Mohamed Salah, ikon yang selama ini menjadi mesin gol tak terbendung bagi Liverpool, kini justru menjadi sorotan. Performa ‘Raja Mesir’ itu mendadak menurun drastis, seolah kehilangan sentuhan magisnya yang dulu selalu memukau. Para penggemar The Reds pun bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan sang penyerang andalan mereka?
Sang Raja Mesir yang Kehilangan Magisnya
Musim ini, Salah tak lagi menakutkan seperti biasanya di lini depan. Dengan hanya lima gol dari 17 laga di semua kompetisi, statistik ini jauh dari ekspektasi seorang pencetak gol ulung sekelas dirinya. Angka tersebut jelas bukan yang diharapkan dari seorang bintang yang pernah bersaing memperebutkan gelar top skor.
Sejak mencetak gol terakhirnya ke gawang Aston Villa pada 1 November, Salah seolah mandul di depan gawang lawan. Empat pertandingan beruntun tanpa gol, termasuk di laga krusial Liga Champions dan Liga Inggris, menjadi bukti nyata kemerosotan performanya. Ia gagal mencatatkan namanya di papan skor saat melawan Manchester City, Nottingham Forest, Real Madrid, hingga PSV Eindhoven.
Liverpool pun merasakan dampak langsung dari menurunnya ketajaman sang bintang. Kekalahan telak 1-4 dari PSV Eindhoven di Liga Champions menjadi puncak gunung es dari rentetan hasil buruk yang mereka alami. Momen tersebut semakin memperparah luka yang sudah ada di hati para suporter.
Krisis Liverpool yang Makin Parah
Situasi The Reds memang sedang kritis dan mengkhawatirkan di berbagai kompetisi. Dalam 12 laga terakhir, mereka hanya mampu meraih tiga kemenangan saja, sebuah rekor yang sangat buruk bagi tim sekelas Liverpool. Tekanan besar kini menghampiri manajer dan seluruh jajaran tim.
Di Liga Champions, posisi mereka memang masih di zona knock out, namun sangat rawan terlempar kapan saja. Jarak tiga poin dengan peringkat 25 menunjukkan betapa ketatnya persaingan di grup tersebut, membuat setiap laga sisa menjadi penentu nasib. Liverpool harus segera menemukan kembali performa terbaiknya jika tak ingin tersingkir lebih awal.
Parahnya lagi, di Liga Inggris, Liverpool sudah terlempar dari posisi 10 besar klasemen. Ini adalah alarm bahaya yang sangat keras bagi manajemen dan juga para pemain, mengingat target mereka di awal musim adalah bersaing memperebutkan gelar juara. Posisi ini tentu saja jauh di bawah standar klub sebesar Liverpool.
Alexander-Arnold: Kunci yang Hilang dari Sisi Kanan?
Banyak pihak mulai mengaitkan penurunan performa Mohamed Salah dengan satu nama kunci: Trent Alexander-Arnold. Bek kanan andalan yang selama ini menjadi tandem setianya di sisi kanan penyerangan, kini sudah tidak lagi berseragam Liverpool. Kepergiannya diduga menjadi biang keladi di balik kemerosotan Salah.
Alexander-Arnold dikenal dengan umpan-umpan silang akurat dan penetrasi agresifnya yang mematikan. Kehadirannya selalu menciptakan ruang terbuka yang luas bagi Salah untuk berkreasi, melakukan cut-inside, dan mengancam gawang lawan dengan tembakan kaki kirinya yang mematikan. Mereka berdua memiliki chemistry yang luar biasa.
Kini, ketiadaan sosok tersebut benar-benar terasa dampaknya di lapangan. Sisi kanan Liverpool seolah kehilangan daya ledaknya, dan Salah pun jadi kesulitan menemukan ritme permainannya yang dulu. Ia kehilangan "pelayan" yang selalu siap memberikan suplai bola-bola matang.
Dilema Bek Kanan dan Dampaknya pada Salah
Liverpool sebenarnya sudah mendatangkan Jeremie Frimpong sebagai pengganti Alexander-Arnold yang hengkang. Namun, nasib berkata lain, Frimpong justru harus menepi karena cedera tak lama setelah kedatangannya. Ini menjadi pukulan telak bagi rencana adaptasi tim.
Akibatnya, posisi bek kanan Liverpool kini belum punya pemilik tetap yang konsisten. Rotasi pemain di posisi ini membuat chemistry dan pola serangan di sisi kanan menjadi tidak konsisten, bahkan cenderung stagnan. Setiap pemain memiliki gaya bermain yang berbeda, sehingga sulit untuk membangun pemahaman yang solid.
Inilah yang kemudian turut mempengaruhi kinerja Mohamed Salah di lapangan secara signifikan. Ia kehilangan support dan juga ‘pelayan’ yang selama ini memanjakannya dengan umpan-umpan matang dan pergerakan tanpa bola yang cerdas. Salah kini sering terlihat terisolasi di sisi kanan, kesulitan mendapatkan bola di posisi idealnya.
Masa Depan Liverpool dan Mohamed Salah: Akankah Bangkit?
Pertanyaan besar kini menghantui para penggemar setia Liverpool di seluruh dunia. Bisakah tim ini bangkit dari keterpurukan yang mendalam ini? Dan mampukah Mohamed Salah kembali menemukan ketajamannya yang dulu ditakuti lawan?
Manajemen harus segera menemukan solusi konkret untuk posisi bek kanan yang krusial ini. Kehadiran pemain yang solid, konsisten, dan bisa berkolaborasi apik dengan Salah adalah sebuah keharusan mutlak jika mereka ingin kembali ke jalur kemenangan. Mungkin bursa transfer musim dingin adalah jawabannya.
Jika tidak, bukan tidak mungkin krisis ini akan terus berlanjut hingga akhir musim. Dan mimpi Liverpool untuk meraih gelar juara musim ini, baik di Liga Inggris maupun Liga Champions, bisa jadi hanya tinggal angan-angan belaka yang tak akan pernah terwujud. Tekanan kini ada di pundak seluruh tim untuk menemukan jalan keluar.
Penurunan performa Mohamed Salah bukan hanya masalah individu semata, melainkan cerminan dari masalah struktural yang lebih dalam di Liverpool. Kehilangan Trent Alexander-Arnold ternyata meninggalkan lubang yang sangat besar, lebih dari yang dibayangkan banyak orang. Hanya waktu yang akan menjawab, apakah Liverpool dan Salah bisa menemukan kembali jalan kemenangan mereka dan mengakhiri musim ini dengan kepala tegak.


















