Cyber University, yang dikenal sebagai The First Fintech University di Indonesia, kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan pendidikan tinggi. Mereka baru-baru ini berpartisipasi aktif dalam Bimbingan Teknis Penguatan Nilai Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Tingkat Nasional. Kegiatan krusial ini menjadi bukti nyata upaya Cyber University untuk memastikan implementasi RPL berjalan sesuai pedoman yang berlaku, demi masa depan pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas.
Bimbingan teknis tersebut berlangsung selama dua hari penuh, dari tanggal 2 hingga 3 Oktober 2025, di Poltek Sahid, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Acara ini menjadi wadah penting bagi perguruan tinggi untuk menyelaraskan pemahaman dan praktik terkait program RPL. Tujuannya jelas, yakni membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk meraih pendidikan tinggi.
Mengenal Lebih Dekat Program RPL: Jembatan Menuju Pendidikan Tinggi
Mungkin banyak yang belum familiar, apa sebenarnya Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) itu? RPL adalah sebuah mekanisme strategis yang dirancang untuk mengakui capaian pembelajaran seseorang dari berbagai sumber. Ini bisa berasal dari pendidikan formal sebelumnya, pendidikan nonformal, informal, bahkan dari pengalaman kerja yang relevan.
Tujuan utama RPL sangat mulia: memberikan kesempatan bagi semua orang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ini adalah wujud nyata dari konsep pembelajaran sepanjang hayat, di mana setiap pengalaman berharga dapat diakui dan dikonversi menjadi kredit akademik. Dengan demikian, RPL memperluas akses dan fleksibilitas dalam menempuh pendidikan tinggi, sekaligus mengimplementasikan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Bayangkan saja, seorang profesional dengan pengalaman bertahun-tahun di bidang IT, namun belum memiliki gelar sarjana. Melalui RPL, pengalaman dan keahlian yang ia miliki dapat diakui, sehingga ia tidak perlu memulai perkuliahan dari nol. Ini tentu sangat efisien dan memberdayakan.
Peran Penting Cyber University dalam Penguatan RPL
Kehadiran Cyber University dalam bimbingan teknis ini bukanlah tanpa alasan. Mereka ingin memastikan bahwa sebagai institusi pendidikan, mereka siap dan mampu menjalankan program RPL dengan standar terbaik. Wakil Rektor I Bidang Akademik Cyber University, Agus Trihandoyo, serta Ketua Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi (TI), Dicky Hariyanto, turut hadir sebagai perwakilan.
Bimbingan teknis ini dibuka secara resmi oleh Ketua LLdikti 3 Jakarta, Henri Tambunan, yang menekankan pentingnya program RPL bagi ekosistem pendidikan. Materi mendalam disampaikan oleh Tim Pakar RPL Dit. Belmawa, termasuk Sandra Aulia Zanny dan Anggoro Suryo Pramudyo. Mereka membagikan wawasan dan pedoman terbaru mengenai implementasi RPL yang efektif dan berintegritas.
Partisipasi aktif Cyber University ini menunjukkan komitmen mereka untuk tidak hanya menjadi pelopor di bidang Fintech, tetapi juga menjadi institusi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Mereka percaya bahwa pendidikan harus dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja yang relevan.
Prinsip Kunci dalam Implementasi RPL yang Berintegritas
Penyelenggaraan RPL tidak bisa sembarangan. Ada empat prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh setiap perguruan tinggi yang menjalankannya. Prinsip-prinsip ini adalah Aksesibilitas, Kesetaraan, Penjaminan Mutu, dan Transparansi. Keempatnya menjadi fondasi untuk memastikan RPL berjalan adil dan berkualitas.
- Aksesibilitas: Program RPL harus mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat, tanpa terkendala birokrasi yang rumit.
- Kesetaraan: Penilaian dan pengakuan harus dilakukan secara adil, tanpa membedakan latar belakang atau jalur pembelajaran sebelumnya.
- Penjaminan Mutu: Kualitas pendidikan yang diperoleh melalui RPL harus setara dengan jalur reguler. Proses penilaian harus ketat dan terukur.
- Transparansi: Seluruh proses, mulai dari penyusunan dokumen kurikulum, pengajuan, hingga penetapan hasil penilaian, harus jelas dan terbuka.
Seluruh proses ini, mulai dari penyusunan dokumen kurikulum hingga penetapan hasil penilaian, harus dilaksanakan secara cermat. Penilaian kompetensi yang ketat menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap individu yang diakui melalui RPL memang memiliki kualifikasi yang setara. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya serius untuk menjaga standar akademik.
Secara spesifik, dalam mekanisme Penilaian RPL Tipe A (Perolehan Kredit), ada standar minimal yang harus dipenuhi. Penetapan pengakuan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) minimal harus memiliki pemenuhan Capaian Pembelajaran sebesar 75 persen. Angka ini menunjukkan bahwa RPL bukan jalan pintas, melainkan proses yang tetap menuntut kompetensi tinggi.
RPL: Bukan Jalan Pintas, Tapi Alternatif Berbobot untuk Melanjutkan Studi
Dicky Hariyanto, Ketua Program Studi TI Cyber University, dengan tegas menekankan pentingnya komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan program RPL sesuai pedoman. Ia mengingatkan bahwa RPL adalah proses krusial untuk mewujudkan Pembelajaran Sepanjang Hayat dan memperluas akses serta fleksibilitas bagi masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi.
"Penyelenggaraan RPL menuntut komitmen Perguruan Tinggi untuk memastikan terpenuhinya prinsip Aksesibilitas, Kesetaraan, Penjaminan Mutu, dan Transparansi," ujarnya. Pesan kuncinya sangat jelas dan perlu digarisbawahi: "Oleh karena itu, ditekankan bahwa RPL adalah cara Alternatif untuk Melanjutkan Studi, Bukan cara Mudah Memperoleh Ijazah."
Pernyataan ini sangat penting untuk menghilangkan miskonsepsi yang mungkin muncul di masyarakat. RPL bukanlah "jalur belakang" atau cara instan untuk mendapatkan gelar. Sebaliknya, ini adalah jalur yang sah dan terstruktur, yang menghargai pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang. Namun, tetap dengan standar kualitas yang tinggi.
Membangun SDM Unggul untuk Indonesia Melalui RPL
Pada akhirnya, implementasi RPL yang sesuai dengan pedoman diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di Indonesia. Dengan memberikan kesempatan kepada individu-individu berpengalaman untuk meraih gelar pendidikan tinggi, kita akan memiliki lebih banyak tenaga profesional yang terdidik dan terampil.
Cyber University, melalui partisipasi aktifnya dalam penguatan program RPL ini, menunjukkan visi jangka panjangnya. Mereka tidak hanya fokus pada inovasi teknologi finansial, tetapi juga pada inovasi pendidikan yang dapat menciptakan dampak positif bagi bangsa. Dengan RPL, pendidikan tinggi menjadi lebih inklusif, relevan, dan adaptif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat dan industri. Ini adalah langkah maju menuju Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya saing global.


















