Sebuah video yang memperlihatkan momen tak biasa di jalan raya mendadak viral dan bikin geger jagat maya. Dalam rekaman tersebut, mobil yang ditumpangi Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 atau HB X terlihat disalip oleh rombongan kendaraan yang dikawal polisi, lengkap dengan sirene khas "tot tot wuk wuk", saat sedang berhenti di lampu merah. Kejadian ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, mempertanyakan etika dan aturan prioritas di jalan.
Momen Tak Terduga di Lampu Merah
Video berdurasi singkat itu berhasil merekam insiden yang terjadi di sebuah persimpangan jalan raya. Terlihat jelas mobil Lexus LM 350h berwarna hitam yang ditumpangi Sultan HB X, berhenti tertib bersama kendaraan lain menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Ini adalah pemandangan yang menunjukkan ketaatan seorang pemimpin daerah terhadap aturan lalu lintas.
Namun, ketertiban itu seketika terpecah ketika dari arah belakang, muncul sebuah mobil patwal polisi dengan sirene menyala. Mobil patwal tersebut kemudian mengawal beberapa kendaraan lain untuk menyalip barisan yang sedang berhenti, termasuk mobil Sri Sultan HB X. Momen ini lah yang kemudian diabadikan dan tersebar luas di media sosial, menjadi buah bibir.
Konfirmasi dari Pihak Kesultanan
Kehebohan di media sosial akhirnya sampai ke telinga pihak terkait. Koordinator Substansi Bagian Humas Biro Umum, Humas, dan Protokol Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa kendaraan yang terekam dalam video itu memang milik Sri Sultan HB X.
Menurut Ditya, insiden tersebut terjadi pada Rabu, 8 Oktober, saat Sultan HB X sedang mendampingi kunjungan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kunjungan penting ini berlangsung di Kelor, Karangmojo, Gunungkidul, sehingga Sultan menggunakan kendaraan pribadinya untuk mobilitas.
Ditya juga tidak menampik bahwa mobil Sultan HB X memang sempat berhenti di lampu merah dan kemudian disalip oleh rombongan yang dikawal patwal. Namun, ia belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai identitas rombongan yang melakukan penyalipan tersebut. Hal ini tentu saja menambah misteri dan pertanyaan di benak publik.
Siapa Sebenarnya Rombongan "Tot Tot Wuk Wuk" Itu?
Istilah "tot tot wuk wuk" sendiri sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Ini adalah sebutan populer untuk rombongan kendaraan yang menggunakan sirene dan rotator, seringkali dikawal oleh polisi, yang kerap melintas di jalan raya dengan prioritas khusus. Namun, penggunaan fasilitas ini seringkali menimbulkan pro dan kontra.
Banyak masyarakat merasa terganggu atau bahkan dirugikan oleh rombongan "tot tot wuk wuk" yang seolah memiliki hak istimewa di jalan. Terlebih lagi, tidak jarang rombongan tersebut dianggap menyalahgunakan prioritas, padahal tidak dalam kondisi darurat yang mendesak. Insiden penyalipan mobil Sultan HB X ini seolah menjadi puncak dari kegelisahan publik.
Kontroversi Pengawalan VIP dan Aturan Korlantas
Yang membuat insiden ini semakin menarik perhatian adalah konteks waktu kejadiannya. Jauh sebelum video ini viral, tepatnya pada Sabtu, 20 September, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri telah mengambil langkah tegas. Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho memutuskan untuk melakukan pembekuan sementara penggunaan sirene dan rotator yang disebut masyarakat sebagai "Tot Tot Wuk Wuk" dalam pengawalan di jalan raya.
Keputusan ini diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan sirene dan strobo saat pengawalan. Irjen Agus Suryonugroho menegaskan bahwa pengawalan tetap bisa berjalan, namun penggunaan sirene dan strobo harus dievaluasi. Jika memang tidak prioritas, sebaiknya tidak dibunyikan.
Artinya, insiden yang melibatkan mobil Sultan HB X ini terjadi setelah adanya instruksi pembekuan tersebut. Hal ini memicu pertanyaan besar: mengapa masih ada rombongan yang menggunakan sirene dan rotator untuk menyalip kendaraan lain, bahkan yang ditumpangi seorang kepala daerah sekalipun, di tengah kebijakan Korlantas yang sedang mengevaluasi ketat hal tersebut?
Reaksi Warganet: Antara Hormat dan Pertanyaan
Video yang diunggah oleh akun Threads @krisnaadipradana ini langsung dibanjiri komentar. Warganet mengungkapkan berbagai macam reaksi, mulai dari kekaguman terhadap kesederhanaan Sultan HB X yang mau berhenti di lampu merah, hingga kritik pedas terhadap rombongan yang menyalip. Banyak yang membandingkan sikap Sultan dengan rombongan yang seolah merasa paling penting.
Beberapa netizen menyoroti pentingnya etika berlalu lintas, bahkan bagi pejabat tinggi sekalipun. Mereka berpendapat bahwa aturan lalu lintas seharusnya berlaku untuk semua tanpa terkecuali, kecuali dalam kondisi darurat yang sangat mendesak. "Sultan saja antre, masa yang lain enggak?" begitu kira-kira sentimen yang banyak diungkapkan.
Ada pula yang mempertanyakan urgensi rombongan tersebut sehingga harus menyalip di lampu merah, apalagi setelah Korlantas mengeluarkan kebijakan pembekuan penggunaan sirene. "Ini kan sudah ada aturan baru, kok masih ada yang begini?" tulis seorang warganet, menyiratkan kebingungan dan kekecewaan.
Apa Kata Korlantas Sebelumnya?
Keputusan Korlantas Polri untuk membekukan sementara penggunaan sirene dan rotator pengawalan pada 20 September lalu bukanlah tanpa alasan. Kebijakan ini muncul setelah maraknya keluhan masyarakat terkait penyalahgunaan fasilitas prioritas di jalan raya. Banyak pihak yang merasa bahwa pengawalan VIP seringkali mengganggu kelancaran lalu lintas dan bahkan membahayakan pengguna jalan lain.
Irjen Agus Suryonugroho saat itu menjelaskan bahwa evaluasi ini bertujuan untuk memastikan penggunaan sirene dan strobo benar-benar sesuai dengan peruntukannya. Prioritas di jalan raya diatur dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009, yang secara jelas menyebutkan siapa saja yang berhak mendapatkan prioritas.
Namun, interpretasi dan implementasi di lapangan seringkali menjadi masalah. Kebijakan pembekuan ini diharapkan dapat menertibkan kembali penggunaan fasilitas pengawalan agar tidak disalahgunakan dan tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Insiden di Gunungkidul ini, sayangnya, justru kembali memicu perdebatan yang sama.
Mengapa Insiden Ini Penting?
Kasus mobil Sultan HB X yang disalip rombongan "tot tot wuk wuk" ini bukan sekadar video viral biasa. Ini adalah cerminan dari isu yang lebih besar mengenai budaya berlalu lintas, etika pejabat publik, dan penegakan hukum di Indonesia. Ketika seorang pemimpin yang dikenal bijaksana dan merakyat seperti Sultan HB X menunjukkan ketaatan pada aturan, namun justru disalip oleh rombongan yang seharusnya juga patuh, ini menjadi paradoks yang menarik.
Insiden ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya kesetaraan di mata hukum dan aturan, termasuk di jalan raya. Semoga kejadian ini bisa menjadi momentum bagi semua pihak, terutama para pemangku kebijakan, untuk lebih serius mengevaluasi dan menertibkan penggunaan fasilitas prioritas agar tidak lagi menimbulkan keresahan di masyarakat. Pada akhirnya, jalan raya adalah milik bersama, dan ketertiban adalah tanggung jawab kita semua.


















