Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terungkap! Persija Jakarta Terpaksa Ngungsi ke Solo, Laga Kandang Lawan PSBS Biak Tanpa Penonton

terungkap persija jakarta terpaksa ngungsi ke solo laga kandang lawan psbs biak tanpa penonton portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari kubu Persija Jakarta menjelang pekan ke-10 Super League 2025/2026. Tim berjuluk Macan Kemayoran ini dipastikan tidak bisa bermain di kandang sendiri, Jakarta, dan harus menjamu PSBS Biak di Stadion Manahan, Solo. Ironisnya, pertandingan krusial yang dijadwalkan pada Jumat, 31 Oktober ini akan digelar tanpa kehadiran suporter setia mereka, Jakmania.

Keputusan pahit ini diambil setelah manajemen Persija berjuang keras mencari stadion yang layak di sekitar Jakarta dan sekitarnya. Berbagai opsi, mulai dari Jakarta International Stadium (JIS), Stadion Pakansari di Bogor, hingga Banten Internasional Stadium, satu per satu kandas di tengah jalan. Sebuah drama panjang yang akhirnya memaksa Persija "mengungsi" jauh dari basis pendukungnya.

banner 325x300

Drama Pencarian Kandang: Dari Jakarta hingga Banten

Perjalanan Persija mencari markas untuk laga kandang melawan PSBS Biak ini penuh liku. Awalnya, Jakarta International Stadium (JIS) menjadi prioritas, namun kondisinya disebut tidak memungkinkan untuk digunakan. Ini tentu menimbulkan pertanyaan besar di kalangan penggemar, mengingat JIS adalah stadion megah yang diharapkan menjadi rumah baru bagi Macan Kemayoran.

Setelah JIS tak bisa dipakai, Persija beralih ke Stadion Pakansari, Bogor. Pihak pengelola Pakansari sebenarnya telah memberikan lampu hijau, namun dengan syarat pertandingan harus digelar sore hari. Sayangnya, operator liga, I League, menolak usulan tersebut dan tetap bersikukuh agar laga dimainkan pada malam hari.

Tak menyerah, manajemen Persija mencoba peruntungan di Banten Internasional Stadium. Pengelola stadion dan klub Dewa United juga telah memberikan izin penggunaan. Namun, lagi-lagi kendalanya sama: hanya bisa bermain sore, sementara I League tetap mewajibkan pertandingan berlangsung malam hari.

Mengapa Stadion Manahan Jadi Pilihan Terakhir?

Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan (Panpel) Persija, Tauhid ‘Ferry’ Indrasjarief, mengungkapkan bahwa waktu yang semakin mepet menjadi faktor utama di balik keputusan mendadak ini. Setelah semua opsi di sekitar Jakarta buntu, mereka langsung bergerak cepat menghubungi pengelola Stadion Manahan di Solo.

"Karena ini pertandingan sudah mepet, kami langsung ambil keputusan menghubungi Stadion Manahan. Jadi kami putuskan bermain di sana jam tujuh malam," kata Ferry, Selasa (28/10). Keputusan ini menunjukkan betapa gentingnya situasi yang dihadapi Persija dalam mencari stadion.

Lebih lanjut, dari kesepakatan bersama, diputuskan juga bahwa laga Persija vs PSBS Biak di Stadion Manahan akan digelar tanpa penonton. Alasan utamanya adalah keterbatasan waktu menuju pertandingan. Proses perizinan dan persiapan untuk menggelar pertandingan dengan penonton membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sehingga status tanpa penonton menjadi jalan keluar terakhir.

Misteri JIS dan Ketatnya Aturan I League

Kondisi Jakarta International Stadium (JIS) yang disebut "tidak memungkinkan" untuk digunakan Persija menjadi sorotan. Ketua Divisi Pembinaan Suporter I League, Budiman Dalimunthe, hanya menyebutkan bahwa JIS tidak bisa dipakai tanpa menjelaskan detail lebih lanjut. Hal ini tentu memicu spekulasi dan kekecewaan di kalangan Jakmania yang berharap bisa melihat tim kesayangan mereka berlaga di stadion kebanggaan ibu kota.

Di sisi lain, penolakan I League terhadap perubahan jadwal pertandingan dari malam ke sore juga bukan tanpa alasan. Budiman menjelaskan bahwa perubahan waktu pertandingan melibatkan banyak pihak. Mulai dari tim lawan, perangkat pertandingan, hingga yang paling krusial adalah hak siar televisi.

"Kalau mau pindah jam, kan ada beberapa pihak yang terlibat. Ada juga lawan bertanding, ada perangkat pertandingan, dan elemen-elemen lainnya," jelas Budiman. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi jadwal. "Jika memungkinkan memang harus sesuai jadwal. Karena kan, I League sekarang ini sudah dua tahun terakhir, jadwalnya sangat sesuai. Itu yang kita jaga kepercayaan dari semua mitra," tambahnya.

Dampak Besar Bagi Persija dan Suporter Setia

Relokasi mendadak ke Solo dan keputusan tanpa penonton ini tentu membawa dampak besar. Bagi Persija, ini berarti mereka harus menempuh perjalanan jauh dan beradaptasi dengan lingkungan baru dalam waktu singkat. Dukungan langsung dari Jakmania, yang seringkali menjadi "pemain ke-12" dan penyemangat utama, juga akan hilang.

Bagi Jakmania, kabar ini jelas sangat mengecewakan. Banyak dari mereka mungkin sudah merencanakan untuk datang ke stadion, entah di Jakarta, Bogor, atau Banten. Pembatalan ini tidak hanya merugikan secara emosional, tetapi juga finansial bagi mereka yang mungkin sudah membeli tiket atau merencanakan perjalanan.

Situasi ini juga bisa memengaruhi mental para pemain Persija. Bermain di kandang sendiri dengan dukungan penuh suporter adalah motivasi tersendiri. Bermain di stadion netral tanpa penonton bisa mengurangi semangat dan keuntungan sebagai tuan rumah.

Bukan Kali Pertama: Tantangan Stadion Persija yang Tak Kunjung Usai?

Masalah stadion bukan hal baru bagi Persija Jakarta. Dalam beberapa musim terakhir, Macan Kemayoran kerap kali kesulitan mendapatkan stadion permanen yang bisa menjadi markas mereka. Mereka sering berpindah-pindah, dari Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Stadion Wibawa Mukti Cikarang, hingga kadang harus bermain di luar Jakarta.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang infrastruktur sepak bola di Indonesia, khususnya untuk klub sebesar Persija. Sebuah klub dengan basis suporter masif dan sejarah panjang seharusnya memiliki akses yang lebih mudah terhadap stadion representatif. Tantangan ini seolah menjadi lingkaran setan yang terus menghantui.

Meskipun Jakarta memiliki beberapa stadion, koordinasi dan ketersediaan seringkali menjadi kendala. Hal ini menyoroti perlunya solusi jangka panjang yang komprehensif agar klub-klub besar tidak terus-menerus menghadapi masalah serupa di setiap musim.

Laga Krusial di Tanah Solo: Apa yang Diharapkan?

Terlepas dari segala drama di luar lapangan, pertandingan melawan PSBS Biak tetap menjadi laga krusial bagi Persija di Super League 2025/2026. Setiap poin sangat berarti dalam persaingan ketat liga. Bermain di Stadion Manahan, Solo, tanpa penonton, akan menjadi ujian mental dan strategi bagi pelatih dan para pemain.

PSBS Biak, sebagai tim tamu, mungkin akan melihat situasi ini sebagai keuntungan. Tekanan dari suporter tuan rumah tidak ada, sehingga mereka bisa bermain lebih lepas. Namun, Persija tentu akan berjuang keras untuk membuktikan bahwa mereka tetap tangguh, di mana pun mereka bermain.

Keputusan ini adalah pukulan telak bagi Persija dan Jakmania, namun juga menjadi pengingat akan kompleksitas pengelolaan liga dan infrastruktur olahraga. Semoga saja, di masa depan, masalah stadion bagi klub sebesar Persija Jakarta bisa segera menemukan titik terang yang permanen.

banner 325x300