Sebuah momen bersejarah yang membanggakan bangsa Indonesia baru saja terukir di kancah internasional. Untuk pertama kalinya, Bahasa Indonesia secara resmi digunakan sebagai bahasa kerja dalam Sidang Umum UNESCO. Peristiwa monumental ini terjadi di Kota Samarkand, Uzbekistan, pada Selasa, 4 November 2025, menandai babak baru bagi eksistensi Bahasa Indonesia di panggung dunia.
Momen Bersejarah di Sidang Umum UNESCO ke-43
Aula Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand menjadi saksi bisu pengukuhan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa kerja resmi. Ini adalah sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan pengakuan global terhadap kekayaan linguistik dan budaya Indonesia. Kehadiran Bahasa Indonesia di forum sekelas UNESCO tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia.
Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja berarti bahasa ini kini dapat digunakan dalam berbagai diskusi, presentasi, dan dokumen resmi di Sidang Umum UNESCO. Hal ini membuka pintu lebar bagi partisipasi Indonesia yang lebih aktif dan representasi budaya yang lebih kuat di tingkat global. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kekuatan dan pengaruh budaya Indonesia yang terus berkembang.
Pidato Inspiratif Mendikdasmen Abdul Mu’ti
Momen bersejarah ini terjadi saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia. Pidato yang disampaikannya tidak hanya informatif, tetapi juga sarat makna dan sentuhan budaya yang mendalam. Kehadiran Mendikdasmen Mu’ti menjadi representasi kuat dari komitmen Indonesia dalam mempromosikan bahasanya di kancah global.
Menteri Mu’ti dengan bangga menggunakan Bahasa Indonesia untuk menyampaikan pandangan dan aspirasi Indonesia di hadapan delegasi dari berbagai negara. Ini adalah langkah strategis yang menunjukkan keseriusan Indonesia dalam memanfaatkan status baru Bahasa Indonesia. Pidatonya menjadi penanda bahwa Bahasa Indonesia kini sejajar dengan bahasa-bahasa besar dunia lainnya.
Pantun Pembuka yang Memukau Hati
Mengawali pernyataannya, Mendikdasmen Mu’ti memilih cara yang sangat khas Indonesia dan berhasil memukau para hadirin. Ia memulai dengan sebuah pantun, warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO pada 17 Desember 2020 lalu. "Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan. Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan," ujarnya dengan lantang.
Pantun pembuka ini bukan hanya sekadar basa-basi, melainkan sebuah jembatan budaya yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Ini menunjukkan kekayaan sastra lisan Indonesia yang mampu menarik perhatian dan menciptakan suasana yang lebih hangat di forum internasional yang formal. Respon positif dari para delegasi menjadi bukti bahwa budaya Indonesia memiliki daya tarik universal.
Apresiasi untuk Dukungan Dunia
Dalam pidatonya, Menteri Mu’ti juga tidak lupa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia berterima kasih atas dukungan dari UNESCO dan semua negara anggota yang telah mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja ke-10. Pengakuan ini sebenarnya telah diberikan pada Sidang Umum UNESCO tanggal 20 November 2023, dan kini resmi diimplementasikan.
Dukungan ini merupakan hasil dari upaya diplomasi budaya yang gigih dan berkelanjutan dari pemerintah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kerja keras dalam mempromosikan Bahasa Indonesia telah membuahkan hasil yang manis. Pengakuan ini adalah bukti nyata bahwa Bahasa Indonesia memiliki nilai dan potensi yang diakui secara global.
Pengakuan Global untuk Bahasa Pemersatu Bangsa
Menteri Mu’ti dengan tegas menyatakan bahwa Bahasa Indonesia telah lama berfungsi sebagai jembatan kesatuan di seluruh kepulauan Indonesia. Negara kita yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, 700 bahasa lokal, dan 1.300 etnik, berhasil dipersatukan oleh satu bahasa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri sebagai alat komunikasi yang efektif dan inklusif.
Kini, fungsi pemersatu itu meluas ke ranah global. "Pada hari ini (kemarin), Bahasa Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di dunia internasional sebagai jembatan pengetahuan antara negara," kata Menteri Mu’ti. Pernyataan ini menegaskan bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya relevan di dalam negeri, tetapi juga memiliki peran penting dalam pertukaran pengetahuan antar bangsa.
Perjalanan Panjang Bahasa Indonesia Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Bahasa Indonesia untuk mencapai titik ini bukanlah hal yang instan. Sejak Sumpah Pemuda pada tahun 1928, Bahasa Indonesia telah menjadi identitas dan alat perjuangan bangsa. Dari bahasa Melayu pasar, ia berevolusi menjadi bahasa nasional yang modern dan dinamis, mampu menyerap berbagai istilah dan konsep baru.
Upaya diplomasi budaya Indonesia selama bertahun-tahun telah memainkan peran krusial. Program-program pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di berbagai negara, promosi sastra dan seni Indonesia, serta partisipasi aktif dalam forum-forum kebudayaan internasional, semuanya berkontribusi pada pengakuan ini. Ini adalah buah dari investasi panjang dalam kebudayaan.
Bahasa Indonesia: Jembatan Pengetahuan Antar Negara
Status baru Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja UNESCO membuka banyak peluang. Bahasa ini kini dapat menjadi medium yang lebih efektif untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan gagasan dari Indonesia ke seluruh dunia. Sebaliknya, informasi dari negara lain juga dapat diakses dan disebarluaskan dalam Bahasa Indonesia.
Hal ini akan memperkaya khazanah keilmuan global dan meningkatkan visibilitas kontribusi Indonesia dalam berbagai bidang. Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga katalisator untuk kolaborasi internasional yang lebih erat. Ini adalah langkah maju dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam diplomasi ilmu pengetahuan dan budaya.
Menutup Pidato dengan Pesan Damai Universal
Menteri Mu’ti menutup pidatonya dengan pantun kedua yang tak kalah menyentuh dan penuh makna. "Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian," tandasnya. Pantun penutup ini bukan hanya sebuah pamit, melainkan sebuah pesan universal tentang persatuan dan perdamaian.
Pesan ini sangat relevan dengan misi UNESCO yang berupaya membangun perdamaian melalui kerja sama internasional di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya. Dengan Bahasa Indonesia sebagai jembatan, diharapkan semakin banyak negara yang dapat bergandengan tangan untuk menciptakan dunia yang lebih harmonis dan damai.
Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja UNESCO adalah sebuah pencapaian monumental yang patut dirayakan. Ini adalah bukti nyata kekuatan budaya dan bahasa Indonesia yang mampu menembus batas-batas geografis dan linguistik. Semoga dengan pengakuan ini, Bahasa Indonesia semakin dikenal, dipelajari, dan dihargai di seluruh penjuru dunia, membawa nama harum Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.


















