dengan kemampuan-kemampuan lainnya dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya, bahasa asing seperti Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Waktu ibadah juga menjadi hal yang paling diutamakan di pesantren. Selain merupakan kewajiban pada Allah, ini juga sebagai latihan membina karakter muslim yang baik. Dan salah satu slogan penting yang sering didengungkan di pesantren bahwa al-adabu fauqal ilmi, artinya adab itu lebih utama daripada ilmu. Jelas bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah menjunjung tinggi adab.

Komersialisasi dunia pendidikan

Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat menjanjikan lahan bisnis. Begitu kalimat yang sering terucap oleh sebagian sahabat yang sering berdiskusi tentang perkembangan pendidikan di Indonesia. Sekilas saya tidak sepakat dengan kalimat itu, namun jika kita kembali mengecek kejadian di lapangan kadang hampir mendekati pada kebenaran kalimat tersebut. Pada prinsipnya menyelenggarakan sebuah lembaga pendidikan membutuhkan biaya dan dana yang cukup untuk mencapai tujuan dari pendidikan. Kalau melihat bagaimana ulama-ulama dahulu membangun pesantren karena swadaya masyarakat dan bantuan tanpa pamrih dari penduduk setempat, jadi kalau melihat kegigihan masyarakat dahulu kala menyelenggarakan pendidikan benar-benar karena niat yang tulus dan ikhlas.

Seiring perkembangan zaman, pengelolaan dunia pendidikan juga semakin berkembang, mulai dari administrasi, kurikulum sampai pada biaya pengembangan sumber daya manusia yang dibebankan juga semakin berkembang. Hal ini kadang membuat kesalahpahama antara orang tua dengan pengelola pendidikan. Biaya pendidikan yang tinggi akan membuat orang tua merasa bahwa mereka sudah membayar guru-guru yang mengajar dan mendidik di lembaga pendidikan. Hal tersebut membuat peserta didik tidak lagi segan dengan guru karena menganggap bahwa pendidik mereka adalah hasil bayaran dari orang tua mereka.

Ini yang sering terjadi dalam dunia pendidikan di daerah Aceh, di mana rasa menghargai dan menghormati guru sudah mengukur sejauh mana bayaran biaya pendidikan yang dikeluarkan. Padahal secara logika ukuran menghargai guru bukan pada sejumlah mana bayaran dalam pendidikan. Sebaliknya, lembaga pendidikan harus kembali pada niat awal membangun dunia pendidikan, yaitu memperbaiki akhlak generasi bangsa menjadi anak-anak yang mengutamakan adab daripada ilmu pengetahuan.

Santri milenial

Harus kita akui bahwa memang ada perbedaan pola dalam dunia pendidikan khususnya dalam mengajar dan mendidik peserta didik. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan semakin canggihnya dunia teknologi yang juga sangat berpengaruh dalam kehidupan. Generasi yang sedang menempuh pendidikan saat ini sering disebutkan dengan generasi milenial, yaitu generasi yang tumbuh di era 2000-an sampai sekarang. Mereka hidup beda dengan generasi sebelumnya yang serba tradisional dan lebih tertinggal secara teknologi dibandingkan zaman teknologi modern ini.

Santri yang sedang menempuh pendidikan diberbagai pesantren juga merupakan bagian dari generasi milenial. Perlakuan terhadap generasi ini harus spesial tidak sama dengan perlakuan santri yang hidup di bawah zaman milenial itu. Penulis ingat, 12 tahun silam menempuh pendidikan di pondok, rasa takzim atau penghormatan kepada guru pesantren itu lebih terasa dibandingkan dengan santri milenial. Buktinya, saat itu kedisiplinan ditingkatkan dengan pemberian hukuman kepada pelanggar disiplin itu lebih berat.

Misalnya saja, senior organisasi dan kelas akhir diberikan kepercayaan menjadi organisasi santri dan menjadi pengurus asrama, di mana mereka bertanggung jawab langsung kepada santri-santri kelas bawahnya. Terkadang pelaksanaan hukuman itu juga bersentuhan dengan fisik, walaupun masih dalam batasan wajar. Akan tetapi penulis masih percaya bahwa ini masih dalam batasan wajar dan masih bersifat mendidik. Begitu pula halnya dengan pendidik majelis guru, jika santri melanggar juga akan diberikan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun, hasil dari pendidikan ini berdampak langsung dalam kehidupan pascastudi.

Alumni yang tidak merasakan era milenial, mampu hidup di bawah tekanan pasca selesai dari pesantren. Sebagian besar mereka tidak hanya ditanamkan mindset menjadi pekerja, namun juga diajarkan bagaimana menjadi pemimpin dalam kehidupan. Hal ini juga sesuai dengan slogan pesantren “siap dipimpin dan siap memimpin”. Slogan ini mampu diaplikasi oleh sebagian alumni menjadi pemimpin disetiap lembaga mereka mengabdikan diri.

Berkat hasil tempaan hidup yang berat selama di pesantren, sebagian mereka tidak hanya puas dengan ilmu yang diberikan pesantren saja, tapi juga melanjutkan pendidikan hingga ke magister dan doktoral. Hasil cubitan pendidik di pesantren zaman itu, hingga mengantarkan mereka menjadi orang penting di negara ini. Bahkan sebagian besar mereka sedang menempuh pendidikan di belahan Benua Eropa dan asia. Jika demikian, masihkan kita menyalahkan kurikulum pesantren yang keliru?

Maka dalam hal ini, orang tua juga menjadi pilar penting dalam kesuksesan seorang santri di dunia pesantren. Mengindikasi bahwa anaknya menjadi korban penganiayaan, boleh jadi adalah bentuk kasih sayang dan perhatiannya terhadap anak.

Namun dalam hal ini, orang tua juga harus paham bahwa lembaga pendidikan seperti pesantren juga memiliki prosedur dan kebijakan dalam memutuskan dan menerapkan peraturan. Maka dari itu, sebelum mempolisikan pendidik atas laporan anak, penting melakukan musyawarah terlebih dulu dengan pengelola lembaga pendidikan. Karena tidak memberi hukuman karena alasan perlindungan HAM yang kerap didengung-dengungkan, terkadang tidak selamanya mampu menyelesaikan masalah.

Rahmadi M. Ali, ST. Alumni Pesantren Modern Misbahul Ulum Paloh dan peserta Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe.