Dunia bulutangkis Indonesia dikejutkan dengan sebuah keputusan berani dari salah satu bintang tunggal putra andalannya, Anthony Sinisuka Ginting. Bukan mundur, Ginting justru memilih jalan yang tak biasa demi kembali ke performa terbaiknya. Ia berencana mengikuti seluruh rangkaian turnamen BWF pada musim 2026, namun dengan satu strategi mencolok: memulai dari level turnamen Super 300 terlebih dahulu.
Langkah ini bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah manuver strategis yang diperhitungkan matang. Tujuannya jelas, yakni untuk mendongkrak peringkat dunia yang saat ini masih berada di posisi ke-58. Sebuah posisi yang tentu saja jauh dari harapan bagi seorang pemain sekaliber Ginting yang pernah merajai papan atas dunia.
Mengapa Harus "Turun Kasta"? Memahami Sistem Peringkat BWF
Keputusan untuk memulai dari turnamen level bawah ini diungkapkan langsung oleh pelatih tunggal putra Indonesia, Indra Widjaja. Menurut Indra, strategi ini diambil setelah mempertimbangkan sistem ranking BWF yang kompleks. Sistem ini mengharuskan setiap atlet memiliki poin yang cukup untuk bisa tampil di turnamen level atas, seperti Super 750 atau Super 1000.
Saat seorang atlet memiliki peringkat yang rendah, kesempatan untuk langsung masuk ke turnamen bergengsi sangatlah kecil. Mereka akan terganjal oleh daftar tunggu atau kualifikasi yang ketat. Oleh karena itu, Ginting harus membangun kembali pondasi poinnya dari turnamen yang lebih rendah agar peluang naik peringkat menjadi lebih besar dan konsisten.
Perjalanan Poin yang Berliku: Dari Super 300 Menuju Puncak
Indra Widjaja menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana turnamen Ginting di tahun depan. "Tahun depan full turnamen, dia [Ginting] akan turun di 300 dulu," kata Indra, mengutip dari Detik. Ini menunjukkan komitmen penuh Ginting untuk berjuang dari bawah.
Urutan turnamen BWF yang akan datang, seperti Malaysia (Super 1000), India (750), Indonesia (500), dan Thailand (300), menjadi pertimbangan utama. Dengan peringkatnya saat ini, Ginting kemungkinan besar hanya bisa langsung masuk ke turnamen Indonesia Masters (Super 500) dan Thailand Open (Super 300). Jika bahkan Indonesia Masters pun tidak bisa ditembus, Thailand Open menjadi satu-satunya pilihan realistis.
"Kalau sampai Indonesia Masters enggak masuk, berarti dia di Thailand karena 300 pasti masuk. Memang harus begitu. Kalau enggak, ya rankingnya enggak akan naik," tegas Indra. Ini bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya jalan agar peringkat Ginting bisa kembali meroket secara signifikan.
Tantangan Mental dan Fisik: Berjuang dari Bawah Lagi
Bagi seorang atlet yang pernah merasakan manisnya podium juara di turnamen-turnamen besar, kembali berkompetisi di level yang lebih rendah tentu bukan hal mudah. Ada tantangan mental yang besar untuk tetap termotivasi dan fokus, meskipun lawan yang dihadapi mungkin tidak sepopuler atau sekuat di level atas. Namun, ini adalah bagian dari proses yang harus dilalui.
Peringkat ke-58 dunia per 23 Desember 2025 adalah sebuah realita yang harus dihadapi Ginting. Posisi ini tentu jauh dari level ideal bagi seorang pemain yang sebelumnya pernah menembus jajaran elit tunggal putra dunia. Namun, justru di sinilah letak kekuatan tekad seorang juara diuji.
Optimisme Sang Pelatih: Potensi Comeback yang Kuat
Meskipun dihadapkan pada situasi yang menantang, Indra Widjaja tetap optimistis anak asuhnya mampu memperbaiki peringkat sepanjang 2026. Ia menilai peluang itu masih terbuka lebar jika Ginting konsisten mengikuti turnamen dan mengumpulkan poin secara bertahap. Ini adalah sebuah maraton, bukan sprint.
"Sekarang itu turnamen-nya kurang, poin-nya juga kecil. Harapan targetnya nanti di bulan ke-enam saat Indonesia Open, dia sudah bisa ikut. Target kami ke sana. Bahkan All England saja belum tentu. Karena 1000 kan?" kata Indra, menggambarkan betapa panjangnya jalan yang harus ditempuh Ginting.
Semangat Juang Ginting yang Tak Padam
Lebih dari sekadar strategi teknis, Indra juga menyoroti aspek mental dan semangat juang Ginting. Menurutnya, Ginting masih memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk kembali ke performa terbaiknya. Ini adalah modal utama yang tak ternilai harganya.
"Kalau perkembangan Ginting, dari latihan, kemauannya, saya bilang, anak ini masih berpotensi untuk comeback gitu ya. Tunggu waktu kalau menurut saya," ujar Indra dengan penuh keyakinan. "Karena apa? Kesungguhannya, disiplinnya, kemauan latihannya, itu masih ada."
Indra menambahkan, "Kecuali saya melihat anak ini sudah, ya itu [ogah-ogahan] sudah saya enggak bisa ngomong deh. Tapi dia enggak, makanya saya masih optimis, Ginting masih bisa." Dukungan penuh dari pelatih ini menjadi suntikan motivasi bagi Ginting untuk terus berjuang.
Keputusan Ginting untuk "turun kasta" ini bukan tanda menyerah, melainkan sebuah langkah strategis yang penuh perhitungan. Ini adalah bukti bahwa seorang juara sejati tidak takut memulai dari bawah lagi demi mencapai puncak yang lebih tinggi. Kita tunggu saja bagaimana Ginting akan menuliskan babak baru dalam kariernya di musim 2026, berjuang dari turnamen level bawah demi kembali mengukir sejarah di panggung bulutangkis dunia.


















