Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terkuak! PSSI Blak-blakan Soal Minimnya Pemain Diaspora di Timnas U-17 Piala Dunia 2025

terkuak pssi blak blakan soal minimnya pemain diaspora di timnas u 17 piala dunia 2025 portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, CNN Indonesia — Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, akhirnya buka suara terkait alasan di balik jumlah pemain diaspora yang minim di skuad Timnas Indonesia U-17. Hanya empat nama yang terpilih untuk berlaga di Piala Dunia U-17 2025, memicu banyak pertanyaan dari publik.

PSSI sendiri telah merilis daftar 21 pemain pilihan pelatih Nova Arianto yang akan membela Garuda Muda di ajang bergengsi tersebut. Dari puluhan nama itu, hanya kiper Mike Rajasa, bek Lucas Lee dan Mathew Baker, serta gelandang Eizar Tanjung yang berstatus pemain diaspora.

banner 325x300

Mengapa Hanya 4 Pemain Diaspora? PSSI Buka Suara!

Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa PSSI tidak memaksimalkan potensi pemain keturunan Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia? Padahal, kehadiran mereka kerap kali menjadi angin segar bagi kualitas tim nasional di berbagai kelompok umur.

Arya Sinulingga menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar dalam proses naturalisasi untuk pemain U-17 dibandingkan dengan tim senior atau kelompok umur lainnya. Ini bukan sekadar masalah mencari pemain berbakat, melainkan terbentur regulasi yang sangat spesifik dan ketat.

Aturan Ketat Naturalisasi U-17 yang Bikin Pusing

"Nah ini, ini perlu saya jelaskan mengenai naturalisasi. Agak beda dengan senior, atau di U-23, atau U-20," terang Arya di Jakarta, Selasa (28/10). Ia menegaskan bahwa proses untuk pemain U-17 jauh lebih rumit dan penuh tantangan.

Kendala utama terletak pada syarat kewarganegaraan orang tua pemain. Untuk bisa dinaturalisasi di kelompok U-17, pemain tersebut harus memiliki salah satu orang tua yang memegang paspor Indonesia saat ia dilahirkan.

"Kenapa? Karena di U-17 itu masih susah kami untuk melakukan naturalisasi. Karena U-17 itu mereka, kalaupun dia harus berdarah Indonesia, dia harus orang tuanya punya paspor salah satunya Indonesia," jelas Arya. Ini menjadi poin krusial yang seringkali luput dari perhatian publik.

Sulitnya Melacak Dokumen Sejarah Orang Tua

Mencari tahu apakah salah satu orang tua pemain diaspora benar-benar memiliki paspor Indonesia pada momen kelahiran sang anak adalah pekerjaan yang tidak mudah. Proses verifikasi dokumen ini bisa memakan waktu sangat lama, bahkan seringkali tidak bisa dipenuhi.

"Nah ini yang susah. Apakah dulu waktu dia lahir, salah satu orang tuanya masih punya paspor Indonesia? Paspor dalam arti dokumentasinya betul. Kalau enggak, terpaksa nunggu lama," tambahnya. Situasi ini membatasi pilihan PSSI dalam merekrut pemain diaspora muda.

Karena kendala inilah, PSSI hanya mampu memproses empat pemain diaspora yang memenuhi kriteria ketat tersebut. Proses yang berbeda ini membuat PSSI tidak bisa serta-merta melancarkan perpindahan kewarganegaraan seperti yang mungkin diharapkan banyak pihak.

Beda Jauh dengan Tim Senior: Proses Naturalisasi yang Fleksibel

Arya Sinulingga juga menegaskan bahwa perbedaan proses ini harus dipahami dengan baik. Aturan yang berlaku untuk U-17 sangat berbeda dengan kelompok umur di atasnya, apalagi tim senior.

"Nah itu yang bisa kita proses untuk bermain di Piala Dunia sekarang ini. Jadi harus dipahami nih perbedaannya antara pemain yang U-17 sama yang di junior-senior," katanya. Ini menunjukkan bahwa setiap kelompok umur memiliki payung hukum yang berbeda dalam hal naturalisasi.

Sebagai perbandingan, proses naturalisasi untuk Timnas U-20, U-23, dan tim senior jauh lebih fleksibel. "Kalau U-20 misalnya udah bisa kami naturalisasi. Di U-23 apalagi senior sudah bisa naturalisasi. Tapi kalau yang U-17 nggak bisa begitu saja," pungkas Arya.

Perjalanan Timnas U-17 di Piala Dunia 2025: Grup Neraka Menanti!

Terlepas dari tantangan dalam merekrut pemain diaspora, Timnas Indonesia U-17 kini fokus penuh pada persiapan Piala Dunia U-17 2025. Ajang akbar ini dijadwalkan berlangsung di Qatar mulai 3 November hingga 27 November mendatang.

Skuad asuhan Nova Arianto tergabung di Grup H, sebuah grup yang bisa dibilang ‘neraka’ karena dihuni tim-tim kuat. Indonesia akan bersaing dengan raksasa sepak bola Brasil, serta dua tim tangguh lainnya, Honduras dan Zambia.

Seluruh pertandingan fase grup Garuda Muda akan digelar di Aspire Zone, Al Rayyan, Qatar. Ini menjadi panggung besar bagi para pemain muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka di kancah internasional.

Jadwal Berat di Fase Grup

Timnas Indonesia U-17 akan mengawali petualangan mereka dengan menghadapi Zambia pada 4 November. Tiga hari berselang, tantangan lebih berat menanti saat mereka harus berhadapan dengan tim kuat Brasil pada 7 November.

Sebagai penutup fase grup, Indonesia akan melawan Honduras pada 10 November. Setiap pertandingan akan menjadi ujian berat, namun juga kesempatan emas bagi para pemain untuk menimba pengalaman berharga.

Persiapan Matang Nova Arianto: Uji Tanding dan Evaluasi

Saat ini, anak asuh Nova Arianto masih dalam masa uji tanding intensif guna memantapkan strategi dan kekompakan tim sebelum tampil di Piala Dunia U-17 2025. Serangkaian pertandingan persahabatan telah dan akan dijalani untuk mengukur kekuatan dan kelemahan tim.

Sebelumnya, Timnas Indonesia U-17 telah menghadapi Paraguay dan harus menelan kekalahan. Mereka kemudian berhasil meraih hasil imbang saat melawan Pantai Gading, menunjukkan peningkatan performa dan adaptasi tim.

Uji tanding selanjutnya yang tak kalah penting adalah melawan Panama pada Rabu (29/10). Pertandingan ini akan menjadi salah satu evaluasi terakhir bagi Nova Arianto untuk menentukan komposisi terbaik dan strategi pamungkas yang akan diterapkan di Qatar.

Harapan Besar untuk Garuda Muda di Kancah Dunia

Meski dihadapkan pada kendala regulasi naturalisasi dan grup yang berat, semangat Timnas Indonesia U-17 tak boleh padam. Dukungan penuh dari masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan untuk memotivasi para pemain muda ini.

PSSI, melalui Arya Sinulingga, telah memberikan penjelasan transparan mengenai situasi pemain diaspora. Kini saatnya kita fokus pada perjuangan Garuda Muda di Piala Dunia U-17 2025, berharap mereka bisa memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama bangsa.

banner 325x300